5 Kepribadian Seseorang yang Selalu Memesan Makanan yang Sama di Restoran

Orang yang selalu memesan makanan yang sama di restoran bukanlah orang yang membosankan—mereka diam-diam mengungkapkan nilai-nilai, kebiasaan, dan bagaimana mereka menemukan kenyamanan di dunia.

oleh Bella ZoditamaDiterbitkan 26 Juni 2025, 08:02 WIB
5 Kepribadian Seseorang yang Selalu Memesan Makanan yang Sama di Restoran (Foto dok : Freepik/freepik).

Liputan6.com, Jakarta - Rasanya hampir semua orang memiliki seorang teman yang diajak untuk makan di luar, dia selalu memesan menu yang sama.

Jadi, saat pelayan datang dan menanyakan pesanan, tanpa membuka dan membaca menu, dia memesan semuanya sama seperti yang sudah sudah. Atau jangan-jangan Anda sendiri juga termasuk orang yang seperti itu?

Padahal, makan di restoran seharusnya menjadi cara unuk mencoba sesuatu yang baru. Namun, untuk beberapa orang, mereka tidak mau keluar dari zona nyaman mereka sendiri. 

Faktanya, ketika seseorang memesan hal yang sama setiap waktu, hal itu sering kali menunjukkan lebih banyak hal tentang mereka daripada sekadar selera mereka terhadap makanan tertentu.

Melansir dari VegOut, Rabu (25/6/2025), berikut beberapa ciri kepribadian orang-orang yang sering memiliki kebiasaan seperti itu:

1. Lebih menghargai konsistensi daripada hal baru

Mari kita mulai dengan yang jelas: orang-orang yang berpegang teguh pada makanan kesukaan mereka cenderung lebih mengutamakan stabilitas daripada kejutan. Dan itu bukanlah kekurangan—itu adalah preferensi yang berakar pada cara mereka memproses risiko.

Dr. Shahram Heshmat, seorang ekonom perilaku, mencatat bahwa "ketidakpastian adalah keadaan yang tidak menyenangkan," terutama bagi orang-orang yang mengaitkan situasi yang tidak dikenal dengan potensi ketidaknyamanan.

Ketika seseorang tahu persis apa yang mereka sukai dan bagaimana hal itu membuat mereka merasa, mereka lebih suka menghindari risiko dan memilih apa yang mereka percayai.

Dan sejujurnya? Di dunia di mana begitu banyak hal terasa di luar kendali, ada sesuatu yang menenangkan tentang mengetahui hidangan ini tidak akan mengecewakan saya.

2. Senang membuat keputusan dengan cepat

Salah satu cara untuk mengatasi pola pikir diet yang salah adalah dengan mengikuti cara-cara berikut ini (Foto: Unsplash.com/Toni Koraza)

Mereka bukanlah orang yang bersusah payah memilih menu. Sementara kita semua bolak-balik memilih antara dua pilihan, mereka sudah memesan dan menyesap minuman mereka.

Ketegasan seperti ini biasanya juga muncul di area lain. Mereka cenderung tidak meragukan diri sendiri, tidak mudah menyesal, dan lebih yakin dengan pilihan mereka.

3. Membangun hubungan emosional dengan makanan

Kebiasaan ini mungkin karena terbiasa denan menu rumahan. Banyak orang membentuk ikatan emosional dengan makanan tertentu. Mereka tidak hanya memesan makanan—mereka memesan perasaan. Kenyamanan, nostalgia, bahkan identitas yang dirasakan waktu kecil.

Seperti yang pernah dikatakan psikolog makanan Dr. Brian Wansink, "Kita tidak makan hanya untuk mendapatkan makanan—kita makan untuk memori, untuk suasana hati, untuk koneksi."

Dan ketika hidangan tertentu memberikan itu dengan andal? Itu menjadi bukan lagi pilihan dan lebih seperti ritual.

4. Memiliki kecemasan daripada yang ditunjukkan

Ilustrasi makan siang, brunch. (Photo by Colin Michel on Unsplash)

Hal ini mungkin tidak diterima oleh beberapa orang. Akan tetapi, bagi sebagian orang, mengulang urutan yang sama adalah cara untuk menghindari stres, bukan sekadar menyederhanakan keputusan.

Menurut Dr. Ellen Hendriksen, seorang psikolog klinis di Universitas Boston, "Keterprediksian membantu mengurangi kecemasan karena ketidakpastian tidak lagi menjadi masalah."

Dalam situasi sosial—terutama yang melibatkan orang baru, lingkungan yang tidak dikenal, atau tekanan untuk mengobrol ringan—menghilangkan satu titik keputusan (seperti apa yang akan dimakan) dapat membuat semua hal lain terasa lebih mudah diatur.

Jadi, meskipun mereka mungkin tampak tenang di luar, pilihan makanan mereka yang dapat diprediksi mungkin sebenarnya merupakan mekanisme penanggulangan untuk ketegangan yang lebih dalam.

5. Menemukan kegembiraan dalam hal-hal yang familiar

Ilustrasi mengonsumsi junkfood/copyright freepik.com/kroshka__nastya

Ada narasi populer dalam pengembangan diri bahwa pertumbuhan hanya terjadi dengan melangkah keluar dari zona nyaman. Dan tentu saja, itu sering kali benar. Namun, ada sesuatu yang bisa dikatakan tentang orang-orang yang senang berada di zona nyaman.

Mereka adalah orang-orang yang benar-benar bahagia saat melihat hidangan favorit mereka tiba. Mereka melakukannya dengan perlahan. Mereka tidak merasa perlu mengejar sensasi baru setiap saat—mereka menemukan kepuasan dalam hal-hal yang sudah mereka sukai.

Dan itu sendiri merupakan bentuk kesadaran. Hadir sepenuhnya dengan sesuatu yang familiar alih-alih terburu-buru menuju sesuatu yang baru. Terkadang, kebahagiaan semacam itu merupakan tanda seseorang yang benar-benar telah belajar cara merasa puas.

Jadi lain kali Anda melihat seseorang selalu memesan makanan yang sama—entah itu Anda atau orang lain di seberang meja—mungkin Anda harus mempertimbangkannya. Biasanya ada alasan di baliknya, dan sering kali, alasannya lebih berlapis daripada yang kita duga.

Infografis 6 Negara Tak Bekali Polisi dengan Pistol. (Liputan6.com/Abdillah)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya