Kesenjangan Integrasi Moda Transportasi di Jakarta dengan Sekitarnya

Integrasi antarmoda di Jakarta hingga saat ini belum diimbangi dengan penataan angkutan umum di kota-kota penyangganya. Pemerintah harus bagaimana?

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 01 Juni 2025, 14:00 WIB
terminal ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas lengkap untuk membuat nyaman para penumpang bus antar kota antar provinsi (AKAP).

Liputan6.com, Jakarta Sejumlah pekerja di DKI Jakarta merasa terbantu dengan integrasi moda transportasi di Ibu Kota, mulai dari MRT, LRT Jabodebek, KRL, hingga TransJakarta. Lantas, bagaimana komentarnya mengenai moda transportasi di kota asalnya?

Krisna (29) mengatakan kemudahan mobilitas di Jakarta karena saling terhubungnya moda transportasi. Dia mengatakan sering menggunakannya untuk keperluan untuk menunjang pekerjaannya.

"Iya di Jakarta dari transportasi 1 dengan yang lainnya beberapa bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Misal dari LRT ke KRL atau dari KRL ke MRT, dengan halte TJ juga beberapa moda transportasi sangat terintegrasi jadi memudahkan untuk berganti moda transportasi umum," tutur Krisna saat berbincang dengan Liputan6.com, Minggu (1/6/2025).

Integrasi moda tersebut dibandingkan dengan wilayah tempat tinggalnya, Citayam. Menurutnya, di kawasan tersebut tidak begitu banyak pilihan transportasi massal, hanya bergantung pada angkutan kota (angkot).

"Di wilayah saya, akses transportasi umum sangat tidak terintegrasi. Jika ingin memaksakan terintegrasi, ya memanfaatkan aplikasi ojek daring. Angkot saja masih tidak beraturan di sana," keluhnya.

Keluhan Lainnya

Keluhan serupa disampaikan Yoga (28). Pekerja di kawasan Jakarta Pusat ini mengaku tidak mendapat akses transportasi yang mudah dari komplek rumah tempat tinggalnya di Bekasi.

"Untuk di tempat tinggal belum ada transportasi umum terintegrasi, jadi dari Kawasan komplek tempat saya tinggal memang masih butuh kendaraan pribadi menuju halte atau stasiun KRL atau LRT terdekat," ucapnya.

 

Andalkan Kendaraan Pribadi

Petugas Jasa Marga melakukan pelayanan transaksi kartu masuk tol dalam kota kepada pengendara roda empat di Jakarta, Selasa (9/5/2023). (merdeka.com/Imam Buhori)

Sementara itu, Aulia (27) yang tinggal di Pamulang, Tangerang Selatan memilih menggunakan ojek daring atau kendaraan pribadi untuk mencapai moda transportasi massal terdekat, KRL. Dari tempat tinggalnya, butuh waktu 15 menit mencapai Stasiun KRL Sudimara.

"Ya adanya hanya KRL aja, jadi perlu naik kendaraan pribadi dulu atau naik ojek online. Tapi kalau di Jakarta kan banyak ya, salah satunya di Stasiun Kebayoran, itu terintegrasi dengan TransJakarta, jadi tinggal jalan menggunakan JPO (jembatan penyeberangan orang) langsung terigerasi ke halte-halte TransJakarta," tuturnya.

 

Tak Teratur

Sejumlah angkutan kota (angkot) berhenti di Jalan Raya Pajajaran tepatnya di depan Botani Square, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/3/2020). Pemerintah Kota Bogor akan mengurangi unit angkot dari 1.270 unit menjadi 635 unit angkot di bogor. (merdeka.com/magang/Muhammad Fayyadh)

Pekerja lainnya, Rendi (32) yang tinggal di kawasan Pondok Ranji, Tangerang Selatan mengeluhkan moda transportasi di daerahnya. Terutama mengenai angkot yang dinilainya kurang teratur.

"Persoalan angkot ngetem sembarangan, ojek pangkalan, dan tidak ada petugas yang mengatur membuat arus lalu lintas di sekitsr Stasiun Pondok Ranji menjadi sangat berantakan. Tak jarang yang memilih turun angkot dan berjalan kaki," kata dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya