Di Tengah Riuh Juara, Ada Keheningan: Sebuah Kisah Tentang Xana

Bagi Luis Enrique, juara Liga Champions bersama PSG bukan hanya lambang kejayaan, melainkan juga jembatan emosional yang menghubungkannya dengan sang buah hati yang telah tiada.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 02 Juni 2025, 09:01 WIB
Pelatih PSG, Luis Enrique, merayakan kemenangan di final Champions League melawan Inter Milan di Allianz Arena, Munich, Jerman, Sabtu, 31 Mei 2025. (AP Photo/Alexandra Beier)

Liputan6.com, Jakarta Di tengah riuh selebrasi Paris Saint-Germain (PSG) usai kemenangan bersejarah di final Liga Champions, ada momen hening yang menyentuh hati di pinggir lapangan. Luis Enrique, pelatih yang baru saja mencatat sejarah dengan membawa dua klub berbeda menjuarai Liga Champions, menepi dari perayaan besar untuk mengenang sosok kecil yang sangat berarti dalam hidupnya: putrinya, Xana.

PSG menggasak InterMilan dengan skor telak 5-0 di Allianz Arena, Munich, malam yang akan dikenang selamanya dalam sejarah klub Prancis itu. Namun, bagi Enrique, trofi itu bukan hanya lambang kejayaan, melainkan juga jembatan emosional yang menghubungkannya dengan sang buah hati yang telah tiada.

Usai peluit panjang dibunyikan, Enrique mengganti pakaiannya dengan kaus khusus bergambar Xana — foto ikonik dari malam final di Berlin tahun 2015, saat dia membawa Barcelona juara. Di dalam gambar itu, Xana kecil terlihat bahagia mengibarkan bendera klub di tengah lapangan.


Xana, Selalu Ada di Setiap Momen

Pelatih Barcelona, Luis Enrique, dan putrinya, Xana, melambaikan bendera setelah pertandingan Final Liga Champions UEFA antara Juventus dan FC Barcelona di Stadion Olimpiade di Berlin pada 6 Juni 2015. FC Barcelona memenangkan pertandingan dengan skor 1-3. (LLUIS GENELLUIS GENE/AFP)

Xana meninggal dunia pada Agustus 2019 setelah berjuang melawan osteosarkoma, jenis kanker tulang yang langka dan agresif. Di usia sembilan tahun, dia telah menuliskan kenangan yang tak akan pernah pudar di hati sang ayah.

Salah satu kenangan paling kuat adalah ketika dia menemani Luis Enrique di final Liga Champions 2015, berlari kecil di lapangan sambil membawa bendera besar Barcelona. Gambar itu bukan hanya simbol kemenangan, tapi juga cinta antara ayah dan anak yang abadi.

Menjelang final melawan Inter, Enrique mengakui bahwa dia sudah membayangkan momen serupa terjadi. “Saya punya kenangan luar biasa karena putri saya sangat menyukai pesta dan saya yakin dia masih merayakannya di mana pun dia berada,” ucapnya kepada para wartawan.


Kemenangan yang Membawa Rasa Kehilangan

Luis Enrique bersama anaknya, Xana, ketika Barcelona menjadi juara Liga Champions pada 2015. (AFP/Odd Andersen)

Luis Enrique tak hanya mengenang, tapi juga merancang caranya sendiri untuk merayakan hidup Xana. Dia berharap bisa kembali menanamkan bendera, kali ini bendera PSG, di lapangan Munich sebagai bentuk penghormatan spiritual bagi sang putri.

“Saya ingat foto luar biasa bersama dia di final Liga Champions di Berlin, setelah kami menang, menanamkan bendera FC Barcelona di lapangan. Saya harap bisa melakukan hal yang sama bersama PSG,” ujarnya. “Putri saya tidak akan ada di sana secara fisik, tapi dia akan hadir secara spiritual. Itu sangat penting bagi saya.”

Lanjut Baca:

Dia menambahkan, “Saya termotivasi untuk terus maju dengan apa pun yang diberikan hidup, membaginya bersama keluarga saya.” Dalam setiap langkah, Xana tetap menjadi cahaya yang membimbingnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya