BMKG: Hanya 11% Wilayah Sudah Masuk Musim Kemarau, Sebagian Besar Pulau Jawa Masih Hujan

Andri mengatakan, sebagian besar wilayah di Indonesia masih masuk dalam fase musim hujan berdasarkan data BMKG per 20 Mei 2025. Namun ada juga beberapa wilayah yang sudah memasuki musim kemarau.

oleh Tim NewsDiterbitkan 28 Mei 2025, 02:02 WIB
Kondisi lalu lintas saat hujan mengguyur Jakarta, Senin (26/10/2020). BPBD DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini cuaca berupa potensi terjadinya hujan lebat disertai petir dan angin kencang dampak dari siklon tropis Molave hingga 27 Oktober 2020. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Jakarta dan sekitarnya masih kerap dilanda hujan deras, meskipun seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Hujan yang turun tak jarang disertai angin kencang. Bahkan, pada bulan Mei lalu, angin puting beliung sempat menerjang kawasan Kalideres, Jakarta Barat.

Menanggapi fenomena ini, Direktur Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa kondisi tersebut masih sejalan dengan fase musim hujan yang masih berlangsung di banyak wilayah Indonesia.

Menurutnya, sebagian besar wilayah di Indonesia masih masuk dalam fase musim hujan berdasarkan data BMKG per 20 Mei 2025. Namun ada juga beberapa wilayah yang sudah memasuki musim kemarau.

"Hanya sekitar 11% wilayah yang telah memasuki musim kemarau. Di Pulau Jawa, sebagian besar wilayah, termasuk Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Timur, masih mengalami kondisi musim hujan, dan sebagian kecil sudah mulai masuk kriteria musim kemarau," kata Andri kepada merdeka.com, Selasa (27/5/2025).

Andri menyebut, potensi terjadinya curah hujan tinggi juga masih dirasakan pada periode 10 hari ketiga di bulan Mei 2025. Di antaranya sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat, dan Papua Tengah.

Lalu untuk wilayah Sulawesi Selatan dan Maluku bahkan berstatus potensi siaga dan awas.

 

Dinamika Atmosfer

Warga melintasi jalan saat hujan di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Senin (1/11/2021). BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat untuk berbagai wilayah di Indonesia hingga 6 November 2021. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Kondisi ini disebabkan karena lemahnya monsun Australia yang belum kuat, aktivitas beberapa dinamika atmosfer seperti gelombang Rossby ekuatorial di sekitar Indonesia, serta suhu muka laut yang masih relatif hangat di perairan Indonesia.

Ditambah dengan terbentuknya pola tekanan rendah di wilayah selatan Indonesia yang menimbulkan pusaran angin dan pola belokan dan konvergensi, sehingga mengakibatkan pertumbuhan awan hujan yang cukup intens di wilayah tersebut dan hujan masih terjadi di beberapa wilayah.

"Di sisi lain labilitas atmosfer skala lokal di sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan juga turut meningkatkan mekanisme konvektif yang mampu membentuk awan-awan hujan pada skala lokal di Indonesia bagian selatan," terang Andri.

 

Skala Regional

Sementara itu, lanjut Andri, pada skala regional, terjadi interaksi di atmosfer yang dipengaruhi oleh terbentuknya front dingin di Australia bagian selatan, yang kemudian secara tidak langsung ikut mentrigger terbentuknya sirkulasi siklonik/sistem tekanan rendah di wilayah selatan Indonesia.

Kondisi inilah yang menyebabkan curan hujan di beberapa provinsi di Indonesia masih tinggi khususnya di wilayah selatan Indonesia mencakup Sumatera bagian selatan dan Pulau Jawa.

"Terpantaunya intrusi udara kering dan dingin dari Samudera Hindia selatan Jawa Barat juga meningkatkan pengangkatan massa udara basah dan lembab di Sumatera bagian selatan, dan sebagian besar Jawa," pungkas Andri

 

Reporter: Rahmat Baihaqi

Sumber: Merdeka.com

Infografis

Infografis Musim Hujan Datang, La Nina Mengintai. (Liputan6.com/Trieyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya