Mengulik Inovasi Pewarna Pakaian Berkelanjutan yang Dibuat dengan Kode DNA Warna

Dengan memanfaatkan teknologi DNA, mikroba bisa mereplikasi warna dari alam. Teknologi ini menawarkan solusi pewarnaan kain yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

oleh Dyah Ayu PamelaDiperbarui 05 Juni 2025, 17:30 WIB
Credit: APR

Liputan6.com, Jakarta - Industri fesyen global kini menyaksikan terobosan besar dalam pewarnaan kain berkat inovasi dari Colorifix, sebuah perusahaan bioteknologi yang berbasis di Inggris. Tahun ini, Colorifix berhasil menambahkan warna hijau dan jingga ke dalam palet pewarna alami mereka, memperluas spektrum warna yang dapat ditawarkan kepada para pelaku industri mode yang mengedepankan keberlanjutan.

Mengutip dari laman Euronews, Kamis (5/6/2025), dari warna merah cerah pada bulu burung beo hingga biru dan ungu yang menawan dari tanaman Indigo, alam menawarkan spektrum warna yang kaya dan beragam. Colorifix mencoba meniru keindahan ini melalui pendekatan inovatif yang menggabungkan ilmu genetika dan bioteknologi.

Dengan menggunakan kode DNA untuk warna yang ditemukan di alam, perusahaan ini mengajarkan mikroba untuk menciptakan kembali warna-warna tersebut. Pendiri Colorifix, Orr Yarkoni dan Jim Ajioka, terinspirasi untuk memulai perjalanan ini setelah melihat langsung dampak buruk pewarna sintetis terhadap lingkungan selama kunjungan penelitian ke Nepal pada 2013. 

Pengakuan Global dan Penghargaan Earthshot

Ilustrasi pakaian hangat yang dapat dibawa saat traveling ke negara dingin (Foto/Sumber: Pexels.com/Arina Krasnikova)

Sungai-sungai di Kathmandu yang tercemar menjadi motivasi bagi mereka untuk mencari solusi pewarnaan yang lebih ramah lingkungan. Setelah satu dekade penelitian dan pengembangan, Colorifix mendapatkan pengakuan sebagai finalis Earthshot Prize 2023, penghargaan lingkungan bergengsi yang diciptakan oleh Pangeran William dari Inggris.

Penghargaan ini tidak hanya memvalidasi dampak positif dari solusi yang ditawarkan oleh Colorifix, tetapi juga membuka jaringan dan sumber daya yang diperlukan untuk meningkatkan skala operasional mereka. Andreas Andren, kepala pengembangan bisnis di Colorifix, menyatakan bahwa dukungan dari Earthshot Prize sangat penting untuk mengatasi tantangan dalam meningkatkan skala teknologi pewarnaan mereka.

"Bioteknologi itu hebat, tetapi secara keseluruhan mahal untuk dijalankan dan ditingkatkan skalanya," jelas Andren. "Bagian dari inovasi yang harus kami terapkan adalah perangkat keras untuk membuat skala bioteknologi kompetitif dengan manufaktur bahan kimia komoditas."

 

Teknologi dan Tantangan Kekayaan Intelektual

Circular fashion hanya menggunakan bahan-bahan yang berkualitas tinggi untuk menciptakan pakaian yang tak hanya trendi tapi juga tahan lama. (Foto dok: Freepik/wirestock).

Colorifix menggunakan pendekatan yang unik dalam menciptakan pewarna alami mereka. Proses ini dimulai dengan mengidentifikasi warna alami yang dihasilkan oleh hewan, tumbuhan, atau mikroba.

Para ilmuwan kemudian menelusuri basis data publik untuk menemukan kode DNA yang dapat mereplikasi warna tersebut. Kode ini kemudian dimasukkan ke dalam mikroba hasil rekayasa hayati seperti ragi, yang kemudian menghasilkan pewarna dalam jumlah besar melalui proses fermentasi.

Namun, mematenkan solusi ini menghadirkan tantangan tersendiri. Alih-alih mematenkan organisme hasil rekayasa, Colorifix memilih untuk mematenkan proses produksi, penimbunan, dan pengikatan pewarna pada kain.

"Untuk meraup semua manfaat dari teknologi kami, seperti fleksibilitas dan paritas biaya, rumah pewarna perlu memasang bioreaktor milik kami di lokasi," kata Andren. Kini Colorifix telah bermitra dengan beberapa merek mode terkemuka seperti Pangaia dan Vollebak untuk memasarkan produk yang diwarnai dengan teknologi mereka. 

Dampak Positif pada Industri Mode

Ilustrasi Hanger. (Foto: Priscilla Du Preez 🇨🇦/Unsplash)

Perusahaan ini juga berencana untuk memperluas operasionalnya ke Asia Selatan dalam waktu dekat. Tujuan mereka adalah untuk meningkatkan permintaan pewarna berkelanjutan di seluruh rantai pasokan mode secara global.

Warna-warna baru seperti hijau dan jingga yang berhasil diciptakan tahun ini akan bergabung dengan palet utama Colorifix yang sudah mencakup tiga pigmen lainnya seperti Indigo, Blushing Rose, dan Sunlit Pasir. Pewarna alami ini menawarkan solusi yang lebih ramah lingkungan, mengurangi polusi kimia hingga 80 persen dan menghemat air secara signifikan dibandingkan dengan pewarna sintetis.

Dengan terus mengembangkan teknologi dan memperluas jangkauan warna, Colorifix berpotensi merevolusi industri mode dengan menawarkan alternatif yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Inovasi ini tidak hanya mengurangi dampak negatif terhadap alam, tetapi juga membuka jalan bagi masa depan industri mode yang lebih hijau dan bertanggung jawab.

 

Macam-macam material fesyen berkelanjutan. (dok. Liputan6.com/Trie Yasni)

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya