Liputan6.com, Aceh - Ada sebuah bangunan unik di tengah Taman Ghairah atau Taman Putroe Phang yang merupakan bagian dari kompleks Istana Kerajaan Aceh Darussalam. Bangunan bernama Gunongan itu konon menjadi bukti sejarah kisah cinta sultan Aceh di masa lalu.
Gunongan menyimpan kisah cinta Sultan Iskandar Muda untuk permaisurinya, Putroe Phang. Kala itu, Sultan Iskandar Muda mempersunting Putri Kamaliah atau yang populer dengan gelar Putroe Phang.
Advertisement
Putroe Phang adalah seorang gadis dari Negeri Pahang, Malaysia. Sang permaisuri kemudian diboyong ke Aceh, tepatnya di kediaman sultan di Istana Darul Dunya.
Meninggalkan kampung halamannya cukup lama, membuat sang permaisuri rindu. Ia merindukan suasana di daerah Pahang yang didominasi dengan wilayah perbukitan, sehingga udaranya terasa sejuk.
Demi mengobati kerinduan sang permaisuri terhadap kampung halamannya, Sultan Iskandar Muda pun membangun Gunongan di tengah Taman Ghairah. Sejak saat itu, Gunongan dianggap sebagai bukti cinta Sultan Iskandar Muda kepada Putroe Phang.
Gunongan kemudian digunakan oleh Putroe Phang untuk bermain bersama dayang-dayangnya. Ia memanjat Gunongan seperti yang sering ia lakulan di perbukitan Pahang. Keberadaan Gunongan seolah seperti Taj Mahal di India yang juga dibangun dengan penuh rasa cinta oleh Mughal Shah Jahan untuk istrinya, Mumtaz-Ul-Zamani.
Secara harfiah, gunongan berarti gunung tiruan. Bangunan ini memiliki tinggi sekitar 9,5 meter. Pembangunannya dilakukan pada abad ke-17, tepatnya di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.
Bangunan miniatur perbukitan berbentuk segi delapan (oktagon) ini sepintas terlihat menyerupai bunga dengan tiga lapisan. Pada salah satu sisinya terdapat pintu masuk menuju ke lapis ketiga berupa sebuah tiang batu dengan bentuk mutiara bermahkota di tengahnya.
Krueng Daroy
Berada di dekat Gunongan, mengalir Sungai Krueng Daroy. Sungai buatan yang mengalirkan air dari Mata Ie ke sungai Krueng Aceh ini masih dapat dilihat keindahannya di sisi sisi Meuligoe Gubernur Aceh.
Aliran air tersebut sengaja dibuat melintasi Kompleks Istana Sultan. Selepas bermain, sang permaisuri biasanya mandi dengan air dari sungai Krueng Daroy.
Sang putri biasanya menggunakan peterana untuk keramas dengan air bunga. Peterana Batu Berukir ini berada tak jauh dari Gunongan. Bentuknya berupa batu silinder dengan diameter 1 meter, tinggi 0,5 meter, dan berlubang di bagian tengah.
Usai mandi, Putroe Phang bersama dayang-dayangnya beristirahat di Pinto Khop, sebuah gerbang penghubung antara Taman Putroe Phang dengan Istana Sultan.
Gunongan dan berbagai fasilitas tersebut menjadi bukti cinta Sultan Iskandar Muda terhadap Putroe Phang agar tetap dapat merasakan suasana seperti di kampung halamannya. Selain sebagai bukti cinta, bangunan ini sekaligus menjadi salah satu landmark Kesultanan Aceh yang masih tersisa dari penghancuran tentara kolonial Belanda.
Penulis: Resla