Minus Mata Anak Cepat Nambah? Ini Hal yang Sering Diabaikan Orangtua

Ada beberapa faktor yang bisa bikin minus mata anak jadi nambah cepat. Termasuk, minimnya paparan sinar matahari.

oleh Benedikta DesideriaDiperbarui 22 Juni 2025, 12:25 WIB
Selain riwayat orangtua, gaya hidup juga turut memengaruhi minus mata anak nambah cepat. (Foto Dok: Freepik/freepik).

Liputan6.com, Jakarta Anak dengan kondisi miopia atau rabun jauh ada yang bertambah minus dalam waktu cepat tapi ada juga yang lambat. Ternyata, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko pertambahan minus pada mata anak lebih cepat.

Dokter spesialis mata konsultan Tri Rahayu mengatakan kecepatan pertambahan minus pada mata anak dipengaruhi oleh gaya hidup dan riwayat keluarga dengan kondisi miopia menjadi faktor risiko utama. Gaya hidup yang dimaksud seperti kurangnya paparan sinar matahari alami dan terlalu banyak waktu di dalam ruangan. Ketika di dalam ruangan aktivitas anak juga didominasi layar digital seperti bermain gim atau menonton televisi.

“Dalam situasi pascapandemi, kami melihat peningkatan tajam jumlah anak dengan miopia, terutama karena perubahan pola aktivitas harian yang lebih sedentari dan didominasi layar digital,” kata Tri Rahayu.

Ketua Contact Lens Service di JEC Eye Hospitals and Clinics ini pun mengingatkan pentingnya untuk anak yang sudah mengalami rabun jauh untuk ditangani agar tidak miopia tinggi.

Miopia tinggi adalah kondisi rabun jauh yang lebih parah, terjadi ketika bola mata lebih panjang dari ukuran normal. Pengidap miopi tinggi memiliki risiko terkena gangguan mata seperti, retina sobek, dan glaukoma.

“Miopia bukan sekadar kondisi mata yang memerlukan kacamata. Ini adalah kondisi progresifyang harus ditangani sejak awal agar tidak berkembang menjadi miopia tinggi dengan risikokomplikasi serius,” kata Tri mengutip keterangan tertulis.

 

Bisakah Menekan Kecepatan Pertambahan Minus?

Memodifikasi hal-hal yang bisa diubah seperti membatasi aktivitas di depan layar dan menambah waktu bermain di luar bisa dilakukan. Selain itu, kini ada terapi yang aman dan reversibel bagi anak-anak lewat terapi Orthokeratology (Ortho-K).

Ortho-K adalah terapi yang menggunakan lensa kontak khusus saat tidur untuk mengoreksi bentuk kornea.

Fokus utama terapi ini bukan sekadar memperbaiki penglihatan, tapi juga menghambat progres atau kenaikan minus, terutama pada anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.

 

Tingkat Keberhasilan Bagaimana?

Tingkat keberhasilan terapi dengan Ortho-K sangat ditentukan oleh kepatuhan penggunaan serta dukungan dari ayah ibu.

“Anak-anak harus rutin memakai lensa setiap malam dan melakukan kontrol berkala. Peran orangtua dalam mendampingi dan memastikan kebersihan serta jadwal kontrol sangat penting untuk menjamin keberhasilan terapi,” kata Tri.

Fakta tentang Miopia, 65 Juta Anak Alami Rabun Jauh

World Report on Vision 2019 mengungkapkan terdapat lebih dari 2,2 miliar orang di dunia yang mengalami gangguan penglihatan. Sekitar satu miliar di antaranya sebetulnya dapat dicegah atau diobati.

Dari angka itu, miopia menjadi salah satu gangguan penglihatan yang paling banyak ditemukan. Pada anak kasusnya sampai 65 juta pada 2023.  Angka ini diperkirakan melonjak menjadi 275 juta anakpada tahun 2050 jika tidak ada upaya pencegahan dan pengendalian yang intensif danmenyeluruh.

Penelitian terbaru di Jakarta yang diterbitkan oleh The Open Public Health Journal 2023  mengungkap bahwa setelah pandemi, prevalensi gangguan refraksi pada anak sekolah dasarmelonjak drastis menjadi 40%, dengan mayoritas belum pernah mendapatkan koreksi penglihatan.

Infografis Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dalam Program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Mulai 2025 (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya