Investor AS Kembali Borong Bitcoin, Harga BTC Bakal Melonjak?

Minat beli juga tercermin dari data arus masuk ke ETF Bitcoin spot di AS. Enam dari sebelas ETF yang diperdagangkan mencatatkan total arus masuk sebesar USD 386,2 juta.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 12 Juni 2025, 06:00 WIB
Aset digital kripto Bitcoin. (Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Pasar kripto kembali menunjukkan sinyal optimisme setelah investor asal Amerika Serikat (AS) mulai agresif membeli Bitcoin (BTC). Lonjakan pembelian ini dinilai sebagai faktor pendukung kenaikan harga Bitcoin dalam jangka pendek hingga menengah.

Dikutip dari cryptopotato, Kamis (12/6/2025), menurut laporan platform analitik CryptoQuant, indeks Coinbase Premium—indikator yang mengukur minat beli investor AS terhadap BTC—telah menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan.

Analis CryptoQuant bernama Dan menyebut, tren kenaikan pasar sudah berlangsung sejak pertengahan April. Lonjakan minat beli ini dinilai memperkuat tren tersebut, sekaligus menandakan bahwa pasar belum menunjukkan gejala overheating atau kejenuhan beli.

"Ini adalah karakteristik umum dalam fase naik setelah koreksi," ujarnya.

Minat beli juga tercermin dari data arus masuk ke ETF Bitcoin spot di AS. Enam dari sebelas ETF yang diperdagangkan mencatatkan total arus masuk sebesar USD 386,2 juta hanya dalam satu hari perdagangan pada Senin lalu, setelah sebelumnya mencatatkan dua hari arus keluar.

Tak hanya itu, indikator 90-day Cumulative Volume Delta (CVD) untuk pasar spot BTC—yang mencerminkan dominasi antara pembeli dan penjual—berubah hijau untuk pertama kalinya dalam empat bulan, mengindikasikan dominasi pembeli.

Tak kalah menarik, CryptoQuant juga mencatat aktivitas akumulasi masif dari kelompok "paus baru"—investor besar dengan lebih dari 1.000 BTC dan usia kepemilikan koin kurang dari enam bulan. Dari 1 Maret hingga 4 Juni, kelompok ini menggandakan kepemilikannya dari 500.000 BTC menjadi sekitar 1,1 juta BTC, atau senilai sekitar USD 63 miliar.

Pangsa pasokan mereka kini mencapai 5,6% dari total BTC yang beredar, setara dengan hasil penambangan selama hampir sepuluh bulan. Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa minat institusional dan investor besar terhadap Bitcoin sedang meningkat tajam.

Strategy Kembali Borong Bitcoin, Nilainya Fantastis

Aset digital kripto Bitcoin. (Foto by AI)

Sebelumnya, Strategy kembali mengakuisisi Bitcoin senilai USD 110,2 juta atau kurang lebih Rp 1,7 triliun setelah nilai kripto tersebut mendekati level tertinggi.

Mengutip Cointelegraph, Selasa (10/6/2025) pengajuan ke US Securities and Exchange (SEC) pada hari Senin (9/6/2025) menunjukkan bahwa Strategy mengakuisisi 1.045 Bitcoin dengan harga rata-rata USD 105.426 atau sekitar Rp1,7 miliar per koin.

Perusahaan tersebut sekarang memegang 582.000 BTC yang diperoleh dengan harga sekitar USD 40,8 miliar (Rp 664,1 triliun) dengan harga rata-rata sekitar USD 70.086 (Rp 1,1 miliar) per BTC.

Pembelian tersebut menyusul pernyataan dari pendiri dan ketua eksekutif Strategy, Michael Saylor yang mengisyaratkan pembelian tersebut pada tanggal 8 Juni. Pembelian ini sekaligus menandai minggu kesembilan berturut-turut Strategy mengakuisisi Bitcoin.

Berita tentang pembelian terbaru tersebut muncul saat Bitcoin mendekati level tertinggi sepanjang masa.

Menurut CoinMarketCap, Bitcoin diperdagangkan pada harga USD 107.640 pada saat penulisan, hanya 3,9% lebih rendah dari level tertinggi sepanjang masa sekitar USD 112.000 pada bulan Mei 2025.

Penawaran Saham

Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (ParStud/depositphotos.com)

Akuisisi Bitcoin terbaru Strategy juga menyusul pengumuman penawaran saham senilai USD 1 miliar (Rp 16,2 triliun), yang melipatgandakan penggalangan dana senilai USD 250 juta.

Strategy berencana menggunakan hasil tersebut untuk mendanai akuisisi Bitcoin tambahan dan biaya perusahaan.

Penawaran saham tersebut menerbitkan 11,76 juta lembar Saham Preferen Seri A Perpetual Stride 10,00% milik Strategy seharga USD 85 per lembar. Setelah dikurangi biaya dari penjaminan emisi dan biaya lainnya, perusahaan berharap dapat mengumpulkan sekitar USD 979 juta.

Tidak seperti putaran penggalangan dana sebelumnya, penawaran ini memberikan dividen non-kumulatif sebesar 10%, yang dirancang untuk menarik minat investor institusional dan profesional yang mencari peluang menghasilkan imbal hasil.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya