Liputan6.com, Pontianak: Ribuan masyarakat etnis Tionghoa di Pontianak, mengikuti ritual pembakaran perahu wangkang di pemakaman cina Sungai Raya Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (14/8). Tradisi pembakaran perahu wangkang ini sebagai pertanda akhir dari sembahyang kubur yang telah berlangsung selama dua pekan. Satu yang pasti, ritual ini dimaksudkan untuk mengantarkan roh nenek moyang warga Tionghoa ke surga. Pembakaran perahu sepanjang 20 meter yang terbuat dari kertas ini juga dimaksudkan untuk memberi keselamatan dan mendatangkan keberuntungan kepada yang ditinggalkan.
Dalam perahu ini diletakkan berbagai benda kebutuhan hidup manusia selama di dunia, seperti makanan dan sayur-sayuran. Namun barang elektronik, seperti telepon genggam, televisi, dan parabola dibuat dari kertas. Perahu dan segala isinya ini akan dibakar bertepatan hari ke-15 bulan tujuh Imlek atau bertepatan 12 Agustus 2003. Ritual pembakaran perahu wangkang dilaksanakan setiap tahun di Pemakaman Cina Sungai Raya Pontianak. Acara ini pun sebagai pertanda akhir dari kegiatan sembahyang kubur.
Ribuan masyarakat Tionghoa yang datang dari berbagai daerah ini memadati tempat pembakaran. Bagi mereka, perahu wangkang diibaratkan perahu yang mengantar roh nenek moyang, yang sebelumnya turun ke bumi saat sembahyang kubur. Dan kini saatnya roh-roh tersebut kembali ke tempat semula di surga. Dalam kepercayaan Tionghoa, dengan dibakar, roh tersebut akan sampai ke surga.
Saat sirene berbunyi, perahu langsung diberi sesajen dan disembahyangkan hingga dimulailah pembakaran wangkang. Hanya dalam hitungan menit, perahu beserta isinya itu hangus terbakar. Hal ini disambut gembira warga yang menyaksikan. Seakan-akan menggambarkan keikhlasan menghantarkan roh nenek moyang kembali ke surga.
Pengurus Yayasan Bhakti Suci Pontianak Lie Khie Leng mengatakan, ritual ini sudah berlangsung berabad-abad, seiring dengan masuknya orang Cina di Pontianak. Anehnya, acara ini justru tidak didapati di Cina, negeri asalnya. Lie Khie yang juga menjadi tokoh masyarakat Tionghoa di Pontianak menyebutkan, tradisi ini tetap dipertahankan untuk melestarikan nilai-nilai sejarah Cina di perantauan.(DEN/Amin Alkadrie)
Dalam perahu ini diletakkan berbagai benda kebutuhan hidup manusia selama di dunia, seperti makanan dan sayur-sayuran. Namun barang elektronik, seperti telepon genggam, televisi, dan parabola dibuat dari kertas. Perahu dan segala isinya ini akan dibakar bertepatan hari ke-15 bulan tujuh Imlek atau bertepatan 12 Agustus 2003. Ritual pembakaran perahu wangkang dilaksanakan setiap tahun di Pemakaman Cina Sungai Raya Pontianak. Acara ini pun sebagai pertanda akhir dari kegiatan sembahyang kubur.
Ribuan masyarakat Tionghoa yang datang dari berbagai daerah ini memadati tempat pembakaran. Bagi mereka, perahu wangkang diibaratkan perahu yang mengantar roh nenek moyang, yang sebelumnya turun ke bumi saat sembahyang kubur. Dan kini saatnya roh-roh tersebut kembali ke tempat semula di surga. Dalam kepercayaan Tionghoa, dengan dibakar, roh tersebut akan sampai ke surga.
Saat sirene berbunyi, perahu langsung diberi sesajen dan disembahyangkan hingga dimulailah pembakaran wangkang. Hanya dalam hitungan menit, perahu beserta isinya itu hangus terbakar. Hal ini disambut gembira warga yang menyaksikan. Seakan-akan menggambarkan keikhlasan menghantarkan roh nenek moyang kembali ke surga.
Pengurus Yayasan Bhakti Suci Pontianak Lie Khie Leng mengatakan, ritual ini sudah berlangsung berabad-abad, seiring dengan masuknya orang Cina di Pontianak. Anehnya, acara ini justru tidak didapati di Cina, negeri asalnya. Lie Khie yang juga menjadi tokoh masyarakat Tionghoa di Pontianak menyebutkan, tradisi ini tetap dipertahankan untuk melestarikan nilai-nilai sejarah Cina di perantauan.(DEN/Amin Alkadrie)