Potensi B2C: Mengurai Tantangan di Tengah Situasi Ekonomi

Naiknya tren pangan olahan bergizi dan kebutuhan nasional, menjadikan perusahaan olahan pangan tetap optimis memasuki pasar bussines to consumer.

oleh Edhie Prayitno IgeDiterbitkan 05 Juni 2025, 21:00 WIB
CEO PT Red Ribbon Indonesia Darmadi Marpauli (tengah) membagikan bingkisan anak yatim sebagai penanda peluncuran  logo dan packaging baru brands Nic's Food untuk bekal masuk pasar Business to Consumer (B2C). Foto: liputan6.com/edhie prayitno ige 

Liputan6.com, Semarang - Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, banyak perusahaan manufaktur terpaksa mengurangi karyawan atau bahkan menutup usaha. Namun, PT Red Ribbon Indonesia, melalui merek Nic’s Food, justru mengambil langkah yang berani. “Kami manfaatkan momentum ini untuk memperluas lini ritel,” kata CEO PT Red Ribbon Indonesia, Darmadi Marpauli.

Persaingan di pasar pangan siap saji yang ketat, dengan konsumen rumah tangga yang memilih produk sehat, praktis, dan bergizi. Hal itu mendorong perusahaan adaptasi dengan perubahan preferensi konsumen. Nic’s Food meluncurkan logo dan kemasan baru berdesain minimalis dan modern. Mengandalkan lima produk unggulan (Ebi Furai, Calamari Katsu, Chicken Katsu, Fish Stick Katsu, dan Shrimp Butterfly) kemasan dikreasikan agar mudah dikenali di rak supermarket. "Desain ini mendekatkan kami dengan konsumen rumah tangga,” kata Darmadi. 

Sebagai penanda, PT Red Ribbon Indonesia menggelar kegiatan bhakti sosial dengan donasi berupa uang tunai ke beberapa panti asuhan, seperti Panti Asuhan Mizan Amanah Rawa Badak, Yayasan Cikal Cendekia Salsabila, Yayasan Darul Ikhlas, dan Yayasan Bina Sosial. Perubahan logo dan kemasan ini adalah upaya Nic's Food untuk memasuki Bussines to Consumer. Sebelumnya, selama 40 tahun mereka bermain aman di segmen Business to Business (B2B).

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya