Brighton: Jago Jual Pemain, tapi Bukan Kolektor Trofi

Klub ini punya reputasi sebagai 'pabrik pemain' yang rutin menghasilkan nama-nama berkualitas dengan nilai jual tinggi. Namun, untuk urusan trofi juara...

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 01 Juli 2025, 10:29 WIB
Pemain Brighton, Joao Pedro (tengah) melakukan selebrasi di depan para pendukung timnya setelah mencetak gol ke gawang Marseille pada laga terakhir Grup B Liga Europa 2023/2024 di American Express Community Stadium, Brighton, Inggris, Jumat (15/12/2023). (AP Photo/Ian Walton)

Liputan6.com, Jakarta Brighton dikenal luas karena kepiawaiannya dalam berbisnis ketimbang menumpuk trofi. Klub ini punya reputasi sebagai 'pabrik pemain' yang rutin menghasilkan nama-nama berkualitas dengan nilai jual tinggi.

Salah satu contohnya adalah Joao Pedro, penyerang asal Brasil yang kabarnya bakal merapat ke Chelsea. Nilai transfernya diklaim mencapai £60 juta, atau sekitar Rp1,26 triliun.

Ini bukan pertama kalinya Chelsea memborong pemain dari Brighton. Sejak 2022, sudah tiga nama yang diboyong dari AMEX Stadium ke Stamford Bridge.


Jual Pemain, Cuan Mengalir Deras

Striker Brighton asal Brasil #09 Joao Pedro (tengah) berebut bola dengan gelandang Nottingham Forest asal Inggris #22 Ryan Yates (kiri) selama pertandingan perempat final Piala FA Inggris antara Brighton & Hove Albion dan Nottingham Forest di Stadion Amex, Brighton, pada Minggu (30/3/2025) dini hari WIB. (Glyn KIRK / AFP)

Sebelumnya, sudah ada Marc Cucurella, Moises Caicedo, dan Robert Sanchez yang lebih dulu hijrah ke Chelsea. Nama-nama itu membuktikan Brighton punya mata tajam dalam merekrut dan mengembangkan pemain.

Jika digabungkan dengan Joao Pedro, empat pemain tersebut ditebus dengan total £263 juta, atau setara dengan Rp5,55 triliun. Brighton untung besar dari strategi beli murah, jual mahal.

Namun, keuntungan finansial itu belum berbanding lurus dengan prestasi di atas lapangan. Brighton memang berkembang secara struktur, tapi belum jadi raja di kompetisi utama.


Koleksi Trofi yang Sederhana

Brighton mencetak gol ketiga dua menit sebelum waktu normal habis. Denis Undav menjebol gawang Chelsea dari jarak dekat usai menerima umpan matang Joao Pedro. Gol ini menjadi penutup dan laga tuntas untuk kemenangan Chelsea 4-3. (Tim Nwachukwu/Getty Images/AFP)

Dari segi sejarah, Brighton belum pernah menjuarai kasta tertinggi sepak bola Inggris. Pencapaian terbaik mereka adalah runner-up Divisi Dua atau Championship pada musim 1978/79 dan 2016/17.

Mereka pernah naik podium di divisi ketiga dan keempat kompetisi Inggris, dengan gelar juara pada musim 1957/58, 2001/02, 2010/11, dan 1964/65. Namun, semua itu tentu masih jauh dari level Premier League.

Di level cup, prestasi mereka juga belum menonjol. Brighton pernah menjadi finalis FA Cup pada 1982/83, di mana mereka kalah dari Manchester United, dan menjuarai FA Charity Shield dengan menaklukkan Aston Villa 1-0 pada 1910.


Brighton: Klub Ambisius dengan Rencana Panjang

Selebrasi Kaoru Mitoma dalam laga Premier League antara Brighton vs Liverpool, Selasa (20/5/2025). (AP Photo/Ian Walton)

Brighton memang bukan klub yang menargetkan juara dalam waktu dekat. Namun, mereka punya arah jelas dengan model bisnis berkelanjutan.

Menempa pemain muda, mengorbitkan mereka, lalu menjual di waktu yang tepat—itulah cara Brighton bertahan dan tumbuh. Ini juga jadi magnet bagi pemain muda yang ingin berkembang.

Meski lemari trofi mereka belum mentereng, Brighton jadi contoh klub modern yang efisien dan rasional. Siapa tahu, suatu saat nanti, trofi bergengsi benar-benar mampir ke AMEX Stadium.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya