Liputan6.com, Jakarta Musim 2024/2025 menjadi periode transisi bagi Real Madrid, klub dengan sejarah gemilang di kancah sepak bola Eropa. Meskipun diperkuat oleh pemain-pemain bintang seperti Kylian Mbappe dan Jude Bellingham, Los Blancos gagal meraih trofi di semua kompetisi utama.
Kegagalan ini sekaligus menandai akhir era Carlo Ancelotti dan membuka lembaran baru di bawah kepemimpinan Xabi Alonso. Ada terlalu banyak masalah sepanjang musim, sudah waktunya Ancelotti memberikan tongkat estafet kepada yang lain.
Advertisement
Kehadiran Mbappe yang dinanti-nantikan tidak mampu mengangkat performa tim secara keseluruhan. Sementara itu, Bellingham menunjukkan konsistensi di lini tengah, namun tidak cukup untuk menutupi kelemahan di sektor lain. Performa tim yang inkonsisten, terutama di lini pertahanan, menjadi salah satu faktor utama kegagalan musim ini.
Dengan pergantian pelatih dan rencana pembenahan skuad, Real Madrid menghadapi tantangan besar untuk kembali ke jalur kemenangan. Evaluasi menyeluruh terhadap performa tim, pemain, dan strategi menjadi langkah awal dalam membangun kembali dominasi mereka di panggung domestik dan Eropa.
Performa di La Liga: Konsistensi yang Hilang
Real Madrid mengakhiri musim La Liga 2024/2025 tanpa gelar, tertinggal dari rival abadi mereka, Barcelona. Kekalahan telak 2-5 dari Barcelona di final Supercopa de Espana menyoroti kelemahan pertahanan yang belum teratasi sepanjang musim. Meskipun Mbappe mencetak 31 gol dalam 34 penampilan La Liga, kontribusinya tidak cukup untuk menutupi inkonsistensi tim secara keseluruhan.
Kekalahan mengejutkan 1-2 dari Valencia pada April 2025 semakin memperburuk posisi mereka di klasemen. Vinicius Junior, yang diharapkan menjadi tandem ideal bagi Mbappe, mengalami penurunan performa, termasuk kegagalan mengeksekusi dua penalti penting dalam momen krusial. Kehilangan poin di laga-laga krusial menjadi faktor utama kegagalan meraih gelar domestik.
Kehadiran pemain tangguh seperti Federico Valverde memberikan harapan, tapi belum cukup untuk mengangkat performa tim secara keseluruhan. Kemenangan tipis 1-0 atas Athletic Bilbao berkat gol Valverde menunjukkan potensi tim, tapi konsistensi tetap menjadi masalah utama.
Salah satu penyebab utama masalah konsistensi Madrid adalah hantaman badai cedera. Musim ini terlalu banyak pilar penting Madrid yang menepi cedera, khususnya di lini belakang, seperti: Dani Carvajal, Eder Militao, David Alaba, Ferland Mendy, dan nama-nama lain.