Karia dan Tari Linda, Ritual Penyucian Diri Perempuan Suku Muna

Tahapan ritual karia dimulai dengan kafoluku atau pemasukan peserta ke dalam ruang pingitan yang disebut kaghombo.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 22 Juni 2025, 23:00 WIB
Karia, salah satu acara budaya di Wakatobi Sulawesi Wave 2017, anak remaja diarak menggunakan pikulan yang disebut Kasondaa dan hibur setelah menjalani masa pingitan yang oleh masyarakat setempat disebut somboa. Foto: (Akbar Fua/Liputan6.com)

Liputan6.com, Kendari - Masyarakat Suku Muna di Sulawesi Tenggara memiliki tradisi unik bernama Karia, sebuah ritual penyucian diri bagi perempuan yang diiringi dengan tari linda. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam proses pendewasaan dan persiapan pernikahan gadis-gadis Muna.

Mengutip dari berbagai sumber, karia merupakan salah satu upacara adat masyarakat etnis Muna yang telah dilaksanakan secara turun-temurun sejak abad ke-18. Ritual ini wajib dijalani oleh perempuan Muna yang telah mengalami menstruasi pertama sebagai tanda pendewasaan sebelum menikah.

Prosesi karia melambangkan kelahiran kembali seorang perempuan dalam keadaan suci, baik secara jasmani maupun rohani. Tahapan ritual karia dimulai dengan kafoluku atau pemasukan peserta ke dalam ruang pingitan yang disebut kaghombo.

Ruangan ini sengaja dibuat gelap sebagai simbol rahim ibu, tempat peserta akan menjalani proses pemeraman selama beberapa hari. Selama dalam pingitan, gadis-gadis Muna tidak diperbolehkan melakukan aktivitas normal seperti makan, minum, atau buang air besar secara bebas.

Mereka hanya boleh makan dan minum sesuai ketukan gong yang mengiringi prosesi. Puncak dari ritual karia adalah kabhalengka atau pembukaan ruang pingitan.

Pada momen ini, gadis-gadis yang telah menyelesaikan proses pingitan dianggap telah lahir kembali dalam keadaan suci. Prosesi ini diiringi dengan bunyi gong yang tidak boleh terputus sebagai simbol kelahiran.

Salah satu unsur penting dalam upacara karia adalah tari linda. Tarian tradisional ini dibawakan oleh empat hingga sepuluh penari sebagai bentuk rasa syukur atas kelancaran prosesi dan penyucian diri para peserta.

 

Makna Spiritual

Tari linda tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki makna spiritual dalam budaya Muna. Seluruh rangkaian karia dipandu oleh seorang pemandu khusus yang disebut pomantoto (orang tua adat perempuan).

Pomantoto bertugas membimbing peserta selama dalam pingitan dan memastikan semua tahapan ritual berjalan sesuai adat. tradisi karia mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat Muna dalam mempersiapkan generasi perempuan mereka memasuki kehidupan berumah tangga.

Melalui ritual ini, gadis-gadis Muna tidak hanya disucikan secara spiritual, tetapi juga dibekali dengan berbagai pengetahuan tentang peran sebagai istri dan ibu. Upacara karia masih bertahan sebagai warisan budaya yang dijaga kelestariannya oleh masyarakat Muna.

Penulis: Ade Yofi Faidzun

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya