Pengaruh politik uang (money politics) sejak pemilihan umun (Pemilu) tahun 2004 dan 2009 telah menghasilkan sistem politik yang korup. Indikasinya terlihat dari ratusan bupati di sejumlah daerah dan banyak anggota legislatif baik di daerah maupun di pusat yang terjerat kasus korupsi.
"Demokrasi bisa dibajak oleh mereka yang miliki infrastruktur dan uang. Mahasiswa harus mencegah terjadinya money politics pada Pemilu 2014" ujar mantan aktivis ITB Moh Jumhur Hidayat ketika berbicara pada Muktamar ke-8 Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) di kampus Universitas Terbuka, Tangerang Selatan (4/6). Muktamar ke-8 KAMMI mengangkat tema: Menyongsong Kebangkitan Peran Pemuda Indonesia ke Kancah Dunia dengan Gerakan Intelektual Profetik dan Semangat Keberislaman".
Jumhur menuturkan, politisi berduit ini bisa cepat populer karena bisa membeli media tv dan media kampanye lainnya. Sementara politisi idealis memiliki keterbatasan finansial untuk memperkenalkan gagasan populis pro kerakyatan.
Dia mengungkapkan, orang yang seumur-umurnya berkhianat dan tidak peduli kepada rakyat dengan upaya manipulasi sistemik bisa jadi berkuasa. Sebaliknya, orang-orang yang idealis dan tidak bisa memperkenalkan dirinya kepada publik terancam tidak terpilih.
Jumhur yang kini menjabat sebagai Kepala BNP2TKI meminta kepada mahasiswa untuk berada pada garis terdepan guna mencegah terus menerus berlangsungnya pembajakan demokrasi oleh kaum berduit dan berpengaruh.
Caranya, kata Jumhur, dengan jalan mulai selarang mengkampanyekan politik anti uang pada setap proses pemilihan anggota DPRD/DPR, Bupati, gubermur, hingga presiden.
"Mahasiswa harus bekerja membantu calon politisi idealis untuk memenangkan cita-cita politik mereka," pinta Jumhur
Caranya, lanjutnya, yaitu dengan mengenalkan gagasan politik mereka kepada rakyat dalam setiap aktivitas mahasiswa.
Dijelaskannya, yang bisa menjadikan demokrasi sistem yang fair adalah kita sendiri. Karena mahasiswa dan orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya alias (Golongan Putih/Golput) tidak boleh berdiam diri.
"Sikap diam dan apatisme kita bisa melanggengkan kekuasaan yang korup. Karena kaum cerdik pandai harus tampil bersikap untuk merubah Indonesia yang lebih baik," pintanya.
"Mahasiswa adalah inti daripada inti perubahan, harus bisa mengubah proses demokrasi yang kini dibajak oleh para pemilik uang," katanya.
Jumhur yang diminta mempresentasikan soal demokrasi, menegaskan bahwa kehidupan demokrasi ini dalam keadaan bahaya karena ketidakseimbangan antarindividu dalam berdemokrasi.
Ia menegaskan bahaya demokrasi adalah ketika tingkat kebebasan individu tidak seragam, tidak satu derajat yang sama, sehingga karena posisi yang tidak sama maka yang terjadi mobilisasi,
Oleh karena itu, katanya, mahasiswa sebagai komponen masyarakat yang memiliki kekuatan moral dapat memperbaiki kehidupan demokrasi.
"Dahulu pemuda mengasah bambu runcing untuk melawan penjajah bersenjata dan mengendarai tank, saat melawan rezim otoriter Orde Baru, mahasiswa mampu melawan pemerintahan Soeharto," katanya.
Ia menegaskan mahasiswa perlu memenangkan calon pemimpin di eksekutif maupuin legislatif yang benar-benar amanah bagi rakyat. (Ari)
"Demokrasi bisa dibajak oleh mereka yang miliki infrastruktur dan uang. Mahasiswa harus mencegah terjadinya money politics pada Pemilu 2014" ujar mantan aktivis ITB Moh Jumhur Hidayat ketika berbicara pada Muktamar ke-8 Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) di kampus Universitas Terbuka, Tangerang Selatan (4/6). Muktamar ke-8 KAMMI mengangkat tema: Menyongsong Kebangkitan Peran Pemuda Indonesia ke Kancah Dunia dengan Gerakan Intelektual Profetik dan Semangat Keberislaman".
Jumhur menuturkan, politisi berduit ini bisa cepat populer karena bisa membeli media tv dan media kampanye lainnya. Sementara politisi idealis memiliki keterbatasan finansial untuk memperkenalkan gagasan populis pro kerakyatan.
Dia mengungkapkan, orang yang seumur-umurnya berkhianat dan tidak peduli kepada rakyat dengan upaya manipulasi sistemik bisa jadi berkuasa. Sebaliknya, orang-orang yang idealis dan tidak bisa memperkenalkan dirinya kepada publik terancam tidak terpilih.
Jumhur yang kini menjabat sebagai Kepala BNP2TKI meminta kepada mahasiswa untuk berada pada garis terdepan guna mencegah terus menerus berlangsungnya pembajakan demokrasi oleh kaum berduit dan berpengaruh.
Caranya, kata Jumhur, dengan jalan mulai selarang mengkampanyekan politik anti uang pada setap proses pemilihan anggota DPRD/DPR, Bupati, gubermur, hingga presiden.
"Mahasiswa harus bekerja membantu calon politisi idealis untuk memenangkan cita-cita politik mereka," pinta Jumhur
Caranya, lanjutnya, yaitu dengan mengenalkan gagasan politik mereka kepada rakyat dalam setiap aktivitas mahasiswa.
Dijelaskannya, yang bisa menjadikan demokrasi sistem yang fair adalah kita sendiri. Karena mahasiswa dan orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya alias (Golongan Putih/Golput) tidak boleh berdiam diri.
"Sikap diam dan apatisme kita bisa melanggengkan kekuasaan yang korup. Karena kaum cerdik pandai harus tampil bersikap untuk merubah Indonesia yang lebih baik," pintanya.
"Mahasiswa adalah inti daripada inti perubahan, harus bisa mengubah proses demokrasi yang kini dibajak oleh para pemilik uang," katanya.
Jumhur yang diminta mempresentasikan soal demokrasi, menegaskan bahwa kehidupan demokrasi ini dalam keadaan bahaya karena ketidakseimbangan antarindividu dalam berdemokrasi.
Ia menegaskan bahaya demokrasi adalah ketika tingkat kebebasan individu tidak seragam, tidak satu derajat yang sama, sehingga karena posisi yang tidak sama maka yang terjadi mobilisasi,
Oleh karena itu, katanya, mahasiswa sebagai komponen masyarakat yang memiliki kekuatan moral dapat memperbaiki kehidupan demokrasi.
"Dahulu pemuda mengasah bambu runcing untuk melawan penjajah bersenjata dan mengendarai tank, saat melawan rezim otoriter Orde Baru, mahasiswa mampu melawan pemerintahan Soeharto," katanya.
Ia menegaskan mahasiswa perlu memenangkan calon pemimpin di eksekutif maupuin legislatif yang benar-benar amanah bagi rakyat. (Ari)