Liputan6.com, Tanah Datar - Jika Anda sedang merencakan liburan atau tengah berkunjung ke Sumatera Barat dan ingin merasakan nuansa alam serta budayanya yang autentik, maka Nagari Pariangan, Kabupaten Tanah Datar adalah jawabannya.
Daerah ini berada di kaki Gunung Marapi dengan ketinggian 800 - 1000 meter di atas permukaan laut. Di Nagari Pariangan Anda bisa menikmati hamparan sawah berjenjang, deretan rumah gadang, dan udara yang sejuk.
Advertisement
Letaknya yang jauh dari keramaian kota membuat suasana di sini terasa tenang dan syahdu. Selain keindahan alamnya, Nagari Pariangan juga memiliki sejumlah keunikan yang jarang ditemui di tempat lain.
Berikut liputan6.com rangkum untuk Anda fakta-fakta unik mengenai Nagari Pariangan, disadur dari website resmi kemenparekraf.
1. Nagari Tertua
Pariangan adalah sebuah desa yang istimewa. Tambo, tradisi lisan masayarakat Minangkabau, menyebut Pariangan sebagai desa atau nagari tertua tempat nenek moyang dan peradaban mereka bermula.
Hal ini tertuang dalam pepatah kuno dari mano dating titiak palito, dari telong nan Batali. Dari mano asa nenek moyang kito, dari puncak gunuang Marapi.
Hingga saat ini, masih ditemukan berbagai bukti peradaban tua Minangkabau di nagari ini seperti Batu Lantak Tigo, Kuburan Panjang Datuak Tantejo Gurhano, Sawah Satampang Baniah, Lurah Indak Barayia dan masih banyak lagi yang lainnya.
2. Desa Terindah di Dunia
Berdasarkan media pariwisata dari New York, Amerika, Travel Budget pada 2012 menobatkan Nagari Pariangan sebagai desa terindah di dunia bersama desa lainnya di dunia, seperti Niagara on The Lake di Kanada, Cesky Krumlov di Republik Ceko, Wengen di Swiss, Shirakawa-go di Jepang, dan Eze di Prancis.
3. Makam Panjang
Di Nagari Pariangan Anda bisa menemukan makam Tantejo Gurhano. Makam ini merupakan sosok yang dipercayai masyarakat Minangkabau sebagai arsitek pertama dari rumah tradisional mereka, rumah gadang.
Ia dipercaya memiliki tubuh yang tinggi sehingga makamnya pun berukuran panjang. Makam Tantejo Gurhano memiliki mitos unik, dimana panjangnya tidak dapat diukur karena setiap dilakukan pengukuran hasilnya selalu berbeda-beda.
4. Batu Lantak Tigo
Batu Lantak Tigo merupakan formasi batuan yang membentuk segitiga dengan posisi batu pada ketinggian yang nyaris sama. Masing-masing batu mewakili daerah asal asli suku Minangkabau, batu pertama disebut batu Luhak Tanah Data, kemudian Batu Luhak Agam dan Batu Luhak Limo Puluah Koto.
Jenis tulisan pada prasasti ini memiliki kemiripan dengan prasasti-prasasti lainnya peninggalan Raja Adityawarman. Sayangnya, kondisi permukaan batu sudah terlalu aus dan sulit dibaca.
Hanya dua angka yang terbaca jelas yaitu angka 12. Batu lainnya adallah Batu Luhak Agam dan Batu Luhak Limo Puluah Koto.
5. Pemandian Air Panas Rangek Rajo
Di sini Anda dapat menemukan sumber mata air panas. Menariknya, masyarakat di sini memiliki tradisi unik, dimana masing-masing kaum atau suku membangun pemandian mereka masing-masing. Pemandian air panas ini dapat diakses oleh wisatawan yang berkunjung.