Liputan6.com, Tanah Karo: Hampir separuh hutan lindung di Tanah Karo, Sumatra Utara, rusak parah menyusul perambahan hutan besar-besaran sejak dua tahun terakhir. Kondisi ini dikhawatirkan akan menyebabkan Kota Medan, Deli Serdang, dan Langkat, terendam banjir pada musim hujan.
Berdasarkan pemantauan SCTV, baru-baru ini, kawasan Hutan Lindung Tanah Karo dikenal sebagai daerah resapan air yang mampu mencegah banjir besar dan melindungi sejumlah kota dari bencana banjir. Kepala Dinas Kehutanan Tanah Karo Juki Tarigan mengatakan, tingkat perambahan dan pencurian kayu tidak terkendali. Perambahan itu juga merusak ekosistem Taman Hutan Raya Bukit Barisan, Sibayak, Jaranguda, dan Lau Kawar hingga meluas ke Taman Nasional Gunung Leuseur.
Perambahan juga menyebabkan humus tanah rusak sehingga mengganggu kualitas produk buah dan sayur petani. Perambahan hutan selama ini tidak dapat terpantau secara keseluruhan karena tidak seimbangnya luas areal hutan dengan jumlah personel Jagawana atau Polisi Hutan.(YYT/Chaerul Dharma dan Cok Arbianto)
Berdasarkan pemantauan SCTV, baru-baru ini, kawasan Hutan Lindung Tanah Karo dikenal sebagai daerah resapan air yang mampu mencegah banjir besar dan melindungi sejumlah kota dari bencana banjir. Kepala Dinas Kehutanan Tanah Karo Juki Tarigan mengatakan, tingkat perambahan dan pencurian kayu tidak terkendali. Perambahan itu juga merusak ekosistem Taman Hutan Raya Bukit Barisan, Sibayak, Jaranguda, dan Lau Kawar hingga meluas ke Taman Nasional Gunung Leuseur.
Perambahan juga menyebabkan humus tanah rusak sehingga mengganggu kualitas produk buah dan sayur petani. Perambahan hutan selama ini tidak dapat terpantau secara keseluruhan karena tidak seimbangnya luas areal hutan dengan jumlah personel Jagawana atau Polisi Hutan.(YYT/Chaerul Dharma dan Cok Arbianto)