7 Respons Berbagai Pihak Terkait Rencana Pemasangan Permanen Stairlift Candi Borobudur

Menteri Kebudayaan atau Menbud Fadli Zon menyebut stairlift yang ada di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah (Jateng) rencananya akan dibangun permanen.

oleh Devira PrastiwiDiterbitkan 01 Juni 2025, 11:00 WIB
Candi Borobudur sebagai warisan dunia UNESCO dan ikon kebanggaan Indonesia, telah direvitalisasi untuk memastikan kelestarian dan daya tariknya sebagai destinasi wisata kelas dunia. (Dok Danareksa)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kebudayaan atau Menbud Fadli Zon menyebut stairlift yang ada di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah (Jateng) rencananya akan dibangun permanen.

Untuk diketahui, stairlift itu awalnya dibangun sementara untuk menyambut kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Candi Borobudur pada Kamis 29 Mei 2025.

"Kita harapkan (permanen), nanti ini uji coba dulu yaa (stairlift di Candi Borobudur)," kata Menbud Fadli Zon di Candi Borobudur Jawa Tengah, Kamis 29 Mei 2025.

Dia mengungkapkan, semua cagar budaya di dunia sudah dipasangkan starlift. Untuk itu, Fadli Zon menilai tak ada masalah apabila stairlift juga dipasang di Candi Borobudur.

Namun, hal itu mendapat respons dari sejumlah pihak. Salah satunya seniman dan budayawan asal Yogyakarta, Jumaldi Alfi tak sepakat dengan rencana Menbud Fadli Zon yang akan membangun permanen stairlift Candi Borobudur.

"Yang jelas saya tak setuju dan menyayangkan pemasangan tersebut," kata dia kepada Liputan6.com, Sabtu 31 Mei 2025.

Jumaldi mengungkapkan, niatan tersebut disebutnya sebagai tunabudaya. Dipandangnya tak menghargai yang sudah ada.

"Tak menghargai kebudayaan bangsa sendiri," tutur dia.

Berbeda, Direktur Forum Buddhis Indonesia (FBI) Adian Radiatus menilai, pemasangan penganjung tangga di Candi Borobudur merupakan bentuk kemudahan dan keterbukaan tempat ibadah umat Buddha tersebut untuk aktivitas keagamaan, wisata, maupun penelitian.

"Tentu pemasangan ini sudah dipikirkan sangat matang, termasuk mengedepankan aspek konservasi candi itu sendiri. Pemerintah tentu tidak mungkin ingin merusak apalagi menghancurkan sebuah situs peninggalan yang bernilai," ujar Adian di Jakarta, Kamis, dikutip dari Antara.

Berikut sederet respons sejumlah pihak terkait rancangan pemasangan permanen stairlift Candi Borobudur dihimpun Tim News Liputan6.com:

 

1. Rencana Menbud Fadli Zon Stairlift di Candi Borobudur Bakal Permanen

Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada Senin (12/5/2025) mengunjungi Kawasan Candi Borobudur, lokasi utama perayaan Hari Raya Waisak 2569 BE. (Dok. Kemenbud)

Menteri Kebudayaan atau Menbud Fadli Zon menyebut stairlift yang ada di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah (Jateng) rencananya akan dibangun permanen.

Untuk diketahui, stairlift itu awalnya dibangun sementara untuk menyambut kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Candi Borobudur pada Kamis 29 Mei 2025.

"Kita harapkan (permanen), nanti ini uji coba dulu yaa (stairlift di Candi Borobudur)," kata Menbud Fadli Zon di Candi Borobudur Jawa Tengah, Kamis 29 Mei 2025.

Dia mengungkapkan, semua cagar budaya di dunia sudah dipasangkan starlift. Untuk itu, Fadli Zon menilai tak ada masalah apabila stairlift juga dipasang di Candi Borobudur.

"Enggak ada masalah itu kita akan kedepan ini karna untuk inklusivitas di semua cagar budaya dunia sudah dipasang dan kita harapkan kedepan ini kan, sekaligus kemarin kita sudah rencanakan lama akan kita coba permanenkan," terang dia.

Fadli Zon menyampaikan, stairlift tak merusak Candi Borobudur sebagai cagar budaya. Dia memastikan tak ada baut yang terpasang dalam pemasangan stairlift.

"Portable, tidak merusak tidak ada satu mur baut pun yg merusak batu," tutup Fadli Zon.

 

2. Kata Budayawan Yogyakarta

Suasana saat umat Buddha melaksanakan rangkaian perayaan Tri Suci Waisak 2566 BE/2022 di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Senin (16/5/2022). Setelah sempat ditiadakan selama dua tahun akibat pandemi COVID-19, perayaan Tri Suci Waisak kembali digelar dan diikuti ribuan umat Buddha dari berbagai daerah secara khidmat. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Menteri Kebudayaan atau Menbud Fadli Zon menyebut stairlift yang ada di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah (Jateng) rencananya akan dibangun permanen.

Terkait hal ini, Seniman dan budayawan asal Yogyakarta, Jumaldi Alfi tak sepakat dengan rencana tersebut.

"Yang jelas saya tak setuju dan menyayangkan pemasangan tersebut," kata dia kepada Liputan6.com, Sabtu 31 Mei 2025.

Jumaldi mengungkapkan, niatan tersebut disebutnya sebagai tunabudaya. Dipandangnya tak menghargai yang sudah ada.

"Tak menghargai kebudayaan bangsa sendiri," tutur dia.

Jumaldi mengungkapkan, wacana pemerintah tak bisa dikompromi atau dikaji. Dia tegas mengatakan wacana stairlift di Candi Borobudur tidak boleh dilakukan.

Alasannya, Candi Borobudur adalah wasisan adiluhung atau yang berarti istilah dalam bahasa Jawa adalah muli atau bernilai tinggi.

"Ya jelas jangan dilakukan dan tak boleh dilakukan. Itu selain warisan adiluhung juga tempat ibadah. Masak Konsep Borobudur para pejabat itu tidak paham?," heran Alfi.

Alfi menjelaskan, dalam tiap undakan Candi Borobudur terdapat pengejawantahan ilmu kehidupan. Dimana demi mencapai Nirwana harus ada perjalanan yang panjang lewat tiga fase, Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu.

Kamadhatu atau tingkatan paling bawah dalam kosmologi Buddha, yang menggambarkan dunia keinginan atau dunia yang masih dikuasai oleh nafsu duniawi.

Rupadhatu atau bagian tengah dalam kosmologi Buddha melambangkan alam antara, dimana manusia telah membebaskan diri dari nafsu, namun masih terikat pada dunia nyata.

Terakhir Arupadhatu yaitu alam atas atau nirwana, tempat para Buddha bersemayam, dimana kebebasan mutlak telah tercapai, bebas dari keinginan dan bebas dari ikatan bentuk dan rupa.

"Itu inti pelajaran dari Borobudur. Step by step dan jalan melingkar. Masak pake lift (stairlift)? Di zaman modern orang ingin dapet pencerahan spiritual secara instan dan cepat," jelas dia.

 

3. Aktor dan Budayawan Butet Kartaredjasa Menolak

Butet Kertaredjasa (Liputan6.com/ Wisnu Wardhana)

Aktor sekaligus budayawan Butet Kartaredjasa menolak pemasangan permanen stairlift di Candi Borobudur.

Menurut pria asal Yogyakarta ini, penambahan fasilitas seperti stairlift di situs budaya seperti Candi Borobudur kurang tepat. Ada berbagai hal yang jadi pertimbangan, seperti struktur bangunan candi yang dikhawatirkan rentan jika dipasang alat-alat berat.

"Nanti bisa saja ada yang rusak atau rubuh walaupun katanya tidak pakai baut atau ditanam. Selain itu, candi ini kan termasuk situs warisan dunia UNESCO, kita sudah ajukan dan sudah diakui dunia, kalau kita merubahnya lagi, ini kan jadi aneh dan bisa saja dapat teguran dari UNESCO,” kata Butet pada tim Lifestyle Liputan6.com, Jumat 30 Mei 2025.

"Mestinya pemerintah terutama menteri kebudayaan paham soal ini dan saya berharap stairlift ini tidak jadi permanen. Jadi tinggal dibatalkan saja dan semua kehebohan ini selesai," lanjutnya.

Butet menambahkan, tujuan memudahkan para lansia dan disabilitas juga tidak bisa jadi alasan untuk menambahkan fasilitas baru. Pengunjung Borobudur sejak lama memang sudah dibatasi di area tertentu dan itu harus tetap dijalankan.

"Ini kan juga tempat ibadahnya umat Buddha dan selama ini memang pengunjung dibatasi di tempat-tempat tertentu karena ini tempat ibadah. Itu harus kita hormati," tuturnya.

"Setahu saya Presiden Prancis ini tidak naik stairlift dan dia bisa tetap ke atas candi dan menyentuh stupa. Jadi sudahlah tidak perlu ada penambahan lagi," pungkasnya.

 

4. Antropolog dari UGM Nilai Seharusnya Tak Boleh Terjadi

Candi Borobudur. (Foto: Istimewa)

Di sisi lain, antropolog dari UGM yang juga seorang dosen antropolgi dan budaya Feby Triady, stairflift di Borobudur seharusnya tidak boleh terjadi karena bisa merusak estetika dan niiai peribadatan dari candi tersebut.

"Namun kalau diperuntukkan khusus untuk disabilitas dan lansia sebenarnya sah-sah saja, jadi sebaiknya dikaji dan dipertimbangkan lagi apa yang terbaik," terangnya pada Lifestyke Liputan6.com, Jumat 30 Mei 2025.

Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron serta istrinya, Brigitte Macron menaiki puncak Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Kamis, 29 Mei 2025. Presiden Macron menikmati kunjungannya dengan melihat relief dan candi.

Tak hanya itu, Presiden Macron dan istrinya juga berusaha menggapai patung Buddha yang ada di dalam salah satu stupa di Candi Borobudur. Setelah memasukan tangannya, Presiden Macron berhasil menggapai patung Buddha yang ada di dalam stupa.

 

5. Direktur Forum Buddhis Indonesia Sebut Berikan Kemudahan

Pengelola Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko menyiapkan protokol kesehatan yang ketat bagi wisatawan yang berkunjung pada masa uji coba pembukaan wisata candi tersebut mulai Rabu, 1 Juli 2020. (Liputan6.com/ Kemenparekraf)

Direktur Forum Buddhis Indonesia (FBI) Adian Radiatus menilai, pemasangan penganjung tangga di Candi Borobudur di Jawa Tengah merupakan bentuk kemudahan dan keterbukaan tempat ibadah umat Buddha tersebut untuk aktivitas keagamaan, wisata, maupun penelitian.

"Tentu pemasangan ini sudah dipikirkan sangat matang, termasuk mengedepankan aspek konservasi candi itu sendiri. Pemerintah tentu tidak mungkin ingin merusak apalagi menghancurkan sebuah situs peninggalan yang bernilai," ujar Adian di Jakarta, dikutip dari Antara.

Adian juga menegaskan, pemasangan stairlift sudah dilakukan secara hati-hati karena Borobudur merupakan bangunan bersejarah yang sudah diakui dunia. Selain itu, Menbud Fadli Zon juga telah melibatkan berbagai ahli untuk memberikan pertimbangan sebelum pemasangan stairlift.

 

6. Penolakan dari Forum Aktivis Buddhis Dharmapala Nusantara

Kegiatan ini untuk menyambut Hari Tri Suci Waisak ke-2569 Buddhis Era (BE) tahun 2025. (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Sedangkan penolakan, salah satunya datang dari Forum Aktivis Buddhis Dharmapala Nusantara. Dalam pernyataan sikap resminya di Jakarta, organisasi ini menekankan, Candi Borobudur bukan tempat untuk uji coba teknologi yang berisiko merusak kesakralan dan keutuhan candi.

"Borobudur bukan laboratorium eksperimen. Ini adalah warisan dunia, tempat suci, dan monumen hidup yang harus dijaga dengan hormat," ujar Ketua Umum Dharmapala Nusantara Kevin Wu dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu, 28 Mei 2025.

Mereka mempertanyakan urgensi intervensi fisik tersebut, meskipun diklaim bersifat non-permanen dan tidak merusak. Menurut Kevin, alasan aksesibilitas, bahkan untuk kunjungan kenegaraan, tidak sebanding dengan potensi risiko terhadap situs budaya yang memiliki nilai spiritual, moral, dan simbolis tinggi ini.

"Solusi aksesibilitas seharusnya tidak mengorbankan prinsip konservasi. Teknologi seperti virtual reality dan augmented reality bisa menjadi jawaban. Tanpa menyentuh batuannya, kita tetap bisa membuka pemahaman yang mendalam tentang Borobudur," jelas Kevin didampingi Sekjen Eko Nugroho R dan Pengurus Dharmapala Nusantara lainnya.

Dia menyebut, organisasi Forum Aktivis Buddhis Dharmapala Nusantara ini juga mengkritik pendekatan yang cenderung teknokratis dan terburu-buru dalam penanganan situs budaya.

 

7. Ketua Komisi X DPR Minta Pemerintah Kaji Ulang

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian. (Foto: Istimewa).

Stairlift di Candi Borobudur yang dipasang pemerintah saat kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang didampingi Presiden RI Prabowo Subianto menuai pro kontra.

Benda tersebut diklaim pemerintah sebagai cara mewadahi masyarakat berkebutuhan khusus dan inklusifitas, mendapat penolakan dari para penjaga keaslian budaya.

Menanggapi hal itu, Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian bersuara. Menurut dia, pemasangan stairlift di Candi Borobudur haruslah memperhatikan keseimbangan antara nilai pelestarian dan prinsip inklusivitas.

"Komisi X mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan aksesibilitas bagi semua. Namun hal itu tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan keaslian dan integritas situs warisan dunia seperti Borobudur yang dilindungi oleh UNESCO," kata Hetifah melalui pesan singkat diterima, Sabtu 31 Mei 2025.

Politisi Golkar mendorong, pemerintah harus transparan dalam proses perencanaan, melakukan konsultasi terbuka dengan ahli konservasi, arkeolog, serta UNESCO sebagai pemilik mandat pelestarian warisan dunia.

"Pemasangan stairlift di situs bersejarah seperti Borobudur pasti akan memunculkan kekhawatiran akan potensi kerusakan fisik dan gangguan estetika," wanti dia.

Hetifah menegaskan, Candi Borobudur bukan sekadar objek wisata, melainkan situs spiritual dan simbol peradaban. Setiap intervensi fisik, terutama yang bersifat permanen, harus memenuhi prinsip reversibility atau dapat dilepas tanpa merusak, minimal intervention, dan tidak mengganggu panorama asli.

"Kami mendorong evaluasi mendalam terhadap kebijakan ini dan memastikan bahwa solusi yang diambil tetap mengedepankan prinsip pelestarian, bukan yang terburu-buru dan bisa berdampak jangka panjang," saran dia.

Hetifah mencatat, di negara-negara seperti Yunani dan Mesir, aksesibilitas bagi mereka yang berkebutuhan khusus di situs kuno umumnya difasilitasi melalui teknologi virtual, tur digital, atau zona interaktif di museum sebagai bentuk edukasi inklusif.

Dia pun berharap, Pemerintah Indonesia juga bisa mengedepankan pendekatan yang lebih inovatif dan konservatif, tanpa harus melakukan intervensi langsung ke struktur candi. Sebab, Prinsip inklusivitas tidak harus diwujudkan dengan cara yang justru mengorbankan nilai universal dari warisan budaya dunia seperti Borobudur.

"Perlu dicari jalan tengah yang menjamin hak akses tanpa mengabaikan tanggung jawab pelestarian. Pemasangan stairlift perlu dikaji dengan melibatkan semua pihak berkepentingan dan mempertimbangkan praktik terbaik dari negara lain," dia menandasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya