Dari Lyon hingga Juventus: 7 Klub Top Dunia yang Pernah Didegradasi karena Sanksi

Olympique Lyon resmi didegradasi ke Ligue 2 oleh otoritas sepak bola Prancis. Sanksi ini dijatuhkan bukan karena hasil buruk, melainkan pelanggaran keuangan serius.

oleh Aga Deta AndityaDiperbarui 25 Juni 2025, 09:15 WIB
Tampak seorang fans melewati logo tim Olympique Lyonnais atau yang dikenal dengan Lyon. (Rémy GABALDA / AFP)

Liputan6.com, Jakarta Olympique Lyon resmi didegradasi ke Ligue 2 oleh otoritas sepak bola Prancis. Sanksi ini dijatuhkan bukan karena hasil buruk, melainkan pelanggaran keuangan serius.

Kasus ini menjadi sorotan besar karena menyangkut klub bersejarah di Prancis. Lyon menjadi contoh terbaru klub besar yang jatuh karena urusan di luar lapangan.

Fenomena ini disebut sebagai degradasi administratif, bukan karena prestasi. Dalam sejarah, beberapa klub ternama juga mengalami nasib serupa.

Alasannya beragam, mulai dari pengaturan skor, konflik kepemilikan, hingga laporan keuangan yang tak sehat. Dampaknya bisa sangat besar bagi keberlangsungan klub.

Namun bagi sebagian tim, kejatuhan ini justru menjadi momen kebangkitan. Lyon kini menghadapi titik balik penting dalam sejarahnya, seperti klub-klub besar lainnya.

Berikut ini tujuh klub top dunia yang pernah mengalami degradasi non-olahraga, termasuk Lyon.


1. Olympique Lyon (2025)

Pemain depan Lyon asal Prancis bernomor punggung 10, Alexandre Lacazette, merayakan golnya bersama rekan satu timnya selama pertandingan Liga Prancis antara Olympique Lyonnais (OL) dan AS Saint-Etienne di Parc Olympique Lyonnais di Decines-Charpieu, Prancis bagian tengah-timur, pada tanggal 10 November 2024. (OLIVIER CHASSIGNOLE/AFP)

Pada Juni 2025, Lyon didegradasi ke Ligue 2 oleh badan pengawas keuangan DNCG. Klub gagal menunjukkan jaminan dana untuk menutup kekurangan hingga 200 juta euro.

Langkah ini mengakhiri kiprah Lyon di kasta tertinggi sejak 1989. Meskipun masih mengajukan banding, keputusan awal sudah menjadi pukulan besar bagi klub.

Lyon dikenal sebagai penghasil pemain top seperti Karim Benzema dan Hugo Lloris. Kini, mereka harus membangun kembali kepercayaan di tengah krisis.


2. Juventus (2006)

Juventus - Ilustrasi Logo Juventus (Bola.com/Adreanus Titus)

Juventus didegradasi ke Serie B akibat keterlibatan dalam skandal Calciopoli. Mereka terbukti mengatur penunjukan wasit dalam beberapa pertandingan Serie A.

Gelar musim 2004/2005 dicabut, sementara gelar 2005/2006 tidak diberikan kepada siapa pun. Klub juga kehilangan sejumlah pemain bintangnya.

Meski demikian, Juventus kembali promosi musim berikutnya. Bianconeri lalu bangkit dan mendominasi Serie A dalam satu dekade setelahnya.


3. Rangers FC (2012)

Steven Gerrard berhasil membawa Rangers menjuarai Liga Premier Skotlandia musim ini. (Andrew Milligan/PA via AP)

Rangers bangkrut pada 2012 akibat gagal bayar pajak dan utang besar. Klub dibubarkan dan asetnya dijual ke entitas baru.

Asosiasi Sepak Bola Skotlandia menolak memberikan lisensi di kasta atas. Akibatnya, Rangers harus memulai kembali dari divisi keempat.

Dalam empat musim, mereka kembali ke Premiership. Kini, Rangers kembali menjadi pesaing utama Celtic di liga papan atas Skotlandia.

Lanjut Baca:

Marseille terlibat dalam skandal suap terhadap pemain Valenciennes pada 1993. Presiden klub Bernard Tapie terbukti menyuruh pemain untuk mengatur hasil pertandingan. Mereka kehilangan gelar Ligue 1 dan dilarang tampil di Liga Champions. Musim berikutnya, Marseille didegradasi ke Ligue 2. Skandal ini membuat banyak pemain hengkang. Marseille akhirnya butuh waktu bertahun-tahun untuk kembali bersaing di papan atas.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya