Angeun Lada, Warisan Kuliner Sunda Menggugah Selera dan Sarat Makna Budaya

Keunikan Angeun Lada tidak hanya terletak pada bahan dan bumbunya, tetapi juga pada proses memasaknya yang masih mempertahankan teknik tradisional

oleh Panji PrayitnoDiterbitkan 27 Mei 2025, 07:00 WIB
Angeun Lada, kuliner khas Kabupaten Lebak, Banteng. (dok. Instagram @sumarnizaldy20/https://www.instagram.com/p/CRi7BItFszl/)

Liputan6.com, Jakarta - Angeun Lada adalah salah satu kuliner tradisional Sunda, khususnya dari wilayah Banten Selatan dan Lebak, yang memegang tempat istimewa dalam khazanah kuliner Nusantara.

Hidangan ini merupakan semacam sayur berkuah pedas yang terbuat dari bahan utama daging sapi atau kadang-kadang digantikan dengan ikan air tawar seperti ikan mas, mujair, atau bahkan gabus, tergantung ketersediaan lokal. Nama Angeun sendiri berarti sayur dalam bahasa Sunda, sedangkan Lada merujuk pada rasa pedas yang menjadi ciri khas utama dari Kuliner Banten ini.

Kombinasi dari bumbu-bumbu rempah yang khas seperti daun salam koja (daun kari), serai, lengkuas, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, dan rempah-rempah lokal lainnya menjadikan Angeun Lada tidak hanya sekadar makanan, melainkan juga representasi dari kekayaan alam dan budaya yang dimiliki masyarakat Sunda.

Keunikan Angeun Lada tidak hanya terletak pada bahan dan bumbunya, tetapi juga pada proses memasaknya yang masih mempertahankan teknik tradisional yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi. Biasanya, proses memasaknya dilakukan dalam kuali besar, terutama jika disajikan dalam acara adat atau perayaan masyarakat seperti khitanan, syukuran, atau pesta panen.

Proses ini menuntut kesabaran dan ketelitian agar bumbu benar-benar meresap ke dalam daging, dan kuah yang dihasilkan menjadi pekat serta kaya rasa. Aroma yang menguar dari paduan daun salam koja dan serai yang direbus dalam waktu lama menimbulkan sensasi khas yang sulit dilupakan oleh siapa pun yang pernah mencicipinya.

Tidak jarang, kuah pedas dan gurih Angeun Lada menjadi pelengkap nasi hangat yang begitu sempurna sehingga menciptakan perpaduan rasa yang menggugah selera.Angeun Lada juga memiliki dimensi sosial yang kuat dalam kehidupan masyarakat Sunda.

Di banyak daerah, hidangan ini sering dianggap sebagai simbol kebersamaan, keramahtamahan, dan penghormatan terhadap tamu. Hal ini bisa dilihat dari tradisi penyajian Angeun Lada dalam acara kumpul keluarga besar atau saat menyambut tamu penting.

Dalam budaya lokal, menyajikan Angeun Lada kepada tamu dianggap sebagai bentuk penghargaan dan niat baik yang tulus. Bahkan, tidak sedikit yang meyakini bahwa kehadiran Angeun Lada di meja makan membawa berkah dan rezeki, mengingat proses pembuatannya yang menyatukan banyak unsur dari waktu, tenaga, kebersamaan, dan cita rasa.

Identitas Budaya

Bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan, momen memasak Angeun Lada secara gotong royong menjadi kegiatan yang memperkuat solidaritas dan mempererat tali persaudaraan. Dari sudut pandang kuliner modern, Angeun Lada menawarkan potensi besar sebagai salah satu kekayaan gastronomi yang bisa diangkat ke panggung nasional bahkan internasional.

Cita rasanya yang kuat, berani, namun tetap seimbang dan hangat sangat cocok dengan selera konsumen masa kini yang cenderung mencari makanan otentik dengan karakter lokal yang kental. Bahkan, tren masakan pedas yang sedang mendunia bisa menjadi pintu masuk bagi Angeun Lada untuk dikenal lebih luas.

Saat ini sudah mulai bermunculan rumah makan dan warung tradisional yang menghadirkan Angeun Lada sebagai menu utama mereka, tidak hanya di Banten atau Jawa Barat, tetapi juga di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung.

Namun demikian, masih dibutuhkan upaya lebih besar untuk mengangkat nilai kuliner ini, termasuk melalui promosi budaya, festival makanan, dan dukungan dari pelaku industri kuliner agar Angeun Lada tidak hanya bertahan, tapi juga tumbuh dan berkembang seiring dengan perubahan zaman.

Angeun lada menjadi salah satu warisan leluhur yang menyimpan kisah panjang tentang alam, budaya, kebersamaan, dan rasa cinta terhadap tradisi. Di setiap sendok kuahnya yang hangat dan pedas, tersimpan narasi kehidupan masyarakat Sunda yang begitu kaya dan mendalam.

Maka dari itu, menjaga keberadaan Angeun Lada tidak hanya penting dalam konteks kuliner, tetapi juga dalam pelestarian identitas budaya bangsa. Kita tidak hanya makan untuk kenyang, tetapi juga untuk mengenang, menghargai, dan mewariskan sesuatu yang bernilai bagi generasi mendatang.

 

Penulis: Belvana Fasya Saad

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya