Luka dan Pelajaran: Kisah Pahit MU di Bawah Ruben Amorim yang Tak Mau Menyerah

Suara Ruben Amorim menggema di Old Trafford usai laga terakhir musim ini, tapi bukan sorak kemenangan yang terdengar. Pelatih asal Portugal itu justru meminta maaf kepada fans setelah MU mencatatkan musim terburuk dalam sejarah Premier League.

oleh Richard Andreas LuturmasDiperbarui 27 Mei 2025, 07:53 WIB
Gol kemenangan dicetak oleh gol cepat Alejandro Garnacho saat pertandingan baru berjalan 49 detik, lalu diikuti dua gol Rasmus Hojlund. (AFP/Oli Scarff)

Liputan6.com, Jakarta Suara Ruben Amorim menggema di Old Trafford usai laga terakhir musim ini, tapi bukan sorak kemenangan yang terdengar. Pelatih asal Portugal itu justru meminta maaf kepada fans setelah MU mencatatkan musim terburuk dalam sejarah Premier League.

Dengan posisi akhir terendah dan poin tersedih sepanjang era modern, Amorim tak menghindar dari kritik. Tapi di balik permintaan maafnya, terselip pesan tegas: "Hari baik akan datang, asal kita memilih untuk maju bersama."

Bagaimana Amorim merencanakan revolusi di MU? Simak analisis lengkapnya.


Musim yang Harus Dilupakan

Gelandang Brasil Manchester United Casemiro memeluk gelandang Manchester United asal Portugal Bruno Fernandes setelah ia mencetak gol pertama tim selama pertandingan sepak bola Liga Primer Inggris antara Manchester United dan Chelsea di Old Trafford di Manchester, Inggris barat laut, pada 3 November 2024.Paul ELLIS / AFP

Catatan 7 kemenangan dari 27 laga Premier League menjadi bukti betapa suramnya performa MU di bawah Amorim. Mereka bahkan sempat dijuluki "salah satu tim terburuk dalam sejarah klub" oleh pelatihnya sendiri.

Kekalahan di final Liga Europa dan kegagalan bersaing di papan atas liga menjadi puncak frustrasi. Tapi Amorim tak mau terjebak dalam penyesalan. "Musim ini sudah berakhir. Kita harus memilih: tetap terpuruk atau bangkit bersama," tegasnya.

Kunci perubahan ada pada komitmen bersama. Tanpa itu, MU akan terus jadi bulan-bulanan.


Ultimatum dan Kekuasaan Penuh Amorim

Ekspresi para pemain Manchester United atas kekalahan mereka di final Liga Europa musim 2024/2025 melawan Tottenham Hotspur di stadion San Mames, Bilbao pada 21 Mei 2025 waktu setempat atau Kamis (22/5) dini hari WIB. (Josep LAGO/AFP)

Keputusan untuk mengundang Amorim ke rapat eksekutif di Monaco menunjukkan kepercayaan manajemen padanya. Sang pelatih juga tak ragu mengambil langkah tegas, termasuk merombak skuad dan mempertimbangkan melepas Alejandro Garnacho.

"Ini tentang otoritas. Saya akan memimpin musim depan dengan cara saya," pesan Amorim ke para pemain di Carrington. Sikap ini jelas: tak ada lagi kompromi untuk pemain yang tak sesuai visinya.

Dukungan penuh dari manajemen memberi Amorim modal berharga untuk membentuk MU versinya.


Sedikit Cahaya di Tengah Kegelapan

Amad Diallo (kanan) merayakan gol yang dicetak Joshua Zirkzee saat MU mengalahkan Everton pada lanjutan Liga Inggris 2024/2025 di Old Trafford, Minggu (1/1/2024) malam WIB. (AP Photo/Dave Thompson)

Kemenangan 2-0 atas Aston Villa di laga terakhir setidaknya memberi secercah harapan. MU tampil lebih baik meski Villa bermain dengan 10 pemain sejak babak pertama.

Performanya mungkin terlambat, tapi Amorim tetap mengambil sisi positif. "Saya lelah dengan musim ini, tapi justru sangat bersemangat untuk memulai yang baru," ujarnya.

Pertandingan itu jadi bukti bahwa skuad ini masih bisa tampil bagus—jika mentalnya tepat.


Tantangan Besar di Depan Mata

Ekspresi kecewa pelatih Manchester United, Ruben Amorim dengan memegang kepalanya saat laga lanjutan Liga Inggris 2024/2025 melawan West Ham di Old Trafford, Manchester, Inggris, Minggu (11/05/2025) waktu setempat. (AFP/Oli Scarff)

Amorim sadar, kerja keras baru dimulai. Musim panas ini akan jadi momen krusial untuk merekrut pemain yang cocok dengan filosofinya dan membersihkan "sampah" di skuad.

Masalah seperti inkonsistensi, mental lemah, dan konflik internal harus diatasi. Tapi pelatih 39 tahun itu tetap optimis. "Penderitaan musim ini akan jadi bahan bakar perubahan," tegasnya.

Dengan dukungan fans dan manajemen, Amorim punya kesempatan menulis ulang sejarah MU.


Hari Baik Man United, Benarkah Akan Datang?

Bruno Fernandes sempat gagal mengksekusi penalti menjadi gol. Meski begitu, sang kapten sukses secara konsisten meneror pertahanan Chelsea, baik di babak pertama maupun kedua. (AP Photo/Dave Thompson)

Amorim telah melempar ultimatum, bukan hanya untuk pemain tapi juga seluruh keluarga besar MU. Musim depan akan jadi ujian sesungguhnya bagi proyeknya.

Jika berhasil, musim suram ini akan jadi luka yang sembuh membentuk karakter lebih kuat. Jika gagal, "salah satu tim terburuk dalam sejarah" mungkin bukan lagi sekadar metafora.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya