Mitos Larangan Bambu di Desa Diponggo, Warisan Sumpah Waliya Zaenab

Peristiwa ini membuat Waliya Zaenab murka dan mengucapkan sumpah larangan menanam bambu di Diponggo. Sumpah tersebut masih dipegang teguh warga hingga kini.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 25 Juni 2025, 22:00 WIB
Ilustrasi bambu air. (Gambar oleh congerdesign dari Pixabay)

Liputan6.com, Gresik - Desa Diponggo, Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik, Jawa Timur menyimpan tradisi unik berupa larangan menanam pohon bambu yang telah dipegang teguh selama ratusan tahun. Larangan tersebut berasal dari sumpah Waliya Zaenab, tokoh spiritual yang diyakini sebagai pelindung desa.

Mengutip dari Jurnal UNESA, Waliya Zaenab merupakan istri Sunan Giri. Ia pernah melakukan perjalanan menggunakan katepung (pelepah pisang) dari Pulau Jawa.

Setelah berhari-hari berlayar, ia tiba di Desa Kumalasa, Bawean. Akan tetapi penduduk setempat menolaknya karena menganggap Waliya Zaenab membawa wabah penyakit.

Setelah ditolak di Desa Kumalasa, Waliya Zaenab melanjutkan perjalanan ke Desa Diponggo. Akan tetapi, burung yang dibawanya hilang dan akhirnya ditemukan di pohon bambu di desa tersebut.

Peristiwa ini membuat Waliya Zaenab murka dan mengucapkan sumpah larangan menanam bambu di Diponggo. Sumpah tersebut masih dipegang teguh warga hingga kini.

Tidak satupun pohon bambu tumbuh di desa ini. Beberapa warga yang pernah mencoba menanam bambu mengaku mengalami nasib buruk seperti gagal panen atau sakit berkepanjangan.

Meski bambu merupakan tanaman serbaguna yang bermanfaat secara ekonomi, warga Diponggo tetap memilih mempertahankan tradisi leluhur tersebut. Para sesepuh rutin mengingatkan generasi muda untuk tidak menanam atau membawa bambu ke wilayah desa.

 

Simak Video Pilihan Ini:

Identitas Budaya

Setiap tahun, ritual khusus dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Waliya Zaenab. Warga percaya ritual ini akan melindungi desa dari bencana.

Menariknya, larangan Waliya Zaenab tentang kunjungan orang Kumalasa ke Diponggo sudah tidak berlaku lagi. Akan tetapi, larangan tentang bambu tetap bertahan.

Tradisi ini menjadi bagian dari identitas budaya Desa Diponggo. Anak-anak sejak dini telah diajarkan untuk menghormati sumpah leluhur tersebut dan menjadikannya warisan budaya yang terus hidup.

Penulis: Ade Yofi Faidzun

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya