Liputan6.com, Jakarta - Haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci. Ia adalah latihan spiritual, sosial, dan moral yang menyeluruh, tempat di mana setiap jiwa dipanggil untuk menyucikan niat, merapikan akhlak, serta meneguhkan kembali nilai-nilai ketauhidan.
Demikian ceramah dari Prof Aswadi, Konsultan Bimbingan Ibadah Haji Daker Madinah di Sektor 2, Hotel 218, Hotel Al Khulafa, Makka, Arab Saudi, Selasa, 2-Juni 2025.
Advertisement
"Setiap langkah di tanah Arafah, Muzdalifah, dan Mina bukanlah rutinitas ritual belaka, tetapi jejak-jejak perenungan yang menghantarkan kita pada inti kemanusiaan dan ketakwaan," ujar Prof Aswadi.
Dia pun mengingatkan para jemaah untuk menjaga kesehatan, akhlak, dan kehormatan diri. Apalagi di dunia yang serba digital seperti hari ini, satu kesalahan kecil bisa viral dan mencoreng banyak kebaikan yang telah dibangun.
"Maka saya katakan, ciptakanlah sedikit kebaikan yang mampu menutupi banyak kesalahan, jangan sebaliknya, biarkan satu kesalahan menghancurkan sekian banyak kebaikan," kata dia.
Aswadi mengatakan, d Tanah Suci, jemaah haji adalah mereka yang terpilih. Maka dari itu, tanamkan rasa syukur sedalam-dalamnya. Doakan keluarga, saudara, bangsa. Gunakan setiap momentum suci untuk mendoakan kedamaian dan keberkahan bagi Indonesia. Bangsa ini butuh insan-insan yang kembali dari Haji dengan jiwa bersih dan semangat membangun.
"Saya sering katakan, Ka'bah boleh terhalang tembok, tapi hati tidak. Komunikasi spiritual tidak mengenal jarak, sebab sesungguhnya Baitullah juga bersemayam di hati orang-orang yang ikhlas. Maka bersihkanlah hati sebelum menunaikan rukun. Tidak cukup hanya mandi jasmani, tetapi juga mandi ruhani—membersihkan niat dan menyempurnakan keikhlasan," kata dia.
"Ada juga hal teknis yang sering saya ingatkan kepada para jamaah: soal niat, pakaian ihram, mandi sunnah, hingga larangan-larangan seperti menutup kepala bagi pria atau memakai kaus tangan bagi wanita. Semua ini bukan sekadar simbol, tapi bentuk ketaatan yang mendidik kedisiplinan spiritual," sambung Aswadi.
Jangan Sia-siakan Wukuf di Arafah
Aswadi juga meminta jemaah haji bisa mandiri. Sebab, petugas haji jumlahnya terbatas. Jangan resah jika tak melihat mereka setiap saat. Apalagi, kata dia, haji adalah perjalanan yang menuntut kedewasaan dalam ibadah. Dalam banyak hal, jemaah harus siap menolong diri sendiri sekaligus sesama, bukan bergantung penuh pada petugas.
"Saya juga sampaikan kepada para jemaah: wukuf di Arafah adalah inti haji. Jangan sia-siakan waktu dari zawal hingga Maghrib hanya dengan tidur atau berbincang tanpa arah. Gunakan untuk bermunajat. Tangisilah dosa-dosa. Mohonlah ampunan. Di sanalah Allah membuka pintu langit dengan seluas-luasnya," kata dia.
Aswadi mengatakan, pulang dari haji bukan sekadar membawa gelar haji di depan nama, melainkan membawa kesadaran baru: bahwa setiap kita adalah agen perubahan.
Haji bukan akhir, tetapi awal dari jihad sosial dan moral yang lebih besar di tanah air. Kita membawa oleh-oleh yang tidak kasat mata yakni keikhlasan, kesabaran, kedisiplinan, dan kepedulian.
"Semoga Haji tahun ini menjadi momentum kebangkitan moral umat. Mari kita pulang tidak hanya sebagai hamba yang diampuni, tapi sebagai insan yang siap menjadi cahaya bagi sekitar. Di tengah tantangan bangsa yang kompleks, semoga para haji menjadi penggerak nilai-nilai rahmatan lil 'alamin," tutup Aswadi.