Liputan6.com, Yogyakarta - Sendang Beji Logantung terletak di Dusun Logantung, Desa Sumberejo, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul. Mata air ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber air, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang tinggi dalam kepercayaan masyarakat setempat.
Airnya dianggap keramat dan dipercaya memiliki khasiat penyembuhan. Kesakralan sendang ini dijaga melalui ritual tahunan bernama sadranan, yang menurut legenda setempat harus dilaksanakan agar terhindar dari bencana. Mengutip dari berbagai sumber, keberadaan Sendang Beji Logantung dikaitkan dengan tokoh spiritual bernama Kyai Panjang Mas. Konon, seorang warga pernah bermimpi didatangi sosok bertubuh tinggi besar berpakaian hitam.
Advertisement
Sosok tersebut memberikan peringatan bahwa kawasan itu akan berubah menjadi lautan apabila sumber mata air tidak ditutup menggunakan kepala kerbau dan ijuk batang aren. Peringatan itu juga menyebutkan pentingnya pelaksanaan ritual sedekah bumi secara tahunan.
Masyarakat setempat kemudian meyakini mimpi tersebut sebagai pesan leluhur dan memutuskan untuk melaksanakan Sadranan sebagai wujud penghormatan. Sadranan dilaksanakan setiap bulan Ruwah dalam kalender Jawa, tepatnya pada Rabu Pahing.
Prosesi ritual dimulai dengan penyiapan sajen berupa tumpeng, nasi gurih, ingkung (ayam utuh), kembang telon, dan hasil bumi. Sajen tersebut diarak dari rumah kepala dusun menuju sendang, diiringi kesenian tradisional seperti jaranan, reog, dan hadrah.
Penyembuhan
Masyarakat percaya bahwa air sendang yang diambil selama sadranan memiliki khasiat penyembuhan. Sendang Beji Logantung dianggap sebagai tempat bersemayamnya kekuatan gaib.
Ritual sadranan bertujuan untuk menjaga harmoni antara manusia, alam, dan leluhur. Kepercayaan ini diperkuat dengan adanya prasasti Trisoka di sekitar sendang yang berisi pesan agar manusia senantiasa mencari kebenaran sejati.
Sadranan telah menjadi sarana pemersatu masyarakat. Air dari Sendang Beji Logantung juga mengairi sawah dan tegalan warga.
Debitnya tetap stabil meski pada musim kemarau, sehingga menjadi penopang pertanian di wilayah tersebut. Beberapa warga memanfaatkan momentum sadranan untuk berjualan makanan dan cenderamata.
Penulis: Ade Yofi Faidzun