Gerakan Kolektif, Neuroteknologi, dan Spiritualitas untuk Membentuk Mental Tangguh Generasi Emas

Para pembicara menyoroti cara sederhana mengenali stres. Pesan utamanya jelas yaitu kesehatan mental bukan tabu, melainkan modal utama produktivitas bangsa.

oleh Tim LifestyleDiperbarui 03 Juli 2025, 20:36 WIB
Gerakan Kolektif, Neuroteknologi, dan Spiritualitas untuk Membentuk Mental Tangguh Generasi Emas.  foto: istimewa

Liputan6.com, Jakarta - Bangun Jiwa berdiri sebagai collective movement with impact yang menyasar orangtua muda, remaja, sekolah, guru, hingga korporasi. Melalui ajaran hidup berkesadaran (conscious living), gerakan ini menanamkan nilai bersih, jujur, berintegritas, dan beretika. Salah satu praktik intinya adalah “11 Random Act of Kindness”, sebelas kebaikan kecil yang mudah diterapkan setiap hari untuk menumbuhkan empati dan membentuk perilaku positif.

“Kami ingin generasi muda sadar akan kesehatan mentalnya sedini mungkin, lalu menularkannya lewat aksi kebaikan sederhana,” kata Andini Tanzil selaku Co-Initiator Bangun Jiwa. Sekitar 50 influencer Gen Z hadir dalam bincang santai bertema “Menyapa Diri, Melepas Hampa”. Panel diisi oleh: Ko Hen )Praktisi Kesadaran), Abu Marlo (Dialogue Positive Podcast), dr. Rama Giovanni, Sp.KJ (Psikiater) dan Ferra Agustina (Content Creator).

Para pembicara menyoroti cara sederhana mengenali stres, memperkuat fokus, serta menumbuhkan empati. Pesan utamanya jelas yaitu kesehatan mental bukan tabu, melainkan modal utama produktivitas bangsa.

Bangun Jiwa turut berkolaborasi dengan Mindex Neurotechnology, startup neuroteknologi berbasis brain-computer interface (BCI) asal Indonesia. Di area pameran, peserta menjajal SANEBOX, produk riset yang memantau aktivitas otak melalui headset EEG. Selama sekitar 5 menit, peserta menuntaskan sejumlah tugas kognitif singkat sebelum menjalani latihan napas terpandu.

 

Mengikis Stigma Seputar Kesehatan Mental

Gerakan Kolektif, Neuroteknologi, dan Spiritualitas untuk Membentuk Mental Tangguh Generasi Emas. foto: istimewa

Hasilnya segera muncul di layar dalam bentuk empat parameter kondisi mental: Stress, Focus, Calm, Recovery. Bukan alat diagnosis, SANEBOX berfungsi layaknya “termometer mood” untuk mendorong langkah preventif dan kesadaran diri. “Teknologi ini menunjukkan sisi ilmiah dari mindfulness. Dalam hitungan menit, peserta bisa ‘melihat’ kondisi pikirannya secara objektif,” terang Ferra Agustina, yang ikut memandu demo.

Selain demo teknologi, peserta diajak menulis surat apresiasi anonim, meditasi singkat, hingga menanam bibit pohon mini, contoh konkret 11 Random Act of Kindness. Kombinasi aksi sederhana, refleksi spiritual, dan dukungan data neuroteknologi diyakini mempercepat perubahan perilaku dan mengikis stigma seputar kesehatan mental.

Bangun Jiwa menyiapkan Retreat “Jeda Sejenak” pada 5–6 Juli 2025. Para peserta akan mendalami teknik mindful living sambil kembali mencoba SANEBOX untuk mengukur perkembangan mental mereka.“Gerakan ini baru awal. Kami mengundang sekolah, kampus, dan korporasi untuk menyebarkan semangat kesehatan mental berbasis kindness dan neuroteknologi,” pungkas Andini.

Ikuti Instagram @bangunjiwa11 dan TikTok @bangun.jiwa11 untuk informasi kegiatan tentang Bangun Jiwa. Mari bersama-sama membangun karakter tangguh, mental sehat, dan Indonesia Emas yang benar-benar berjiwa.

 

Mengenal Mengenai Self Diagnosis pada Kesehatan Mental.(Liputan6.com/Abdillah).

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya