Makna Lagu Under Pressure dari Queen dan David Bowie, Tentang Tekanan Hidup yang Menindas Manusia

Makna lagu Under Pressure dari Queen dan David Bowie berbicara tentang tekanan hidup yang bisa menghancurkan, namun menyelipkan pesan bahwa cinta. Yuk kita simak lebih mendalam tentang lagu ini dan proses di balik pembuatannya.

oleh Ruly RiantrisnantoDiterbitkan 28 Mei 2025, 13:00 WIB
Layar menampilkan gambar Freddie Mercury mengiringi band Queen dan Adam Lambert yang membuka perhelatan Oscar 2019 di Dolby Theatre, Los Angeles, Minggu (24/2). Queen menghentak panggung Oscar 2019 lewat lagu We Will Rock You. (Chris Pizzello/Invision/AP)

Liputan6.com, Jakarta Mengulik Makna dan Fakta Menarik di Balik LaguUnder Pressure” dari Queen dan David Bowie

Lagu legendaris "Under Pressure", hasil kolaborasi dua ikon musik dunia, Queen dan David Bowie, menyimpan banyak cerita menarik, baik dari makna lagu, sisi musikalitas, maupun proses kreatif di balik pembuatannya. Dirilis pada tahun 1981, lagu ini tidak hanya menjadi salah satu hits terbesar Queen, tetapi juga penanda kolaborasi besar pertama dalam sejarah band tersebut.

Proses rekaman lagu ini berlangsung secara spontan dalam sebuah sesi dadakan di Montreux, Swiss, pada musim panas 1981. Meski ditulis bersama, bassis Queen, John Deacon, menyebut sang vokalis, Freddie Mercury, sebagai pihak yang paling banyak berkontribusi dalam penulisan lirik.

Lagu ini berbicara tentang tekanan hidup yang bisa menghancurkan, namun menyelipkan pesan bahwa cinta adalah jawaban atas beban tersebut, sebuah tema yang sangat khas dalam karya-karya Freddie Mercury.

Salah satu elemen paling ikonis dari lagu ini adalah riff bass dua nada yang sederhana namun sangat melekat di telinga pendengar. Riff ini diciptakan oleh Deacon, namun nyaris terlupakan olehnya.

Dalam dokumenter Days of Our Lives, drummer Roger Taylor mengungkap bahwa setelah menciptakan riff tersebut, mereka sempat keluar untuk makan pizza.

Ketika kembali, Deacon justru lupa dengan nada yang ia mainkan. Beruntung, Taylor masih mengingatnya dan ia menjadi penyelamat dalam momen tersebut.


Proses Kolaborasi yang Tidak Selalu Berjalan Mulus

Aksi penyanyi Inggris, David Bowie di atas panggung di Zenith, Paris pada 24 September 2002 (AFP PHOTO Martin BUREAU)

Namun, proses kolaborasi tidak selalu berjalan mulus. Dalam wawancaranya dengan Mojo pada 2008, gitaris Brian May mengaku bahwa sesi rekaman sempat menegang akibat banyaknya ego besar yang terlibat.

“David mengambil alih secara lirik. Kalau diingat sekarang, lagunya hebat, tapi mestinya bisa di-mix dengan cara yang berbeda,” ujarnya dalam satu pernyataan, mengutip berbagai sumber.

May bahkan mengakui bahwa David Bowie punya visi yang kuat dan mendominasi proses kreatif, hingga akhirnya ia sendiri memilih untuk mundur demi menghindari konflik yang lebih besar, sebuah sikap yang menurut May cukup jarang diambil sang penyanyi.

Lanjut Baca:

Cerita menarik lain datang dari produser Reinhold Mack, yang mengenang momen ketika Freddie Mercury dan David Bowie merekam vokal secara bergantian. Salah satu dari mereka akan dikunci di luar ruang studio agar tidak bisa mendengar apa yang dinyanyikan rekannya. Ketika Mercury terkesan karena Bowie berhasil mengisi bagian vokal dengan sangat pas, Mack hanya berkata, “Mudah saja kalau kamu ngintip dari pintu.” Komentar itu konon membuat Mercury sempat melontarkan kata-kata pedas pada Bowie.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya