Liputan6.com, Jakarta PSG tak hanya meraih gelar Liga Champions pertamanya, tetapi juga menunjukkan dominasi total di panggung Eropa. Kemenangan telak 5-0 atas Inter Milan di Allianz Arena menjadi simbol superioritas bukan hanya di atas lapangan, tapi juga dalam kekuatan finansial.
Trofi Liga Champions memang jadi incaran utama, namun uang tetap berbicara banyak. PSG dan Inter sama-sama mengantongi pemasukan masif dari UEFA, bahkan sebelum final dimulai. Kompetisi elite ini telah menjadi mesin uang utama bagi klub-klub raksasa Eropa.
Advertisement
Di tengah krisis finansial di liga masing-masing, keberhasilan di Liga Champions menjadi sumber napas baru. Kemenangan PSG dan keberhasilan Inter menembus final mencerminkan bagaimana uang di panggung Eropa kini lebih vital dari sekadar prestise.
Uang di Panggung Eropa, Nafas Panjang Klub Elite
Sejak diambil alih Qatar Sports Investments, PSG mendominasi Ligue 1 namun terus gagal di Eropa—hingga musim ini. Gelar juara yang akhirnya diraih lewat kemenangan telak atas Inter menandai babak baru dalam sejarah mereka.
PSG diperkirakan mengantongi lebih dari 140 juta euro dari perjalanan mereka di Liga Champions musim ini. Angka tersebut memecahkan rekor pemasukan yang sebelumnya dipegang Real Madrid, dan mencerminkan betapa besar nilai ekonomi kompetisi ini.
Sementara Inter Milan yang finis sebagai runner-up tetap mendapatkan pemasukan yang sangat signifikan. Pencapaian mereka membantu menambal lubang keuangan akibat rendahnya nilai hak siar Serie A dibanding liga top Eropa lainnya.
Liga Domestik Tak Lagi Menguntungkan
Meski PSG sukses di Eropa, kondisi domestik mereka menyimpan ironi. Pembatalan kontrak siaran Ligue 1 dengan DAZN membuat klub-klub Prancis terjebak ketidakpastian finansial.
Bahkan klub sekelas PSG hanya menerima sekitar 22 juta euro dari pendapatan domestik musim ini. Sebaliknya, Liga Champions memberikan hingga tiga kali lipat hanya untuk klub debutan seperti Brest.
Ketimpangan ini membuat Liga Prancis semakin tidak seimbang. Kemenangan PSG di Eropa justru memperlebar jurang antara mereka dan para pesaing domestiknya yang terus tertinggal secara finansial.
Fenomena Serupa di Berbagai Negara
Kesenjangan serupa terjadi di berbagai liga Eropa. Di Moldova, Sheriff Tiraspol mengantongi 24 juta euro dari Liga Champions—angka yang lebih besar dari total pemasukan seluruh liga domestik mereka.
Di Portugal, dominasi Porto, Benfica, dan Sporting terus berlanjut berkat partisipasi rutin di kompetisi Eropa. Musim lalu saja, empat klub teratas meraih 161 juta euro dari 587 juta euro total pendapatan liga, sebagian besar bersumber dari UEFA.
Ketimpangan ini bukan hal baru, tapi makin memburuk karena struktur Liga Champions memperkuat dominasi klub-klub mapan. Kini, sejarah dan kekuatan finansial saling menopang dalam lingkaran yang sulit diputus.