Cerita 27 Tahun Lalu: Patrick Kluivert Tolak Manchester United dan Bikin Sir Alex Ferguson Murka

Manchester United pernah mengalami banyak penolakan dalam upaya mereka merekrut pemain, termasuk dari Patrick Kluivert

oleh Asad ArifinDiperbarui 26 Juni 2025, 16:10 WIB
Pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, memberikan keterangan pers di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan, Rabu (4/6/2025). Tim Garuda akan menghadapi China di Kualifikasi Piala Dunai 2026 yang digelar di SUGBK pada Kamis (5/6/2025) malam WIB. (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Liputan6.com, Jakarta Manchester United pernah mengalami banyak penolakan dalam upaya mereka merekrut pemain. Tapi dari sekian banyak kisah pahit di bursa transfer, tak banyak yang membekas seperti saat Patrick Kluivert menolak pinangan Setan Merah pada musim panas 1998.

Penolakan itu bukan hanya mengubah arah karier sang pemain, tapi juga menjadi pemicu lahirnya salah satu musim paling bersejarah dalam sejarah klub.

Patrick Kluivert kala itu baru berusia 22 tahun, namun namanya sudah harum di jagat sepak bola Eropa. Ia baru saja tampil bersama Timnas Belanda di Piala Dunia 1998 dan menjalani musim yang jauh dari ideal bersama AC Milan.

Di tengah situasi tersebut, Manchester United melihat peluang. Sir Alex Ferguson, dengan naluri tajamnya terhadap bakat muda, menginginkan Kluivert untuk memperkuat lini depan. Dalam pandangan Ferguson, Kluivert adalah sosok striker modern: cepat, kuat, cerdas, dan mematikan di depan gawang.


Momen Kluivert Menolak Tawaran Manchester United

Pelatih kepala Indonesia, Patrick Kluivert, difoto sebelum dimulainya pertandingan kualifikasi Piala Dunia Grup C Asia antara Jepang dan Indonesia di Osaka pada 10 Juni 2025. (PAUL MILLER/AFP)

Kluivert memutuskan untuk menolak tawaran Manchester United dan memilih berlabuh ke FC Barcelona. Sebuah keputusan yang mengundang murka dari sang manajer legendaris. Ferguson, yang dikenal jarang mengumbar emosi ke media, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.

"Kami diyakinkan bahwa dia ingin berbicara dengan kami, tetapi Anda tahu seperti apa agen. Mungkin dia tidak tahu seberapa besar klub Manchester United," kata Ferguson kepada The Independent saat itu.

Bagi Ferguson, penolakan itu bukan sekadar urusan transfer gagal. Ia menganggap Kluivert melewatkan kesempatan emas, dan tak segan menyuarakan pendapatnya dengan nada getir. Bahkan dalam autobiografinya yang terbit tahun 1999, Ferguson kembali menyinggung peristiwa tersebut.

"Kluivert bahkan tidak mau berbicara dengan kami, saya tidak merasa ragu bahwa ia kemungkinan besar akan menjadi pecundang yang lebih besar daripada kami," kata Ferguson di otobiografinya.


Satu Pintu Tertutup, yang Lain Terbuka

1. Dwight Yorke - Pria asal Trinidad and Tobago ini menjadi pemain Manchester United pertama yang meraih penghargaan Sepatu Emas Premier League yaitu pada musim 1998/1999. Saat itu ia sukses mengemas 18 gol. (AFP/Robin Parker)

Ferguson memang bukan sosok yang mudah menyerah. Alih-alih meratapi penolakan Kluivert, ia beralih ke target lain: Dwight Yorke. Penyerang asal Trinidad & Tobago itu diboyong dari Aston Villa, dan sisanya adalah sejarah.

Yorke membentuk duet ikonik dengan Andy Cole. Keduanya menjadi tumpuan utama dalam perjalanan Manchester United meraih treble pada musim 1998/99, Liga Champions, Premier League, dan Piala FA. Yorke bahkan menjadi top skor tim dengan torehan 29 gol di semua kompetisi.

Lanjut Baca:

Tanpa Kluivert, United justru menemukan keseimbangan yang luar biasa. Yorke tak hanya mencetak gol, tapi juga menghadirkan chemistry di lini depan yang sulit ditandingi hingga bertahun-tahun setelahnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya