Final Liga Europa di San Mames: Amorim Tertekan, MU Tak Boleh Gagal Lagi

Manchester United menghadapi momen paling krusial dalam satu dekade terakhir. Final Liga Europa melawan Tottenham bukan sekadar pertandingan, tapi penentu arah klub yang terus terombang-ambing beberapa tahun terakhir.

oleh Richard Andreas LuturmasDiperbarui 21 Mei 2025, 11:23 WIB
Pelatih Ruben Amorim yang didatangkan untuk menggantikan posisi Erik ten Hag pada November 2024 lalu gagal memperbaiki performa The Red Devils di kancah domestik. (Oli SCARFF/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Manchester United menghadapi momen paling krusial dalam satu dekade terakhir. Final Liga Europa melawan Tottenham bukan sekadar pertandingan, tapi penentu arah klub yang terus terombang-ambing beberapa tahun terakhir.

Bagi Ruben Amorim, kesempatan ini lebih dari sekadar trofi. Menelan kekalahan bisa mengubah persepsi sepanjang musim dan mempertanyakan masa depannya di Old Trafford.

Meski begitu, sang pelatih justru melihat lebih jauh dari sekadar satu malam di Bilbao. Bagi Amorim, MU harus kembali ke Liga Champions. Menjuarai Liga Europa adalah satu-satunya kesempatan MU untuk itu.

Kamis 22 Mei 2025, pertandingan Tottenham vs Man United akan dimainkan di San Mames, Bilbao. Ini adalah laga terpenting Setan Merah dalam beberapa tahun terakhir.


Amorim dan Tekanan: Juara atau Kecewa

Pelatih Manchester United, Ruben Amorim, memberi isyarat di samping Mason Mount saat pertandingan semifinal leg kedua Liga Europa antara Manchester United dan Athletic Bilbao, Kamis, 8 Mei 2025. (AP Photo/Dave Thompson)

Sejak babak 16 besar, Ruben Amorim konsisten menyatakan bahwa Liga Europa bukan penyelamat musim MU. "Kami punya masalah lebih besar," ujarnya setelah kekalahan dari West Ham. Padahal, fans menganggap final ini sebagai penebus kegagalan di Premier League.

Pelatih asal Portugal itu justru melihat Liga Champions sebagai pisau bermata dua. Menurutnya, timnya belum siap bersaing di dua medan pertarunngan dan mungkin lebih baik tanpa kompetisi Eropa musim depan. Namun, setelah hanya meraih 2 poin dari 8 laga terakhir, argumennya sulit diterima.

Amorim membutuhkan waktu lebih untuk membangun tim di Carrington. Tanpa gangguan kompetisi Eropa, ia bisa fokus pada perkembangan taktis seperti yang terjadi pada Liverpool 2016/2017. Masalahnya, apakah manajemen INEOS akan sabar?


Dampak Trofi bagi Masa Depan MU

Manchester United berhasil meraih kemenangan 4-1 atas Athletic Bilabo pada laga leg kedua semifinal Liga Europa musim ini di Old Trafford, Jumat (9/5/2025) dini hari WIB. Hasil itu membuat MU melenggang ke final dengan agregat 7-1. (AP Photo/Dave Thompson )

Kemenangan di final UEL akan membawa MU kembali ke Liga Champions. Berarti MU akan megantongi dana tambahan sebesar 50 juta pounds dan meningkatkan daya tarik bagi pemain top seperti Jarrad Branthwaite atau Joshua Kimmich.

Persoalannya, Amorim justru khawatir dengan tekanan yang datang bersamanya. Sir Jim Ratcliffe sejauh ini mendukung penuh Amorim. Namun, seperti kasus Dan Ashworth, kesabaran Ratcliffe bisa berubah cepat. Trofi Liga Europa mungkin menjadi "tameng" bagi pelatih jika performa liga tetap buruk musim depan.

Sejarah menunjukkan klub bisa bangkit tanpa Eropa (Chelsea 2016/2017 juara liga), tapi juga bisa stagnan (Arsenal 2021/2022). Amorim perlu membuktikan bahwa visinya layak dipercaya, dan trofi adalah bukti nyata pertama.

Lanjut Baca:

MU akan menghadapi Spurs yang lebih segar secara fisik. Ange Postecoglou sengaja merotasi tim di akhir musim untuk fokus pada final ini. Sementara MU masih bergantung pada Bruno Fernandes yang tampak kelelahan. Taktik pressing tinggi Amorim bisa menjadi bumerang menghadapi serangan balik cepat Son Heung-min. Kabar buruknya, Lisandro Martinez masih cedera dan Harry Maguire belum fit 100%. Kunci kemenangan ada di lini tengah. Kobbie Mainoo harus mampu menekan James Maddison, sementara Alejandro Garnacho perlu mengisolasi Pedro Porro yang kerap maju membantu serangan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya