Homecoming Xabi Alonso di Santiago Bernabeu: Mengapa Pilihan Ini Sangat Masuk Akal

Keputusan Real Madrid menunjuk Xabi Alonso sebagai pelatih kepala tim utama merupakan langkah yang sangat logis dan penuh makna. Mantan gelandang berusia 43 tahun ini kembali ke klub yang sudah menjadi bagian dari hidupnya selama bertahun-tahun.

oleh Richard Andreas LuturmasDiperbarui 26 Mei 2025, 07:13 WIB
Pelatih Bayer Leverkusen, Xabi Alonso melakukan perpisahan dengan para fans setelah laga lanjutan Liga Jerman 2024/2025 melawan Borussia Dortmund di BayArena, Leverkusen, Jerman, Minggu (11/05/2025) waktu setempat. (AFP/Ina Fassbender)

Liputan6.com, Jakarta Keputusan Real Madrid menunjuk Xabi Alonso sebagai pelatih kepala tim utama merupakan langkah yang sangat logis dan penuh makna. Mantan gelandang berusia 43 tahun ini kembali ke klub yang sudah menjadi bagian dari hidupnya selama bertahun-tahun.

Alonso bukanlah sosok asing di Santiago Bernabeu, mengingat ia pernah berseragam Los Blancos selama lima musim dari 2009 hingga 2014. Selama periode tersebut, ia tampil dalam 236 pertandingan dan membantu Madrid meraih trofi Champions League, La Liga, dan dua Copa del Rey.

Perjalanan karier Alonso yang terencana dengan matang akhirnya membuahkan hasil sempurna. Pengalamannya sebagai pemain top, ditambah dengan proses pembelajaran sebagai pelatih muda di berbagai level, membuatnya siap menghadapi tantangan besar di Real Madrid.


Jejak Karier Sebagai Pemain Galactico

Gelandang Bayern Munchen, Xabi Alonso, mengomentari karakteristik pelatih Jose Mourinho, Pep Guardiola, dan Carlo Ancelotti. (EPA/Peter Powell)

Kedatangan Alonso ke Madrid pada musim panas 2009 menjadi bagian dari revolusi galactico kedua era Florentino Perez.

Transfer senilai 35 juta euro dari Liverpool membuatnya bergabung dengan bintang-bintang seperti Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan Kaka. Misi utama mereka adalah mengalahkan dominasi Barcelona yang dipimpin Pep Guardiola.

Di bawah Jose Mourinho, Alonso menjadi pilar penting lini tengah Madrid yang berhasil mematahkan hegemoni Barcelona. Puncaknya terjadi pada musim 2011/2012 ketika Los Blancos meraih La Liga dengan rekor 100 poin dan 121 gol. Kontribusi Alonso dalam sistem permainan Mourinho sangat krusial untuk kesuksesan tersebut.

Kesetiaan Alonso kepada Mourinho bahkan bertahan hingga masa-masa sulit ketika pelatih Portugal tersebut berseteru dengan beberapa pemain senior. Sementara Iker Casillas dan Sergio Ramos memberontak, Alonso tetap menjadi "tentara" loyal bersama Alvaro Arbeloa.


Era Carlo Ancelotti dan La Decima

Real Madrid menjadi juara Liga Champions musim 2013/2014 setelah menang dramatis 4-1 atas rival sekota Atletico Madrid melalui perpanjangan waktu di Estadio da Luz, Lisbon, Portugal, Minggu (25/5/2014) dinihari WIB (AFP PHOTO/FRANCK FIFE).

Transisi dari era Mourinho ke Carlo Ancelotti membawa angin segar bagi Madrid, termasuk Alonso. Pendekatan yang lebih diplomatis dari pelatih Italia tersebut berhasil menyatukan kembali ruang ganti yang sempat terpecah. Alonso kembali menjadi kunci sukses Madrid dalam meraih trofi-trofi penting.

Musim 2013/2014 menjadi puncak karier Alonso bersama Madrid ketika mereka berhasil meraih La Decima. Meski absen di final Champions League melawan Atletico Madrid karena skorsing, kontribusinya sepanjang turnamen tidak terlupakan. Momen ketika ia berlari menuruni pinggir lapangan dengan setelan jas untuk merayakan gol Gareth Bale menjadi ikonik.

Lanjut Baca:

Keputusan mengejutkan datang pada Agustus 2014 ketika Alonso memilih bergabung dengan Bayern Munchen. Meski sudah memperpanjang kontrak pada Januari sebelumnya, ia merasa butuh tantangan baru untuk mempertahankan performa terbaiknya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya