Muku Loto, Teknik Memasak Primitif dengan Batu Panas yang Masih Bertahan di Flores

Batu-batu tersebut kemudian disusun di dalam lubang tanah yang telah dialasi daun pisang atau daun lainnya yang tahan panas. Bahan-bahan utama muku loto terdiri dari ubi-ubian, sayuran, dan daging atau ikan.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 14 Juni 2025, 08:00 WIB
Ilustrasi batu

Liputan6.com, NTT - Muku loto, hidangan tradisional masyarakat Nagekeo di Flores, Nusa Tenggara Timur, masih mempertahankan teknik memasak primitif menggunakan batu panas. Metode kuno ini telah diwariskan turun-temurun.

Mengutip dari berbagai sumber, muku loto merupakan hidangan yang dimasak dengan memanfaatkan panas dari batu vulkanik. Proses pembuatannya diawali dengan memanaskan batu-batu besar di atas api hingga mencapai suhu tinggi.

Batu-batu tersebut kemudian disusun di dalam lubang tanah yang telah dialasi daun pisang atau daun lainnya yang tahan panas. Bahan-bahan utama muku loto terdiri dari ubi-ubian, sayuran, dan daging atau ikan.

Bahan-bahan ini dibungkus rapat dengan daun pisang sebelum dimasukkan ke dalam lubang berisi batu panas. Lubang kemudian ditutup rapat dengan daun dan tanah untuk mempertahankan panas selama proses pemasakan.

Proses memasak dengan metode ini memakan waktu sekitar 2-3 jam, tergantung pada jumlah dan jenis bahan yang dimasak. Panas dari batu vulkanik akan merata secara perlahan, menghasilkan tekstur yang lembut.

Teknik memasak muku loto memiliki kemiripan dengan metode memasak kuno masyarakat Austronesia. Beberapa ahli menyebutkan bahwa cara ini merupakan salah satu teknik memasak tertua yang masih bertahan hingga sekarang.

 

Kebersamaan

Masyarakat Nagekeo percaya bahwa metode memasak ini bukan sekadar cara mengolah makanan, tetapi juga mengandung nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong. Proses pembuatan muku loto biasanya melibatkan banyak orang, mulai dari menyiapkan bahan, memanaskan batu, hingga menyusun bahan makanan di dalam lubang.

Teknik memasak muku loto tetap dipertahankan oleh masyarakat Nagekeo. Hidangan ini sering disajikan dalam acara-acara adat penting seperti pernikahan, upacara panen, atau penyambutan tamu kehormatan.

Beberapa desa di Kabupaten Nagekeo masih memiliki tempat khusus untuk memasak muku loto. Lokasi ini biasanya berupa tanah lapang yang dilengkapi dengan lubang-lubang khusus yang telah digunakan secara turun-temurun.

Penulis: Ade Yofi Faidzun

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya