BEI Kaji Perubahan Jumlah Lot Saham, Bisa Dibeli Ketengan?

BEI membandingkan kebijakan lot saham dengan yang berlaku di bursa regional maupun global.

oleh Pipit Ika RamadhaniDiterbitkan 19 Juni 2025, 19:05 WIB
Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah melakukan kajian terkait potensi penyesuaian jumlah lot saham. Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa langkah ini diambil dalam rangka memperkuat pendalaman pasar sekaligus mendorong likuiditas. Penyesuaian lot saham dipandang sebagai salah satu cara untuk mempermudah akses masyarakat dalam berinvestasi di pasar modal.

“Kalau penyesuaian lot itu juga dalam konteks bagaimana kita melakukan pendalaman pasar, bagaimana kita meningkatkan likuiditas, bagaimana kita memberikan kemudahan akses lebih kepada masyarakat, dan bagaimana kita meningkatkan inklusivitas kita,” ujar Jeffrey Hendrik dalam di Gedung Bursa, Kamis (19/6/2025).

Demi Investor Ritel

Ia menambahkan, dampak dari kebijakan ini terhadap kenyamanan investor ritel juga menjadi pertimbangan utama.

“Dengan penyesuaian lot size nanti kita lihat apakah akan berdampak kepada kenyamanan akses bagi masyarakat untuk menjadi investor,” kata Jeffrey.

 

Benchmark ke Bursa Global: London dan Korea Jadi Referensi

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain mempertimbangkan kondisi dalam negeri, BEI juga membandingkan kebijakan lot saham dengan yang berlaku di bursa regional maupun global.

Menurut Jeffrey, praktik di pasar modal internasional menjadi acuan penting agar kebijakan BEI tetap adaptif terhadap dinamika global. Saat ini, terdapat bursa yang menetapkan 1 lot sama dengan 50 lembar saham, bahkan ada yang hanya 1 lembar.

“Misalnya, ada bursa yang sekarang itu 1 lotnya adalah 50 lembar, tetapi ada juga bursa-bursa yang 1 lotnya adalah 1 lembar. Yang sudah 1 lembar itu London dan Korea,” jelas Jeffrey.

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa kajian BEI tidak hanya bersifat internal, tetapi juga melihat praktik terbaik dari bursa global. “Jadi itu juga tentu menjadi bahan kajian kita, yaitu supaya kita tetap adaptif terhadap kondisi global,” ungkapnya.

 

Implementasi Tertunda, Fokus Tahun Ini ke Sistem Perdagangan Baru

Suasana di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/11/2015). Pelemahan indeks BEI ini seiring dengan melemahnya laju bursa saham di kawasan Asia serta laporan kinerja emiten triwulan III yang melambat. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Meski kajian perubahan jumlah lot terus berjalan, BEI belum akan mengimplementasikannya dalam waktu dekat. Jeffrey menyebut bahwa tahun ini BEI masih fokus pada penyelesaian dan penerapan sistem perdagangan baru, yang menyerap banyak sumber daya internal.

Oleh sebab itu, perubahan kebijakan jumlah lot kemungkinan belum akan diberlakukan pada 2025.

“Kelihatannya nggak (diberlakukan tahun ini), karena kan kita sedang dalam proses implementasi sistem perdagangan baru,” imbuh Jeffrey.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya