Makanan yang Perlu Dihindari Biar Stroke Tak Berulang, Pola Hidup Juga Wajib Berubah

Setelah seseorang didiagnosis stroke, proses pemulihan membutuhkan komitmen kuat dan perubahan pola hidup sehat. Apa saja yang jadi pantangan?

oleh Tim DisabilitasDiperbarui 24 Juni 2025, 14:39 WIB
ciri-ciri stroke pada wajah ©Ilustrasi dibuat AI

Liputan6.com, Jakarta Pernahkah Anda merasakan mati rasa mendadak di satu sisi tubuh? Atau tiba-tiba sulit berbicara dan wajah Anda tampak tidak simetris? "Hati-hati, itu bisa jadi sinyal bahaya dari stroke, kondisi medis darurat yang mengancam jiwa dan dapat menyebabkan kecacatan permanen (disabilitas)," ujar dr. Dhira Atman,Sp.BS, FINPS, FINSS,S.Kom, melansir situs EMC.id, Selasa (24/6/2025).

Stroke terjadi ketika suplai darah ke otak terhenti, baik karena penyumbatan (stroke iskemik) maupun pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Tanpa suplai darah yang cukup, sel-sel otak akan kekurangan oksigen dan nutrisi, yang menyebabkan kerusakan atau kematian sel otak dalam hitungan menit. Dampaknya? Gangguan pada fungsi tubuh yang dikendalikan oleh area otak yang rusak, mulai dari bicara, gerakan, penglihatan, hingga memori.

Setelah seseorang didiagnosis stroke, proses pemulihan membutuhkan komitmen kuat dan perubahan pola hidup sehat. "Pantangan-pantangan ini bukan sekadar larangan, melainkan bagian integral dari upaya pencegahan stroke berulang dan optimasi pemulihan," tegas dokter spesialis bedah saraf yang berpraktik di RS EMC Grha Kedoya ini.

Pantangan Makanan untuk Penderita Stroke

Resep tahu krispi cabai garam./Copyright pixabay.com/limarga26

Agar stroke tidak berulang, penderita wajib mewaspadai beberapa hal terkain konsumsi makanan maupun pola hidup. Membatasi asupan makanan yang perlu dilakukan secara ketat ancara lain:

  • Batasi Garam (Natrium): Asupan garam berlebih dapat meningkatkan tekanan darah, salah satu faktor risiko utama stroke. Hindari makanan olahan, makanan cepat saji, dan kurangi penggunaan garam saat memasak. Tekanan darah yang stabil sangat penting dalam mencegah stroke berulang.
  • Hindari Lemak Jenuh dan Trans: Ditemukan pada daging merah berlemak, kulit ayam, produk susu tinggi lemak, makanan yang digoreng, dan makanan olahan. Lemak ini berkontribusi pada penumpukan plak di pembuluh darah (aterosklerosis) yang dapat memicu stroke iskemik. Pilihlah sumber lemak sehat seperti alpukat dan ikan.
  • Kurangi Gula dan Karbohidrat Olahan: Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan diabetes dan obesitas, yang keduanya merupakan faktor risiko stroke. Batasi minuman manis, kue, roti putih, dan nasi putih. Konsumsi gula berlebih dapat memperburuk kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Gaya Hidup yang Perlu Dihindari Pasca-Stroke

Seorang pria meneteskan cairan vape atau rokok elektronik di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Selasa (12/11/2019). Pemerintah melalui BPOM mengusulkan pelarangan penggunaan rokok elektrik dan vape di Indonesia, salah satu usulannya melalui revisi PP Nomor 109 Tahun 2012. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Gaya hidup sangat mempengaruhi terjadinya serangan stroke. Tampa disadari, sejumlah aktivitas dan kebiasaan disinyalir kerap memicu stroke. 

  • Hindari Merokok: Merokok merusak pembuluh darah, meningkatkan tekanan darah, dan membuat darah lebih mudah membeku, secara drastis meningkatkan risiko stroke. Berhenti merokok adalah langkah paling penting. 
  • Hindari Alkohol Berlebihan: Konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan risiko stroke.
  • Hindari Kurang Aktivitas Fisik: Pola hidup kurang gerak berkontribusi pada obesitas, tekanan darah tinggi, dan diabetes. Konsultasikan dengan dokter atau fisioterapis untuk memulai program olahraga yang aman dan sesuai. Aktivitas fisik yang teratur membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.
  • Kelola Stres: Stres yang tidak terkontrol dapat memengaruhi tekanan darah. Cari cara sehat untuk mengelola stres, seperti meditasi, yoga, atau hobi. Teknik relaksasi dapat membantu menjaga tekanan darah tetap stabil."Berhenti merokok adalah langkah paling penting," tegas Dhira.

Pentingnya Kepatuhan Terhadap Pengobatan

Penanganan Lambat pada Pasien Stroke Bisa Berujung Disabilitas Bahkan Kematian. Foto dibuat oleh AI.

Pasien stroke seringkali diresepkan obat untuk mengontrol tekanan darah, kolesterol, atau untuk mengencerkan darah. Penting untuk mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter secara teratur dan tidak menghentikan tanpa konsultasi. Obat-obatan ini berperan penting dalam mencegah komplikasi.

Rutin Kontrol Medis: Jadwal kontrol rutin dengan dokter sangat penting untuk memantau kondisi, menyesuaikan dosis obat, dan mendeteksi dini komplikasi. Kontrol rutin membantu memastikan kondisi kesehatan tetap optimal.

Selain itu, penting untuk memperhatikan hal-hal berikut:

  • Konsumsi makanan tinggi serat untuk menjaga kesehatan pencernaan.
  • Pastikan asupan cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi.
  • Tidur yang cukup untuk mendukung pemulihan tubuh.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya