Chronic Fatigue Syndrome (CFS), Kelelahan Ekstrem yang Butuh Penanganan Multidisiplin

Chronic Fatigue Syndrome (CFS) dapat menyebabkan disabilitas signifikan. Kenali gejala, penyebab, dan penanganan sindrom kelelahan kronis ini untuk meningkatkan kualitas hidup.

oleh Tim DisabilitasDiterbitkan 17 Juni 2025, 16:02 WIB
Ilustrasi lelah, letih. (Photo by Andrea Piacquadio/Pexels)

Liputan6.com, Jakarta Pernah mengalami kelelahan yang berlebih? Mungkin kita tidak menyadarinya, namun Chronic Fatigue Syndrome (CFS) atau Sindrom Kelelahan Kronis bisa dialami semua orang.

Chronic Fatigue Syndrome merupakan  kondisi medis kompleks yang ditandai dengan kelelahan ekstrem yang berlangsung setidaknya enam bulan dan tidak membaik dengan istirahat. Kelelahan ini jauh berbeda dari rasa lelah biasa dan dapat sangat mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya. CFS bukan hanya sekadar merasa lelah, melainkan kondisi disabilitas yang memerlukan pemahaman dan penanganan yang tepat.

Penting untuk dipahami bahwa CFS bukanlah kondisi yang bisa diatasi hanya dengan tidur lebih banyak atau mengurangi aktivitas. Kelelahan yang dialami penderita CFS sangat berat dan seringkali disertai dengan berbagai gejala lain yang menyulitkan. Kondisi ini dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk bekerja, bersekolah, atau bahkan melakukan aktivitas sederhana seperti mandi atau berpakaian. Disabilitas akibat CFS dapat berdampak besar pada kualitas hidup seseorang.

"Chronic Fatigue Syndrome bukan sekadar rasa lelah biasa. Kondisi ini memerlukan penanganan multidisiplin untuk meningkatkan kualitas hidup pasien," ujar  dr. Elyanawati, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS EMC Alam Sutera, seperti diucapkannya di laman EMC,id, dikutip Selasa (17/6/2025).

Penyebab dan Gejala Chronic Fatigue Syndrome

Seorang wanita yang lelah dan stres akibat pekerjaan. (ijeab/depositphotos.com)

Penyebab pasti dari Chronic Fatigue Syndrome (CFS) masih menjadi misteri bagi dunia medis. Meskipun demikian, berbagai penelitian telah mengidentifikasi beberapa faktor yang mungkin berperan dalam perkembangan kondisi disabilitas ini. Infeksi virus atau bakteri, seperti mononukleosis atau influenza, sering dikaitkan dengan munculnya gejala CFS pada beberapa orang.

Selain infeksi, gangguan pada sistem imun juga diduga berkontribusi terhadap terjadinya CFS. Sistem kekebalan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik dapat memicu peradangan kronis dan menyebabkan kelelahan ekstrem. Ketidakseimbangan hormon, terutama yang terkait dengan kelenjar adrenal dan hipotalamus, juga dapat memainkan peran penting dalam perkembangan CFS.

Stres fisik atau emosional yang berkepanjangan dapat menjadi pemicu atau memperburuk gejala CFS. Faktor genetik juga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kondisi ini. "CFS bisa dialami oleh siapa saja, tetapi lebih umum terjadi pada wanita berusia 40–50 tahun," ungkap Elyanawati.

Lebih lanjut ia mengungkapkan gejala yang umum terjadi menyertai CFS:

  • Kelelahan ekstrem yang berlangsung lebih dari 6 bulan
  • Gangguan tidur seperti insomnia
  • Nyeri otot dan sendi tanpa sebab yang jelas
  • Gangguan kognitif (brain fog)
  • Sakit kepala, sakit tenggorokan, atau pembengkakan kelenjar getah bening
  • Memburuknya gejala setelah aktivitas (Post-Exertional Malaise/PEM)

Penanganan CFS

Penanganan Chronic Fatigue Syndrome (CFS) bersifat individual dan holistik, dengan fokus utama pada pengelolaan gejala dan peningkatan kualitas hidup penderita. Tidak ada obat tunggal yang dapat menyembuhkan CFS, namun berbagai terapi dan strategi dapat membantu meringankan gejala dan meningkatkan fungsi sehari-hari.

Terapi kognitif-behavioral (CBT) merupakan salah satu pendekatan yang efektif dalam membantu penderita CFS mengelola pikiran dan perilaku yang dapat memperburuk gejala. CBT membantu pasien untuk mengembangkan strategi koping yang lebih sehat dan meningkatkan kemampuan mereka untuk mengatasi stres. Terapi fisik bertahap (Graded Exercise Therapy) juga dapat bermanfaat dalam meningkatkan stamina dan mengurangi kelelahan.

Selain terapi, perubahan gaya hidup juga memainkan peran penting dalam penanganan CFS. Pola makan sehat dan bergizi, olahraga teratur (dengan batasan yang sesuai), manajemen stres yang efektif, dan tidur yang cukup sangat penting untuk mendukung kesehatan secara keseluruhan dan mengurangi gejala CFS. Konseling nutrisi juga dapat membantu memastikan asupan gizi yang seimbang.

Obat-obatan dapat digunakan untuk mengelola gejala spesifik seperti nyeri, gangguan tidur, dan depresi. Penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dan rencana penanganan yang sesuai dengan kondisi individu. Dukungan mental melalui konseling psikologis juga dapat membantu penderita CFS mengatasi dampak emosional dari kondisi ini dan meningkatkan kesejahteraan mereka secara keseluruhan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya