Indonesia Miliki Bahan Baku Obat Alami Berlimpah tapi Kekurangan Ahli Botani

Kekurangan ahli botani bikin pengembangan obat bahan alam belum optimal. Lalu, apa yang perlu dilakukan?

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 24 Mei 2025, 13:30 WIB
Pemanfaatan Biodiversitas untuk Obat Herbal Perlu Didukung Regulasi dan Teknologi Modern. Foto: AI by deepai.org.

Liputan6.com, Jakarta Indonesia memiliki keanekaragaman tanaman yang potensial dijadikan bahan baku obat alami maupun obat sintetis.  

Tercatat lebih 20.000 spesies tumbuhan yang sudah teridentifikasi dan 200 spesies yang sudah dimanfaatkan dengan baik. Sayangnya, minimnya ahli botani dan farmakognosi (cabang ilmu farmasi yang mempelajari tentang bahan alami) menyebabkan identifikasi dan pengembangan bahan obat alami belum optimal.

Hal ini disampaikan dosen Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Yosi Bayu Murti, M.Si.

Menurut Bayu, banyak ragam tumbuhan di Indonesia yang belum diidentifikasi dan eksplorasi lebih lanjut padahal memiliki potensi sebagai bahan baku obat.

Di sisi lain, Indonesia dihadapkan pada tantangan menurunnya industri manufaktur dari bahan baku tumbuhan, ekstrak, produk sediaan.

“Bagaimanapun bahan bakunya dari tumbuhan namun kita memiliki tantangan pada industrinya,” kata Bayu dalam kuliah umum yang disiarkan di YouTube Kanal Pengetahuan Farmasi UGM, Selasa (20/05/2025).

Untuk bahan baku jamu, sambungnya, perusahaan jamu juga dihadapkan pada persoalan proses produksi yang bergantung dengan musim.

“Kondisi saat ini bahan baku sulit karena mereka tidak masuk pada fase metabolisme yang tinggi karena masih fase hujan. Kemudian yang terakhir, kualitas bahan baku masih rendah,” tuturnya.

Dia menambahkan, tanaman obat yang bisa digunakan sebagai bahan baku jamu, perlu juga didorong untuk bertransformasi memproduksi obat modern. Kendati untuk ke arah itu, membutuhkan proses yang panjang. Pasalnya diperlukan penyediaan bahan baku berkualitas, dan sertifikasi bahan baku Obat Bahan Alam (OBA) terstandar.

 

Bagaimana Cara Dukung Pemanfaat Obat Bahan Alam?

Untuk mendorong pemanfaatan OBA ini, lanjut Bayu, diperlukan perubahan regulasi kebijakan yang memudahkan pengembangan OBA di kalangan dokter dan apoteker dan dapat bekerja sama antar pihak terkait.

Selanjutnya, menjalin kesepahaman antara penelitian OBA dan industri, pemahaman penerapan standarisasi dari hulu ke hilir, dan terakhir sebaiknya ada kesepahaman antara peneliti dengan regulasi OBA,” tuturnya.

Bayu melihat adanya pertumbuhan pasar OBA, hingga pertengahan 2024, nilai produksi mencapai Rp3 triliun, hal ini menunjukkan pertumbuhan yang pesat dalam industri.

Pangsa pasar OBA tahun 2023 mencapai 7-10 persen total pasar obat nasional. Bahkan, nilai ekspor pada bulan Januari sampai September 2024, mencapai 639,42 juta dolar AS.

“Data ini mencerminkan ekspansi tinggi dalam industri ini,” ujar Bayu.

 

Tantangan Transformasi OBA Jadi Obat Modern

Dalam kesempatan yang sama, peneliti Etnofarmakologi dan Farmakognosi dari University College London, Michael Heinrich, menyebutkan beberapa tantangan dalam melakukan transformasi OBA menjadi obat modern. Yakni proses jalur penemuan obat cukup lama dan panjang.

Bahkan waktu dan upaya riset dari awal hingga produk akhir dinilai terlalu lama bahkan memakan biaya yang tidak sedikit.

“Ekstrak sebagai bahan aktif menimbulkan tantangan unik dan produktivitas menjadi masalah dibanding bahan senyawa sintetis. Protokol Nagoya dan peraturan terkait sangat ketat. Di sisi lain, terlalu rumit dalam hal disiplin ilmu yang terlibat. ” katanya.

Selain itu, pengembangan OBA juga dihadapkan pada kurangnya ahli-ahli botani dan farmakognosi. Ditambah adanya aturan yang menjadikan ekstrak obat bahan alami sulit disetujui sebagai obat. “Dapat disiasati melalui produk suplemen makanan dan obat-obatan alami (jamu),” pungkasnya.

Infografis Tanaman Sayuran yang Cocok Ditanam di Lahan Sempit. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya