Kilas Balik! 6 Final Liga Champions yang Pernah Dirasakan Inter Milan

Inter Milan memiliki sejarah panjang di final Liga Champions. Mereka sudah enam kali tampil di partai puncak sebelum musim ini.

oleh Aga Deta AndityaDiperbarui 30 Mei 2025, 15:00 WIB
Para punggawa Inter Milan mengangkat trofi liga champions tahun 2010 di Santiago Bernabeu. (AFP)

Liputan6.com, Jakarta Inter Milan memiliki sejarah panjang di final Liga Champions. Mereka sudah enam kali tampil di partai puncak sebelum musim ini.

Final pertama mereka terjadi pada 1964, di era keemasan Helenio Herrera. Kala itu, Inter sukses menjadi kampiun Eropa.

Era Jose Mourinho juga menjadi cerita manis di tahun 2010. Mereka meraih treble dengan mengalahkan Bayern Munchen di final.

Namun tak semua final berjalan mulus. Kekalahan dari Manchester City di final 2023 menjadi salah satu luka paling baru.

Tahun ini, Inter akan menantang PSG di Allianz Arena pada Minggu (1/6/2025) dini hari WIB. Mampukah mereka menambah koleksi trofi Liga Champions?


1964: Gelar Pertama di Vienna

Trofi Liga Champions (c) AP Photo/Gregorio Borgia

Final tahun 1964 mempertemukan Inter dengan Real Madrid. Laga yang digelar di Vienna berakhir dengan kemenangan 3-1 untuk Inter.

Pelatih legendaris Helenio Herrera menampilkan taktik disiplin. Sandro Mazzola mencetak dua gol, termasuk satu dari luar kotak penalti.

Luis Suarez dan Jair juga tampil impresif. Inter pun mengangkat trofi Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.


1965: Pertahankan Gelar di San Siro

Ilustrasi logo dan trofi Liga Champions. (AFP/Valery Hache)

Setahun kemudian, Inter mempertahankan gelar saat melawan Benfica. Bermain di kandang sendiri, mereka menang tipis 1-0.

Gol tunggal dicetak Jair menjelang turun minum. Bola tembakannya melewati kaki kiper Benfica, Costa Pereira.

Kedisiplinan lini belakang kembali menjadi senjata utama. Eusebio tak bisa berbuat banyak berkat pengawalan ketat dari Gianfranco Bedin.


1967: Dikejutkan Celtic di Lisbon

Aksi suporter Celtic saat menjamu Barcelona pada laga kelima Grup C Liga Champions di Celtic Park, Rabu (23/11/2016). (AFP/Paul Ellis)

Final 1967 membawa Inter Milan ke ibu kota Portugal, Lisbon. Mereka memimpin lebih dulu lewat penalti Sandro Mazzola di awal laga.

Namun Celtic tampil luar biasa di babak kedua. Dua gol balasan memastikan kemenangan 2-1 bagi tim Skotlandia tersebut.

Gol penentu datang dari tembakan Bobby Murdoch yang dibelokkan Steve Chalmers. Inter pun harus pulang dengan tangan hampa.


1972: Terkubur Kualitas Ajax dan Cruyff

Johan Cruyff dan tim Ajax disambut meriah di Amsterdam setelah menjuarai Piala Champions tahun 1972. (AFP)

Lima tahun berselang, Inter kembali ke final. Kali ini mereka menghadapi Ajax di Rotterdam dan kalah 0-2.

Johan Cruyff mencetak dua gol yang menunjukkan kelasnya. Inter pun gagal menandingi kekuatan sang juara bertahan.

Ajax, yang saat itu dilatih Stefan Kovacs, sedang dalam masa keemasan. Klub Belanda itu memenangkan gelar kedua dari tiga gelar berturut-turut mereka.


2010: Kebangkitan Bersama Mourinho

Pelatih Jose Mourinho saat mengangkat trofi Liga Champions bersama skuat Inter Milan pada 2010. (Daily Mail).

Setelah 45 tahun puasa, Inter akhirnya kembali ke final di tahun 2010. Mereka menghadapi Bayern Munchen dan menang meyakinkan 2-0.

Diego Milito mencetak dua gol indah yang menentukan kemenangan. Pelatih Jose Mourinho menyempurnakan musim dengan treble winner.

Gelar ini menjadi simbol kebangkitan Inter di level Eropa. Ini menjadi trofi Liga Champions ketiga mereka.


2023: Kecewa di Istanbul Lawan Manchester City

Reaksi kecewa para pemain Inter Milan setelah dikalahkan Manchester City pada laga final Liga Champions 2022/2023 di Ataturk Olympic Stadium, Istanbul (10/6/2023). (AP Photo/Antonio Calanni)

Final terakhir Inter Milan sebelum 2025 terjadi di Istanbul. Mereka menghadapi Manchester City dan kalah tipis 0-1.

Rodri mencetak gol penentu pada menit ke-68. Sebelumnya, Ederson menggagalkan peluang emas Lautaro Martinez dan Romelu Lukaku.

Federico Dimarco bahkan hampir mencetak gol lewat sundulan yang membentur mistar. Namun nasib berkata lain bagi pasukan Simone Inzaghi.

Sumber: UEFA

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya