Liputan6.com, Jakarta Band Prison Of Blues baru saja merilis album ke-4 'Born to Kill' yang bermaterikan 15 lagu, dalam format digital, CD, dan vinyl. Mereka kembali menunjukkan eksistensinya di jagad musik Indonesia.
Ada sosok menarik di balik kiprah band psychobilly asal Temanggung yang sukses beberapa kali menggelar puluhan tur di Eropa yakni sang gitaris, Bayu Randu. Pria kelahiran Temanggung ini berbagi pengalamannya saat puluhan kali menggelar tur di Eropa bersama bandnya Prison of The Blues, terutama soal bagaimana tata kelola royalti menyangkut pertunjukan musik.
Advertisement
Dalam sesi temu wartawan beberapa waktu yang lalu, Bayu mengaku terkesan dengan cara mengelola royalti pertunjukan di Eropa. Ia menyebut bahwa di Eropa sudah sistematik, jadi tidak perlu ribut-ribut.
"Waktu kami tur di Eropa semua sudah pakai sistem, penyelenggara acara sudah menyodorkan form, jadi kita tinggal isi song list, jumlah lagunya berapa?, judul lagunya apa?, dan siapa penciptanya. Nanti pihak penyelenggara atau promotor yang akan bayar royaltinya, jadi bukan kita sebagai band pengisi acara, sesimpel itu di sana. Tapi kalau kita tiba-tiba nyanyiin lagu orang di luar song list yang sudah diajukan nah kita bisa kena itu," kata Bayu di Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Tata Kelola Royalti
Saat disinggung soal sikapnya tentang tata kelola royalti live event di Indonesia, Bayu Randu menambahkan, "Saya pribadi sih berada di tengah ya, saya tidak masuk dalam kubu-kubuan, saya serahkan ke sistem dan undang-undang yang berlaku, jadi kalau memang LMK atau LMKN yang mengelola ya kita serahkan mereka," lanjut bayu.
Sementara itu, Eet Sjahranie dan Ari Padi Reborn mengamini apa yang diucapkan oleh Bayu Randu. Mereka lebih memilih menyerahkan ke sistem dan undang-undang yang berlaku saat ini.
"Kalau saya sih sama ya dengan Bayu, kita serahkan ke sistem daripada izin satu-satu terlalu repot, kalau aku sih gitu ya," kata Eet Sjahranie, Gitaris sekaligus founder Edane.
Dibenahi
Senada dengan Eet dan Bayu, Ari Padi juga mengatakan hal sama." Prinsipnya sih harus dibenahi ya, di kami sendiri ada 2 kubu ya, Piyu Ketua Umum AKSI dan satu lagi Visi, tapi kami di Padi menunggu keputusan pemerintah seperti apa. Tapi saya setuju sekali dengan sistem di Eropa yang diucapkan Bayu tadi ya, bisa dijadikan contoh dan diterapkan di sini," kata Ari.