Punya Gizi Tinggi, Beras Biofortifikasi "Sunwangi" Banyuwangi Masuk Radar Menu MBG

Badan Gizi Nasional (BGN) akan menjadikan beras biofortifikasi sebagai menu pengganti beras regular dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

oleh Gilar RamdhaniDiterbitkan 25 Juni 2025, 20:13 WIB
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani bersama Direktur Sistem Pemenuhan Gizi BGN, Nurjaeni saat panen raya beras biofortifikasi di Banyuwangi, Rabu (25/6/2025).

Liputan6.com, Banyuwangi Dalam upaya meningkatkan gizi masyarakat, Badan Gizi Nasional (BGN) akan menjadikan beras biofortifikasi yang lebih kaya kandungan gizi sebagai menu pengganti beras regular dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Beras jenis ini telah dikembangkan secara industrial di Kabupaten Banyuwangi dan dikenal dengan beras Sunwangi atau Sun Rice of Java Banyuwangi.

Direktur Sistem Pemenuhan Gizi BGN, Nurjaeni, mengatakan program MBG membutuhkan bahan baku yang memiliki kandungan gizi yang tinggi.

"Tentu solusinya adalah produk-produk seperti beras biofortifikasi ini, yang mengandung zat gizi di atas produk-produk regular," kata Nurjaeni, saat panen raya beras biofortifikasi di Banyuwangi, Rabu (25/6/2025).

Setelah sekitar setahun melalui proses penelitian budidaya, Kabupaten Banyuwangi meluncurkan ekosistem beras biofortifikasi "Sunwangi" berskala industri pertama di Indonesia.

Sunwangi atau Sun Rice of Java Banyuwangi merupakan beras biofortifikasi bernutrisi tinggi hasil budidaya benih padi yang telah ditingkatkan kandungan gizinya. Mengandung aneka vitamin dan mineral, seperti Vitamin A, B1, B3, B12, B9 (asam folat), zat besi, dan zinc. Peluncuran ini ditandani dengan Panen Raya padi biofortifikasi, di Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Rabu (25/6/2025).

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat panen raya beras biofortifikasi di Banyuwangi, Rabu (25/6/2025).

Nurjaeni menambahkan penggunaan beras biofortifikasi untuk program MBG bakal dilakukan secara bertahap, sambil menunggu hasil produksinya mencukupi untuk kebutuhan MBG.

Menurutnya, jumlah dapur MBG secara nasional sebanyak 32 ribu dapur. Sebanyak 120 di antaranya, ada di Banyuwangi. Untuk menyuplai dapur-dapur itu dibutuhkan jumlah yang banyak.

Di Banyuwangi, produksi beras biofortifikasi telah dimulai sejak 2024. Kini proses industrialisasi telah dimulai dimulai pada tahun ini, dan ditargetkan bisa mencapai 500 hektare tahun depan.

 

Beras Biofortifikasi "Sunwangi" Banyuwangi

Beras Biofortifikasi "Sunwangi" Banyuwangi.

Pimpinan Wilayah Perum Bulog Jawa Timur, Langgeng Wisnu Adi Nugroho, menjelaskan pihaknya menyerap beras biofortifikasi sebanyak 5 ton pada 2024. Beras tersebut kemudian dikemas dan diedarkan dengan merek "Sunwangi".

Dengan adanya industrialisasi di Banyuwangi, serapan diperkirakan bakal meningkat tajam. Karena tergolong produk beras non reguler, Bulog menyerapnya dengan harga di atas batas bawah harga gabah yang ditetapkan pemerintah.

"Pengalaman kemarin, harga dari petani kami tebus di angka Rp 6.700 per kilogram untuk gabah kering panen," kata dia.

Setelah diproses dan dikemas, Bulog memasarkan produk tersebut dengan harga Rp 14 ribu per kg.

Beras Biofortifikasi "Sunwangi" Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengaku bersyukur beras Sunwangi akan menjadi menu di MBG.

"Selain mendukung program nasional, dengan ekosistem ini juga bisa meningkatkan perekonomian banyuwangi," kata Ipuk.

 

(*)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya