Daftar Lengkap Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, Ada Karya Sasti Gotama Hingga Cicilia Oday

Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa yang digelar di Jakarta, Sabtu (28/6/2025) memfiturkan tiga kategori, yaitu untuk buku kumpulan cerpen, novel, dan puisi.

oleh Wayan DianantoDiterbitkan 30 Juni 2025, 20:30 WIB
Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa yang digelar di Jakarta, Sabtu (28/6/2025) memfiturkan tiga kategori, yaitu untuk buku kumpulan cerpen, novel, dan puisi. (Foto: Dok. Tim Kusala Sastra Khatulistiwa 2025)

Liputan6.com, Jakarta Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 atau KSK 2025 digelar di Jakarta, Sabtu (28/6/2025) malam. Ajang ini dihelat Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI), Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Direktur Program Kusala Sastra Khatulistiwa, Gema Laksmi Mawardi, menjelaskan ada tiga kurator program yaitu Eka Kurniawan, Hasan Aspahani, dan Nezar Patria untuk memberi arah sekaligus koridor penyelenggaraan KSK tahun ini.

Penghargaan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu untuk buku kumpulan cerpen, novel, dan puisi. Buku-buku yang dinilai adalah karya berbahasa Indonesia rilisan sepanjang 2024. Hadiah untuk pemenang masing-masing kategori Rp75 juta.

Selain itu ada hadiah berupa pembelian buku pemenang senilai Rp25 juta. Pemenang KSK 2025 juga menerima Trofi Kusala Sastra Khatulistiwa. Menilik daftar pemenang, ada Sasti Gotama hingga Cicilia Oday.


Djoko Saryono Ketua Dewan Juri

Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa yang digelar di Jakarta, Sabtu (28/6/2025) memfiturkan tiga kategori, yaitu untuk buku kumpulan cerpen, novel, dan puisi. (Foto: Dok. Tim Kusala Sastra Khatulistiwa 2025)

Lewat pernyataan tertulis yang diterima Showbiz Liputan6.com, Senin (30/6/2025), Dewan Juri Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 diketuai Djoko Saryono dengan anggota Kurnia Effendi, Asep Subhan, Ni Made Purnama Sari, dan Inggit Putria Marga.

Berikut daftar pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025:

 

Kategori Cerpen: Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu karya Sasti Gotama.

Kategori Novel: Duri dan Kutuk karya Cicilia Oday.

Kategori Puisi: Hantu Padang karya Esha Tegar Putra.

 

 


Mengenang Tokoh Sastra

Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa yang digelar di Jakarta, Sabtu (28/6/2025) memfiturkan tiga kategori, yaitu untuk buku kumpulan cerpen, novel, dan puisi. (Foto: Dok. Tim Kusala Sastra Khatulistiwa 2025)

Selain pengumuman pemenang, anugerah KSK mengenang tokoh-tokoh sastra yang telah berpulang dengan meninggalkan jejak indah dalam sastra Indonesia. Mereka adalah Richard Oh, penggagas dan penyelenggara KSK selama dua dekade.

Ada pula Hamsad Rangkuti penerima Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2003, Sapardi Djoko Damono pemenang KLA 2004, Gunawan Maryanto pemenang KLA 2010, Remy Sylado pemenang KLA 2002, Joko Pinurbo pemenang KLA 2005 dan 2015.

 


Richard Oh memulai KSK

Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa yang digelar di Jakarta, Sabtu (28/6/2025) memfiturkan tiga kategori, yaitu untuk buku kumpulan cerpen, novel, dan puisi. (Foto: Dok. Tim Kusala Sastra Khatulistiwa 2025)

Ketua YRKI, Pratiwi Juliani pun memberi catatan khusus. Lewat KSK tahun ini, pihaknya ingin mengenang sosok yang menggagas dan ikhlas tanpa pamrih melaksanakan gelaran ini selama 20 tahun sebagai wujud cinta pada keindahan sastra Indonesia.

“Pada 2001, Richard Oh memulai KSK, penghargaan untuk buku-buku terbaik karya sastrawan Indonesia. Tentu, ia tak sendiri. Kala itu dukungan terbesar didapat dari sahabatnya Takeshi Ichiki, dan kawanan sastrawan, seniman hingga pelaku film,” kata Pratiwi Juliani.

“Dengan berkumpulnya orang-orang tulus untuk KSK di bawah YRKI, kami mengerjakan sejumlah pembenahan antara lain pemberian penghargaan ditetapkan jadi tiga kategori yaitu buku kumpulan puisi, kumpulan cerita pendek, dan novel,” imbuhnya.

Hadiah tiap kategori pun hasil pembenahan tim di bawah YRKI. Dengan bantuan dari Kementerian Kebudayaan RI melalui Dana Indonesiana dan para sponsor, apresiasi tersebut diharapkan berdampak positif terhadap penulis maupun ekosistem sastra Tanah Air.

 

 

 

Buku populer di Indonesia dari masa ke masa sudah berkembang sebelum era kemerdekaan. (Dok: Liputan6.com/Trie Yasni)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya