Kilas Balik Karier Lionel Messi: Dipupuk di La Masia, Merekah di Barcelona, Berbunga di Timnas Argentina

Nama Lionel Messi sudah identik dengan kata 'legenda' dalam dunia sepak bola. Messi berulang tahun ke-38 pada Selasa, 24 Juni 2025 hari ini.

oleh Ari Rachman PrayogaDiperbarui 24 Juni 2025, 12:22 WIB
Ekspresi kecewa pemain Inter Miami, Lionel Messi setelah timnya ditahan imbang Palmeiras dalam laga Grup A Piala Dunia Antarklub 2025 di Hard Rock stadium, Miami, Amerika Serikat, Selasa (24/06/2025) WIB. (AP Photo/Lynne Sladky)

Liputan6.com, Jakarta Nama Lionel Messi sudah identik dengan kata 'legenda' dalam dunia sepak bola. Messi berulang tahun ke-38 pada Selasa, 24 Juni 2025 hari ini.

Dari bocah mungil yang merantau ke Barcelona demi menggapai mimpi, hingga menjelma jadi ikon global dan pemenang Ballon d'Or terbanyak sepanjang sejarah. Inilah perjalanan luar biasa seorang Lionel Messi, dari La Masia hingga jadi legenda abadi lapangan hijau.

Lahir di Rosario, Argentina pada 24 Juni 1987, Messi menunjukkan bakat luar biasa sejak usia dini. Namun di balik bakatnya, Messi kecil harus berjuang melawan kekurangan hormon pertumbuhan yang mengancam karier sepak bolanya. Klub masa kecilnya, Newell’s Old Boys, tak mampu menanggung biaya pengobatan mahal tersebut.

Harapan datang dari benua lain, tepatnya Spanyol. Barcelona menawarkan kontrak tak biasa — ditulis di atas selembar serbet — yang menjadi titik balik dalam hidup Messi. Barca bersedia menanggung semua biaya pengobatannya, asalkan Messi mau bergabung dengan akademi mereka, La Masia.


La Masia: Tempat Mimpi Itu Dimulai

Lionel Messi pernah masuk nominasi penghargaan Ballon d'Or tahun 2006 ketika dirinya berumur 19 tahun 157 hari. Messi mampu tampil apik dan membantu Barcelona meraih gelar La Liga dan Liga Champions pada musim 2005/2006. Ia berhasil menempati urutan ke-12 saat itu. (Foto: AFP/Lluis Gene)

La Masia bukan sekadar akademi, melainkan pabrik pencetak bintang. Namun Messi bukan bintang yang langsung bersinar terang.

Postur kecil dan sifat pemalu sempat membuatnya tenggelam di antara rekan-rekannya. Tapi begitu bola menyentuh kakinya, semua orang tahu: bocah ini berbeda.

Di bawah asuhan pelatih-pelatih top dan filosofi sepak bola menyerang khas Barcelona, Messi berkembang pesat.

Teknik, visi bermain, dan kecepatan luar biasa membuatnya mencuri perhatian sejak usia belia.


Debut Bersama Tim Utama dan Era Keemasan Barcelona

Lionel Messi. Pemain yang kini memperkuat PSG ini meraih trofi Golden Boy edisi 2005. Saat itu usianya baru menginjak 18 tahun dan telah mengantar Barcelona meraih gelar LaLiga 2004/2005. Bersama Timnas Argentina ia juga merebut gelar Piala Dunia U-20 tahun 2005. (AFP/STR)

Debut profesional Messi bersama tim utama Barcelona terjadi pada 16 Oktober 2004 saat menghadapi Espanyol. Gol pertamanya datang setahun kemudian, dan sejak saat itu, Messi tak pernah menoleh ke belakang.

Era keemasan Messi terjadi di bawah tangan dingin Pep Guardiola. Bersama Xavi dan Iniesta, Messi jadi bagian dari trio paling mematikan dalam sejarah sepak bola modern.

Tiki-taka menjelma jadi teror, dan Barcelona mendominasi Eropa dengan menjuarai Liga Champions pada 2009, 2011, dan 2015.

Messi juga menorehkan berbagai rekor: pencetak gol terbanyak sepanjang masa Barcelona, La Liga, dan El Clásico. Ia menyabet 7 Ballon d'Or saat membela klub Catalan — jumlah yang belum tertandingi hingga saat ini.

Lanjut Baca:

Pada 2021, kisah panjang Messi dengan Barcelona harus berakhir karena krisis keuangan klub. Ia pun melanjutkan karier ke PSG, di mana ia meraih dua gelar Ligue 1 dan tetap tampil konsisten di level tertinggi. Namun, impian Messi bukan sekadar trofi klub. Ia ingin menorehkan kisah manis bersama Timnas Argentina. Sayangnya, meraih impian bersama negara tak semudah di level klub. Akhirnya, mimpi itu terwujud lewat kemenangan di Copa America 2021 serta Piala Dunia 2022 di Qatar, yang menjadi pelengkap sempurna untuk kiprah internasionalnya. Tahun 2023, Messi kembali membuat kejutan dengan memilih bergabung ke klub MLS, Inter Miami. Di Amerika, ia tak hanya tampil sebagai pemain, tapi juga simbol globalisasi sepak bola.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya