Liputan6.com, Yogyakarta - Jeber juwes merupakan kesenian yang tumbuh dan berkembang di Tengahan, Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Kesenian ini konon lahir dari kebosanan masyarakat dengan kesenian ketoprak, wayang wong, dan wayang golek.
Mengutip dari laman Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, jebar juwes muncul pertama kali pada 1962 di Tengahan. Pada 4 Januari 1980, organisasi kesenian atau sanggar Jeber Jues didirikan.
Advertisement
Sebelum jeber juwes lahir, masyarakat mendapat hiburan kesenian dari pertunjukan ketoprak, wayang wong, dan wayang golek. Namun lama-kelamaan mereka merasa bosan dan ingin melihat pertunjukan hiburan lain.
Menanggapi hal tersebut, para seniman di Desa Sendangagun, termasuk Darmo Suwito dan Harjo Suprapto yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dukuh Tengahan, berinisiatif menciptakan kesenian jabar juwes. Pertunjukan ini menampilkan Jeber dan Juwes sebagai tokoh lawak yang menghibur. Pertunjukan ini identik dengan lawakan-lawakan yang ditunggu para penonton.
Adapun nama jebar juwes berasal dari nama tokoh dalam cerita, Jabur atau Jeber. Penonton kemudian merasa perlu menyertakan satu nama lain yang selalu berpasangan dengan Jabur, yaitu Juwes.
Nama keduanya pun digabungkan menjadi nama kesenian ini, jabur juwes. Lama-kelamaan pengucapannya berubah menjadi jabar juwes, tetapi ada juga yang menyebutnya dengan nama jeber juwes.
Cerita Menak
Dalam pertunjukannya, jeber juwes mengangkat cerita tentang Menak dalam bentuk lakon-lakon yang dipentaskan. Serat Menak menceritakan kisah dan pengalaman kepahlawanan Amir Ambyah atau dikenal Wong Agung Jayangrena dari Mekah dengan Prabu Nursiwan dari Medayin. Kisah ini merupakan transformasi dari Sastra Melayu Hikayat Amir Hamzah.
Jumlah pemain kesenian ini beragam, antara 20 orang bahkan lebih. Jumlah tersebut belum termasuk pengrawit (penabuh gamelan).
Pada awal kemunculannya hingga sekitar 1980-an, jabar juwes diiringi gamelan dengan laras slendro. Namun, saat ini iringan gamelannya menggunakan laras slendro dan pelog.
Saat ini, kesenian ini berfungsi sebagai hiburan dan kerap hadir dalam berbagai acara penting, seperti HUT Kemerdekaan RI, HUT Kabupaten Sleman, hingga upacara merti dusun. Fungsi lainnya adalah fungsi adat untuk melepas nazar. Sedangkan fungsi sosial jabar juwes sebagai alat pemersatu masyarakat tanpa membedakan agama, kelas sosial, jabatan, dan lainnya.
Menariknya lagi, kesenian jeber juwes tidak mengenal istilah tanggapan (bayaran), melainkan sekadar pengganti biaya operasional dan persiapan hingga pertunjukan rampung. Hingga kini, jabar juwes masih dipertahankan di Desa Sendangagung. Kesenian ini juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman dengan Nomor 103617/MPK.E/KB/2019.
Penulis: Resla