Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina mengingatkan bahwa titik krusial pelaksanaan ibadah haji bukan hanya terjadi pada saat puncak haji, tetapi justru setelahnya.
Menurut dia, pada momen itu kondisi jemaah haji umumnya mulai kelelahan baik secara fisik maupun psikis, terutama bagi jemaah lansia dan penyandang disabilitas.
Advertisement
"Banyak dari mereka mengalami gangguan psikis karena terpisah dari pendampingnya atau pasangan. Ini sangat rentan, apalagi bagi lansia dan disabilitas," kata Selly, seperti dikutip dari Antara, Jumat (6/6/2025).
Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI itu meminta Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan skenario teknis untuk menangani fase pasca-puncak haji secara terstruktur.
Menurut dia, kurangnya mitigasi risiko dapat memperburuk kondisi jemaah dan berdampak pada tingginya angka kematian maupun gangguan kesehatan.
"Tidak hanya saat puncak haji, tetapi justru pascapuncaknya harus diantisipasi seperti apa. Jika tidak, akan berdampak luas bukan hanya pada lansia dan disabilitas, melainkan juga pada jemaah lain yang ikut membantu mereka," kata Selly.
Masih Sering Miskomunikasi dengan Syarikah
Selain itu, dia juga mengingatkan bahwa komunikasi yang jelas antara syarikah, Kemenag, dan seluruh lapisan petugas haji di lapangan merupakan hal yang penting untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan pelayanan haji.
Selly menilai, sejauh ini masih banyak miskomunikasi yang terjadi karena informasi hanya berhenti di tingkat pusat dan tidak tersampaikan merata kepada petugas teknis di lapangan seperti ketua kloter, pembimbing ibadah, petugas konsumsi, dan transportasi.
"Ini yang menyebabkan banyak masalah, bahkan ada sejumlah anggota jemaah yang diturunkan di tengah jalan. Ini sangat mengkhawatirkan," kata dia
Ia menekankan bahwa keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji bukan hanya diukur dari lancarnya puncak ibadah, melainkan juga dari keselamatan dan kenyamanan jemaah hingga akhir perjalanan haji.
Untuk itu, dia meminta Pemerintah memastikan sistem komunikasi dan koordinasi lapangan berjalan efektif dan tidak menimbulkan kebingungan di kalangan jemaah.
Muzdalifah Clear, Seluruh Jemaah Haji Kini Mabit di Mina
Tahapan jemaah haji Indonesia untuk Mabit (menginap) di Muzdalifah dinyatakan selesai. Pada hari kedua puncak haji atau Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) ini, seluruh jemaah haji Indonesia dipastikan sudah meninggalkan area Muzdalifah, Jumat (6/6/2025) atau 10 Zulhijah 1446 H.
Kepala Bidang Pelindungan Jemaah (Kabid Linjam) PPIH Arab Saudi yang juga Kepala Satuan Operasional (Kasatops) Armuzna, Harun Al Rasyid mengatakan, seluruh jemaah haji Indonesia telah meninggalkan Muzdalifah menuju Mina.
Setelah menyelesaikan prosesi Wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah atau Kamis, 5 Juni 2025, jemaah haji Indonesia secara bertahap diberangkatkan menuju Muzdalifah usai masuk waktu Magrib untuk mabit atau bermalam.
Advertisement Gula itu normal tanpa pil dan insulin!Pelajari Lebih Setelah lewat tengah malam, seluruh jemaah secara bertahap diberangkatkan menuju Mina untuk menjalankan rangkaian puncak ibadah haji lainnya.
“Hari ini, kami berada di Muzdalifah, tepatnya Jumat, 10 Zulhijjah 1446 H, telah dilaksanakan mabit seluruh jemaah haji Indonesia. Pagi ini, tepatnya pukul 09.40 WAS, Muzdalifah kami nyatakan clear,” ujar Harun, seperti dikutip dari laman kemenag.go.id, Jumat.
“Jemaah haji Indonesia seluruhnya telah terdorong menuju Mina. Semoga keberkahan menyertai kita semua,” sambungnya.
Tahapan Wukuf di Arafah Selesai
Sebelumnya, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama (Kemenag) Hilman Latief juga telah mengumumkan selesainya tahapan puncak haji di Arafah.
Dia melaporkan, seluruh jemaah haji Indonesia sudah diberangkatkan dari Arafah menuju Muzdalifah dan Mina pada 10 Zulhijjah 1446 H pukul 03.30 dini hari waktu setempat.
“Kami ingin sampaikan bahwa alhamdulillah pada hari ini, 10 Zulhijjah 1446 H, pukul 03.30 kami nyatakan bahwa seluruh jemaah haji Indonesia dari Arafah sudah terevakuasi ke Muzdalifah dan juga Mina,” terang Hilman Latief di Arafah.
“Dengan ini kami nyatakan bahwa penyelenggaraan haji di Arafah kami tutup,” sambungnya.
“Insya Allah jemaah haji Indonesia mendapat haji mabrur,” tandasnya.
Setelah sampai Mina, jemaah akan melakukan lontar jumrah Aqabah pada 10 Zulhijjah, serta lontar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah pada Hari Tasyriq. Jemaah yang mengambil nafar Awal akan kembali ke Makkah pada 12 Zulhijjah sebelum terbenam matahari. Sementara jemaah yang mengambil Nafar Tsani akan kembali ke Makkah pada 13 Zulhijjah 1446 H.