Liputan6.com, Jakarta Tema penting soal kejujuran sejarah dan keadilan sosial kembali mengemuka dalam khutbah Jumat di berbagai masjid hari ini, menyusul polemik nasional seputar rencana penulisan ulang sejarah Indonesia oleh Menteri Kebudayaan. Dalam khutbah, para khatib bisa menyerukan agar umat Islam menjadi bagian dari warga negara yang jujur dan berani menyuarakan kebenaran, termasuk dalam menghadapi upaya pelupaan sejarah kelam bangsa.
Mengusung tema “Menjaga Integritas dan Keadilan dalam Kehidupan Berbangsa”, khutbah Jumat hari ini menyerukan pentingnya kejujuran dalam menyampaikan sejarah, terutama kepada generasi muda.
Advertisement
Para khatib menekankan bahwa Islam mewajibkan pemeluknya untuk menegakkan keadilan dan tidak menyembunyikan kebenaran, termasuk ketika menyangkut sejarah luka bangsa seperti tragedi kemanusiaan dalam kerusuhan Mei 1998. Integritas, kata mereka, adalah bagian dari iman dan fondasi utama dalam membangun persatuan yang sejati
Isi Khutbah Pertama
KHUTBAH PERTAMA
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد.
الحمد لله، الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، وبفضله تُنال الدرجات، نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلّى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.
أما بعد، فيا أيها الناس، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقون.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menekankan pentingnya keadilan dan integritas sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Allah berfirman:
"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنفُسِكُمْ..." “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kalian penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri...” (QS. An-Nisa: 135)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa keadilan harus ditegakkan, bukan hanya terhadap orang lain, tapi bahkan terhadap diri sendiri dan keluarga terdekat. Islam adalah agama yang mengedepankan kejujuran, keadilan, dan kebenaran, termasuk dalam mengakui sejarah, memperjuangkan hak orang tertindas, serta menjaga nilai-nilai moral dalam kehidupan publik.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Akhir-akhir ini, kita menyaksikan perdebatan publik terkait bagaimana sejarah bangsa ini diceritakan kepada generasi muda. Sebagian mencoba menampilkan sejarah dengan nada yang "positif" saja, namun melupakan luka-luka masa lalu seperti tragedi kemanusiaan dan pelanggaran HAM. Dalam konteks ini, kita perlu kembali pada nilai-nilai Islam: kejujuran dalam berkata, keberanian dalam mengakui kesalahan, dan kesediaan untuk menjadikan masa lalu sebagai pelajaran, bukan untuk dihapus.
Rasulullah SAW bersabda:
"أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ" “Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Mari kita sebagai umat Islam menjadi pribadi yang berani menyuarakan kebenaran dan menolak ketidakadilan. Tidak membiarkan kebohongan menjadi warisan bagi generasi penerus.
Isi Khutbah Kedua
KHUTBAH KEDUA
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، كما يحب ربنا ويرضى، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Sebagai bagian dari bangsa yang besar, kita harus menjadi warga negara yang amanah. Menjaga integritas adalah bagian dari iman. Dalam kehidupan sosial dan politik, seorang Muslim tidak boleh membiarkan dirinya larut dalam arus manipulasi, pengaburan fakta, atau menyebarkan narasi yang tidak benar.
Allah SWT berfirman:
"وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ ۚ وَمَن يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ" “Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian. Barangsiapa menyembunyikannya, maka sungguh hatinya berdosa.” (QS. Al-Baqarah: 283)
Sebagai penutup, mari kita jaga negeri ini dengan kejujuran, keadilan, dan cinta kepada kebenaran. Mari wariskan kepada anak cucu kita sejarah yang jujur—yang mengajarkan makna syukur dari keberhasilan, serta hikmah dari setiap luka dan kegagalan.
اللهم اجعلنا من الصادقين، ولا تجعلنا من الكاذبين، واجعلنا ممن يقومون بالعدل، ويشهدون للحق.
عباد الله، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.