PSG dan Barcelona: Menganalisis Perbedaan dari Dua Tim Pengusung Filosofi Menyerang

Pelajaran dari PSG bisa menjadi panduan bagi Barcelona untuk menapaki jalur menuju kejayaan Eropa musim depan.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 02 Juni 2025, 12:57 WIB
Pelatih PSG, Luis Enrique, mengangkat trofi Liga Champions 2024/2025 setelah mengalahkan Inter Milan dengan skor telak 5-0, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB di Allianz Arena. (AP Photo/Martin Meissner)

Liputan6.com, Jakarta Barcelona mengakhiri musim Liga Champions dengan kepala tegak meski langkah mereka dihentikan Inter Milan di semifinal. Perhatian kini beralih ke Paris Saint-Germain (PSG) yang sukses menjuarai kompetisi lewat kemenangan telak 5-0 atas Inter di final. Itu pencapaian yang tak hanya mengukir sejarah, tetapi juga membuka ruang refleksi bagi Blaugrana.

Pertanyaan pun muncul: apa yang bisa dipelajari Barcelona dari PSG dan Luis Enrique? Sama-sama masuk ke musim ini dengan keraguan publik, kedua klub justru membungkam kritik dengan filosofi menyerang yang penuh keberanian. Namun, di antara kesamaan, ada perbedaan yang patut dianalisis.

Luis Enrique dan Hansi Flick layak mendapat pujian atas cara mereka membangun tim dari kondisi yang tak ideal. Kini, pelajaran dari PSG bisa menjadi panduan bagi Barcelona untuk menapaki jalur menuju kejayaan Eropa musim depan.


Membangun dari Keterbatasan

Pelatih Barcelona, Hansi Flick meminta timnya belajar dari kesalahan dan kembali ke jalur kemenangan. (Josep LAGO/AFP)

Musim ini, PSG kehilangan Kylian Mbappe, sementara Barcelona memulai era baru bersama Flick setelah musim panas yang relatif sepi. Keduanya diprediksi tak akan melangkah jauh. Namun, kenyataannya, kedua pelatih berhasil menyulap keraguan menjadi kekuatan.

Luis Enrique mempertahankan filosofi menyerang meski komposisi skuadnya berubah drastis. Flick, di sisi lain, menanamkan sistem baru dengan formasi 4-2-3-1 yang memberikan fleksibilitas bagi para pemain muda Barcelona. Keduanya menunjukkan bahwa kualitas pelatih bisa melampaui kekuatan nama besar dalam skuad.

Yang membedakan keduanya adalah hasil akhir. PSG menjadi juara, Barcelona hanya semifinalis. Akan tetapi, proses yang dijalani menunjukkan dua pendekatan yang berbeda dalam merespons tantangan.


Filosofi Serupa, Eksekusi Berbeda

Pemain PSG Achraf Hakimi merayakan gol bersama Ousmane Dembele saat final Liga Champions melawan Inter Milan di Allianz Arena, Minggu, 1 Juni 2025. (AP Photo/Matthias Schrader)

Baik PSG maupun Barcelona sama-sama menolak pendekatan defensif. Mereka bermain terbuka, dengan tujuan mencetak lebih banyak gol daripada kebobolan. Namun, secara struktural, pendekatan mereka punya perbedaan yang krusial.

PSG bermain dengan garis pertahanan tinggi, tapi tetap menjaga struktur saat transisi. Mereka menerapkan pressing yang lebih konsisten sepanjang musim. Barcelona, meski agresif di awal, perlahan kehilangan intensitas pressing, membuat lini belakang mereka lebih terekspos.

Perbedaan pendekatan ini menjadi penentu di babak gugur. PSG menghadapi rintangan berat melawan Brest, Liverpool, Aston Villa, dan Arsenal, tetapi tetap solid. Sementara itu, Barcelona tergelincir saat menghadapi Inter, sebagian karena kelelahan dan kurangnya alternatif di lini belakang.

Lanjut Baca:

Satu hal yang jelas dari keberhasilan PSG adalah kedalaman skuad. Di lini belakang, pasangan Achraf Hakimi dan Nuno Mendes memberi kontribusi dua arah yang luar biasa. Barcelona punya Kounde dan Balde, tapi saat cedera datang, tak ada pelapis setara. Di lini tengah, PSG tampil dominan dengan trio Joao Neves, Vitinha, dan Fabian Ruiz. Mereka menguasai bola dan ruang dengan cerdas. Barcelona, meski memiliki Pedri sebagai otak permainan, belum memiliki keseimbangan yang sama. Flick memilih Olmo untuk peran nomor 10, membuat tim lebih menyerang tapi rentan di tengah. Apakah solusi Barcelona adalah menambah satu gelandang kreatif? Atau memperkuat struktur pressing? Ini pertanyaan besar yang harus dijawab menjelang musim depan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya