Liputan6.com, Jakarta Salah satu catatan menarik datang dari Nadia Mulya yang pekan ini memandu talk show bertema “16 Years of Evolving Style” di Grand Indonesia Jakarta Pusat. Sebelum gelar wicara dimulai, ada fashion dance show.
Peragaan busana energik dan penuh warna ini merepresentasikan evolusi tren fashion masyarakat Indonesia dari masa ke masa dalam 16 tahun terakhir. Nadia Mulya mengakui, belasan tahun terakhir wajah mode dan teknologi berubah.
Advertisement
Perkembangan mode dan teknologi saling memengaruhi. Salah satunya, belanja baju tak lagi harus ke mal. Lokapasar alias e-commerce memungkinkan para pencinta mode belanja dari ponsel pintar lalu baju yang diincar diantar ke rumah.
“Aku mungkin termasuk orang konvensional. Mungkin karena usia, tapi aku lebih senang belanja itu ada experience-nya. Karena beberapa kali aku belanja online, even dari brand-brand yang ada di mal itu enggak sesuai harapan,” katanya, lalu menyinggung mal sebagai tempat healing.
Gqaya Hidup dan Era Digital
Dalam wawancara eksklusif dengan Showbiz Liputan6.com seusai talk show, Nadia Mulya menyatakan kadang ukuran, warna, dan bentuk yang tampak di etalasi online shop tak sesuai dengan baju yang dikirim ke rumah. Lain halnya dengan belanja di mal.
“Kontak dengan penjual, minta pendapat ke orang lain, itu pengalaman utuh. Bagi yang sibuk, ke mal itu bikin bahagia. Walaupun hanya makan bareng, belanja bulanan, menurut aku gaya hidupnya orang Indonesia itu sangat dekat dengan pusat perbelanjaan,” urainya.
Berkaca pada pengalaman, Nadia Mulya kini punya anak yang beranjak dewasa. Mereka ke mal bukan untuk belanja tapi belajar alias nugas. Mulanya, Nadia Mulya heran mendapati fenomena ini. Perlahan ia paham, ini bagian dari pergeseran gaya hidup.
“Bahkan anak-anak saya yang mulai besar, mereka kalau lagi mau belajar, ke mal. Saya sering bilang WiFi di rumah kencang, makanan juga ada. Tapi mereka pergi ke mal, belajar dulu bawa laptop, cari WiFi, Beli matcha bareng teman-teman,” ujar Nadia Mulya.
Human Connection dan Experience
Karenanya, ia yakin mal mampu bertahan meski era digital telah menjadi bagian hidup masyarakat dunia termasuk Indonesia. Pandemi Covid-19 telah mengenalkan masyarakat dengan ruang pertemuan dalam format daring alias digital.