Liputan6.com, Jakarta - Kasus jemaah haji hilang di Arab Saudi menjadi pengingat bahwa potensi tersasar saat berada di Tanah Suci itu ada, termasuk di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Akses yang begitu banyak dan perubahan alur masuk dan keluar masjid yang diatur secara mendadak oleh askar kerap membuat jemaah kebingungan, terutama mereka yang baru tiba di Tanah Suci.
Dalam kondisi demikian, Kabid Pelindungan Jamaah (Linjam) PPIH Arab Saudi Harun Arrasyid meminta jemaah haji agar tidak panik. Ia mengimbau jemaah yang tersasar untuk mengenali petugas haji berseragam biru yang berjaga di beberapa titik pantau.
Advertisement
"Ada petugas kita yang petakan di situ untuk berikan pemantauan dan bantuan untuk proses kelancaran beribadah di Masjid Nabawi," kata Harun dalam jumpa pers di Makkah, Minggu, 22 Juni 2025.
Di Masjidil Haram, ada sembilan titik pos yang detailnya meliputi Terminal Syib Amir, pintu keluar Marwah, area sai (Mas'a), area thawaf (mataf), area Pintu Babussalam, area WC 3, ATM Center Dar At Tawhid, arah menuju Jarwal (Anjum Hotel), dan area perluasan Abdullah. Seluruhnya berada di bawah koordinasi Sektor Khusus Masjidil Haram.
Sementara di Masjid Nabawi, terdapat lima pos sektor khusus. Rinciannya meliputi:
1. Pintu utama Masjid Nabawi nomor 332 sampai 336
2. Pintu nomor 326 sampai 328
3. Samping Masjid Ghomamah, dari sudut pintu Air Zamzam hingga pintu nomor 315
4. Samping pintu nomor 301 sampai 305
5. Area Raudhah, mulai dari jalur antrian hingga di dalam Raudhah, pintu nomor 360 sampai 365
Jangan Bepergian Sendiri
Harun juga mengingatkan agar setiap jemaah tidak bepergian atau bergerak sendirian tanpa pendamping. Masing-masing jemaah juga diminta untuk menghapalkan rute dan nomor kendaraan bila hendak bepergian dengan bus shalawat. "Juga hapali terminalnya, baik itu di Syib Amir, Jabal Kakbah, maupun Ajyat," katanya.
Hal itu untuk mencegah jemaah hilang dari pantauan keluarga atau rombongan. Hingga hari ini, tiga jemaah haji Indonesia masih belum kembali ke kloternya masing-masing. Mereka adalah Nurimah Mentajim dari Kloter PLM 19, Sukardi bin Jakim dari Kloter SUB 79, dan Hasbullah dari Kloter BDJ 07.
Harun sebelumnya menyampaikan bahwa laporan tentang hilangnya Hasbullah masuk pada Selasa malam, 17 Juni 2025. Menurut laporan dari putrinya yang kini sudah bergeser ke Madinah, Hasbullah terlepas dari rombongan pada Selasa dini hari, pukul 03.00 WAS, di Makkah.
Jemaah haji itu menginap di Hotel 709, sektor 7. Saat kejadian, Hasbullah disebut keluar kamar hotel tanpa pengawasan keluarganya. Seseorang yang melihatnya kemudian mengantarkan Hasballah ke lobi hotel karena ia tidak ingat nomor kamarnya. Namun ketika dicari, ia sudah tidak ada lagi di lobi.
Mengidap Demensia
"Sebagaimana laporan yang masuk ke kami dari putrinya yang berada di Madinah sekarang, bahwa bapaknya punya riwayat demensia. Pernah beberapa kali terlepas tapi masih ada yang mengantarkan ke kamarnya," kata Harun dalam jumpa pers di Makkah, kemarin.
Dua jemaah haji hilang sebelumnya adalah atas nama Nurimah Mentajim asal Kloter PLM 19 dan Sukardi bin Jakim asal Kloter SUB 79. Kondisinya pun sama dengan Hasbullah, terdeteksi mengidap demensia.
Hingga saat ini, proses pencarian ketiga orang hilang masih berlanjut. Harun menyatakan bahwa proses pencarian dilakukan oleh dua tim yang dibentuk PPIH Arab Saudi, yakni Tim A dan Tim B.
Pihaknya juga berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk syarikah, Konjen RI, dan Konsul Haji (Kantor Urusan Haji) di Jeddah. Tak ketinggalan, proses pencarian juga melibatkan petugas Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Makkah untuk menyisir setiap rumah sakit yang ada di Makkah serta Jeddah.
"Tadi pagi, kami sama-sama menuju Muaisyim atau Tsalajah Muaisyim, kami juga lihat di sana dan kami laporkan dengan membawa data-data jemaah tersebut. Namun, belum kita temukan titik terang yang kita harapkan," kata Harun lagi.