Liputan6.com, Jakarta Bank DBS Indonesia mengalokasikan pendanaan senilai SGD 2 juta atau sekitar Rp24 miliar melalui skema blended finance, solusi pendanaan tanpa jaminan. Data dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP Kemenkeu) per Oktober 2024 menyebutkan bahwa dari sekitar 65 juta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia, sekitar 44 juta di antaranya belum memiliki akses ke pembiayaan formal.
Kendati menyimpan potensi besar, tetapi pelaku UMKM memiliki banyak tantangan. Salah satu tantangan itu adalah legalitas usaha dan akses pembiayaan. Hal ini menggarisbawahi pentingnya solusi pendanaan yang inovatif.
Advertisement
Penerima blended finance pertama dari Bank DBS Indonesia adalah Adena Coffee, sebuah wirausaha sosial yang fokus pada produksi dan pengelolaan kopi secara berkelanjutan. Pendanaan ini akan mereka gunakan untuk memperkuat dan memperluas dampaknya. Sebelumnya, Adena Coffee telah menerima dana hibah dari program DBS Foundation Grant Program 2024.
“Sebagai bank yang berlandaskan tujuan positif (purpose-driven), Bank DBS Indonesia menghadirkan skema blended finance—kombinasi antara dana hibah dan pembiayaan lunak—untuk mengatasi kesenjangan akses permodalan yang kerap menghambat pertumbuhan wirausaha sosial di Tanah Air. Di Indonesia, UMKM menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja, namun masih sedikit yang memiliki akses ke pembiayaan formal. Bagi wirausaha sosial, tantangannya lebih kompleks karena model bisnis mereka sering kali belum memenuhi kriteria kelayakan bank (bankable). Skema blended finance hadir sebagai solusi konkret, dengan memperkecil risiko bagi perbankan dan mendorong terciptanya pertumbuhan yang berkelanjutan," kata Executive Director, Head of SME Banking, Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Angela Thenaria dalam keterangan tertulis, Kamis (26/6/2025).
Skema blended finance ini didukung oleh proses seleksi yang ketat, termasuk uji kelayakan menyeluruh saat penerima dana hibah mengikuti DBS Foundation Grant Program. Bank DBS Indonesia juga memastikan adanya pemantauan berkala serta transparansi dalam setiap tahap pencapaian milestone.
“Bank DBS Indonesia mendukung penuh wirausaha sosial seperti Adena Coffee dalam memberdayakan ekonomi daerah dan komunitas karena kami percaya bahwa bisnis tidak melulu memperhatikan profit, namun juga penciptaan dampak bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Sejalan dengan pilar keberlanjutan Impact Beyond Banking, dengan menggabungkan dana hibah dari DBS Foundation dan skema blended finance, kami berharap solusi ini dapat mendukung wirausaha sosial dalam mengakselerasi pencapaian bisnis mereka. Dengan ini, kami dapat memperkecil hambatan akses pendanaan, mendorong kolaborasi lintas sektor, dan menciptakan model pembiayaan inklusif yang dapat direplikasi dan diperluas untuk sektor wirausaha sosial atau bisnis berdampak sosial," tutur Head of Group Strategic Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika.
“Kami merasa terhormat atas kepercayaan Bank DBS Indonesia kepada kami sebagai wirausaha sosial pertama yang mendapatkan dukungan melalui skema blended finance ini. Bagi kami, dukungan ini bukan sekadar bentuk pendanaan, melainkan juga wujud apresiasi terhadap wirausaha sosial seperti Adena Coffee dalam mendorong perubahan. Dukungan ini juga memberikan kami ruang untuk terus berkembang, agar dapat menghadirkan dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya kelompok petani kopi,” ungkap Founder and CEO of Adena Coffee Abyatar.
Langkah Adena Coffee Kembangkan Pertanian Kopi Berkelanjutan
Sebagai negara agraris dengan sumber daya alam yang berlimpah, Indonesia memiliki sejumlah komoditas unggulan di sektor pertanian. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, kopi mencatatkan produksi tahunan sekitar 789.000 ton, menempatkan Indonesia di urutan keempat produsen kopi dunia, setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia.
Oleh karena itu, Adena Coffee memiliki tekad kuat untuk menjadi katalis perubahan dengan memperjuangkan upah yang adil, memberdayakan petani kopi lokal, serta mendukung praktik pertanian yang berkelanjutan. Berawal sebagai proyek komunitas yang didorong oleh passion, Adena Coffee berkembang menjadi sebuah bisnis yang matang dan berkelanjutan. Komitmen yang konsisten terhadap kualitas, pemberdayaan komunitas, serta penghormatan terhadap nilai budaya kopi menjadi landasan utama yang memungkinkan Adena Coffee untuk tumbuh dan memperluas jangkauannya secara signifikan.
Abyatar menjelaskan, “Apa yang kami pelajari selama hampir 10 tahun membuat Adena Coffee adalah kita berkontribusi ke teman-teman yang tidak memiliki akses kepada finansial. Saat ini, Adena Coffee bekerja dengan lebih dari 2.000 petani kopi, di lebih dari 30 desa. Penelitian oleh Indonesia Investment pada 2023 mengungkapkan, setidaknya 98 persen kopi di Indonesia diproduksi oleh keluarga petani kecil, bukan oleh korporasi. Oleh karena itu, kita berusaha sebisa mungkin membangun ekosistem yang sehat untuk teman-teman penghasil kopi.”
Berbagai upaya yang dilakukan Adena Coffee tersebut telah membuahkan hasil signifikan, dengan pendapatan petani kopi yang meningkat antara 20 hingga 100 persen. Kini, Adena Coffee berhasil mengekspor biji kopi hasil petani lokal ke Jepang, Prancis, dan Amerika Serikat. Selain itu, program pemberdayaan mereka juga mencakup pelestarian nilai-nilai budaya masyarakat adat melalui dukungan terhadap fasilitas dan infrastruktur tradisional yang ada.
Perluas Dampak Positif
Guna memperluas dampak positif tersebut, dana hasil blended finance dari DBS Foundation dan Bank DBS Indonesia akan digunakan Adena Coffee untuk:
- Mengembangkan perangkat lunak untuk mendukung kepatuhan terhadap EUDR (European Deforestation Regulation)
- Mendirikan Pusat Produksi dan Pelatihan Serbaguna
- Membangun fasilitas Wet Mill dan fermentasi baru untuk melatih petani dalam penerapan metode pengolahan basah dan fermentasi yang tepat, guna memastikan hasil panen yang konsisten dan berkualitas tinggi
- Menyelenggarakan enam sesi capacity building bagi 500 petani kopi skala kecil di Gayo, Flores, Bali, dan Jawa Barat.
- Menciptakan dampak dengan meningkatkan kehidupan komunitas rentan
Sejak didirikan pada 2014, DBS Foundation telah mengalokasikan lebih dari SGD130 juta untuk mendukung 37 program sosial dan 161 bisnis berdampak di enam pasar utama, termasuk Indonesia.
Lebih dari itu, sepanjang 2024, DBS Foundation berhasil mengurangi 11 juta kg emisi gas rumah kaca dan mengelola 8.000 kg limbah melalui kolaborasi dengan Penerima Hibah. Inisiatif ini juga menciptakan 45 peluang kerja, sekaligus memperkuat komitmen untuk memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat. Ke depannya, DBS Foundation akan terus berfokus untuk menyediakan kebutuhan dasar dan mendorong inklusi pada masyarakat rentan, serta menyejahterakan kaum lanjut usia.