Warga AS Terpikat Rasa Khas Kopi Indonesia

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menggelar rangkaian kunjungan kerja ke Amerika Serikat (AS) pada 7-15 Juni 2013.

oleh NurmayantiDiterbitkan 11 Juni 2013, 11:02 WIB
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Bayu Krisnamurthi menggelar rangkaian kunjungan kerja ke Amerika Serikat (AS) pada 7-15 Juni 2013. Di negara ini, Bayu berkesempatan mengunjungi pameran Coffee Fest di Navy Pier Chicago yang juga terdapat gerai kopi Indonesia.

Menurut Wamendag, masyarakat Amerika Utara termasuk Amerika Serikat menaruh minat yang tinggi terhadap beberapa jenis speciality coffee Indonesia seperti kopi Mandailing, Gayo, dan Lintong dari Sumatera; kopi Bajawa dari Flores; kopi Kintamani dari Bali; kopi Toraja dan Celebes dari Sulawesi; serta kopi Wamena dari Papua.

Selain itu, konsumen di pasar Amerika saat ini juga terdapat kecenderungan peningkatan kopi organik dan fair trade

“Masyarakat setempat juga semakin memahami speciality coffee Indonesia yang beragam, dan hal ini terlihat dari tumbuhnya permintaan kopi Indonesia di AS tahun lalu sebesar 20%,” jelasnya.

Dia menuturkan para importir Amerika mengharapkan tambahan pasokan jenis-jenis kopi tersebut dan kemungkinan untuk mendapatkan jenis-jenis kopi yang lain.

“Diperkirakan saat ini, pasokan kopi jenis khusus tersebut telah mencapai 40% dari kopi yang diimpor AS dari Indonesia,” jelasnya.

Ekspor kopi Indonesia ke AS dalam 3 tahun terakhir mencapai US$ 400 juta dari total ekspor kopi Indonesia yang mencapai sekitar US$ 1 miliar.

Konsumen AS menyukai kopi Indonesia terutama karena rasanya yang khas, sifatnya yang spesial dan eksotis, serta variasi yang beragam, baik jenis kopi maupun penyajian terutama penyajian model seduh.

Pemasaran yang dilakukan melalui cafe-cafe ternama dan pendekatan door to door ke perusahaan importir dinilai cukup efektif.

Selain ke Chicago, Wamendag juga berkunjung ke Cafe Kopi-Kopi yang berlokasi di New York. Di New York, cafe ini merupakan cafe pertama yang dimiliki oleh orang Indonesia dan hanya menyajikan kopi asli Indonesia. "Cafe ini juga hadir di Coffee Fest Chicago atas fasilitasi Kemendag," imbuh Wamendag.

Pemilik Cafe Kopi-Kopi, Elizabeth Lapadula, mengatakan produk kopi organik dan kopi yang berasal dari daerah tertentu dengan cita rasa yang khas (specialty) sangat diminati di pasar AS.

Wamendag mengutarakan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan untuk bisa memasuki pasar AS, yaitu jaringan yang kuat dengan sesama cafe; kerja sama dengan importir kopi green-bean, perusahaan roaster, dan para barista; serta pemasaran yang tepat bagi masyarakat AS.

Hal senada pun diungkapkan Ketua American Indonesia Chamber of Commerce Wayne Forrest yang melihat cerahnya pasar kopi Indonesia di Amerika Utara termasuk Amerika Serikat.

Wamendag menuturkan masih banyak konsumen AS yang menggunakan istilah "java" untuk menyebut kopi khusus berkualitas tinggi.

Seperti jika mereka ingin menyebut kopi khusus dari negara lain seperti Nikaragua, konsumen AS akan menyebutnya Nicaragua-Java. “Ini mencerminkan kopi Indonesia, yang identik dengan “java”, dinilai berkualitas tinggi oleh masyarakat AS,” terangnya.(Nur)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya