Liputan6.com, Jakarta - Pendidikan sejati bukan hanya perkara mengasah logika atau menumpuk gelar, tetapi juga menyentuh ruang terdalam dalam diri manusia: hati, nurani, dan panggilan untuk melayani. Prinsip inilah yang kembali ditegaskan oleh Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-7 yang berlangsung di Hotel Aston Kupang, Senin (30/6/2025).
Sebanyak 149 sarjana dari sembilan program studi secara resmi dikukuhkan sebagai lulusan IAKN Kupang. Mereka bukan sekadar calon guru, konselor, atau pemimpin gereja, tetapi utusan yang diperlengkapi untuk menjadi terang bagi masyarakat, pelayan yang tangguh di tengah krisis nilai, dan penyambung harapan di tengah ketidakadilan sosial.
Advertisement
“Pendidikan tidak hanya soal otak, tapi juga soal hati. Kita membentuk manusia seutuhnya – cerdas, berintegritas, dan peka terhadap penderitaan sesama,” ujar Rektor IAKN Kupang, Dr. I Made Suardana, M.Th.
Ia menekankan bahwa kampus ini tidak sekadar tempat belajar teori, melainkan ruang pembentukan karakter, spiritualitas, dan identitas diri.
Dalam suasana penuh haru dan sukacita, acara wisuda menghadirkan berbagai tokoh penting dari pemerintahan, TNI/Polri, dan lembaga gerejawi, serta para pendiri kampus yang menyaksikan langsung buah dari perjuangan mereka bertahun-tahun lalu. Rangkaian prosesi adat, orasi ilmiah, hingga penghormatan kepada orang tua menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah perjalanan bersama—penuh cinta, pengorbanan, dan keyakinan.
Orasi ilmiah bertajuk 'Hospitalitas Intensional' yang disampaikan oleh Dr. Oscar Lumban Tobing, M.Th semakin memperkuat pesan moral dan spiritual wisuda ini. Ia menekankan pentingnya nilai-nilai inklusi, empati, dan pelayanan lintas iman sebagai bentuk nyata dari moderasi beragama. Lulusan IAKN Kupang, menurutnya, tidak boleh puas hanya menjadi 'baik', tapi harus hadir sebagai 'berkat'.
Role Model
Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Prof. Dr. Adrianus Amheka, dalam sambutannya menyebut IAKN Kupang sebagai role model pendidikan berbasis nilai di Indonesia Timur.
“IAKN adalah oase bagi mereka yang ingin belajar bukan hanya menjadi pintar, tapi menjadi benar dan berguna,” katanya.
Lulusan terbaik dari berbagai program studi tampil menyampaikan pesan dan kesaksian. Mereka tidak hanya mengucap syukur atas gelar yang diraih, tetapi juga menyampaikan komitmen untuk mengabdi.
“Hari ini bukan akhir, melainkan awal dari misi baru. Kami siap melayani,” tutur Marse Kale Uke, S.Pd, lulusan terbaik dari Program Studi Manajemen Pendidikan Kristen.