Perpisahan Kevin De Bruyne: Malam Haru di Bawah Langit Manchester Biru

Usai laga, De Bruyne kembali ke lapangan bersama istrinya, Michele, dan tiga anaknya. Di hadapan para pemain, staf, dan ribuan pendukung, da mendapat penghormatan.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 21 Mei 2025, 09:46 WIB
Kevin De Bruyne dari Manchester City berjalan di lapangan bersama keluarganya setelah pertandingan kandang terakhirnya dalam laga Premier League antara Manchester City dan Bournemouth di Etihad Stadium, Selasa, 20 Mei 2025. (AP Photo/Dave Thompson)

Liputan6.com, Jakarta Selasa malam itu, langit Manchester menjadi saksi perpisahan yang penuh haru. Kevin De Bruyne, sang jenderal lapangan tengah Manchester City, menutup babak sepuluh tahun pengabdiannya di Etihad Stadium. Tangis dan tepuk tangan mengiringi langkah terakhirnya sebagai bagian dari pasukan Josep Guardiola.

Meski tak menambah koleksi 72 golnya di Premier League, De Bruyne tetap ambil bagian dalam kemenangan 3-1 City atas Bournemouth. Dia harus keluar lebih awal akibat pergantian taktis pasca-kartu merah Mateo Kovacic. Namun, tepuk tangan bergemuruh menyambutnya—dari bangku cadangan hingga tribune yang penuh cinta.

Usai laga, De Bruyne kembali ke lapangan bersama istrinya, Michele, dan tiga anaknya. Di hadapan para pemain, staf, dan ribuan pendukung, da mendapat penghormatan. Sebuah montase kenangan diputar, namanya dielu-elukan, dan air mata pun tak tertahan.


Malamnya King Kev

Gelandang Manchester City, Kevin De Bruyne melambaikan tangan kepada para pendukung saat ia meninggalkan lapangan di akhir pertandingan terakhirnya bersama The Citizens selama pertandingan sepak bola Liga Premier Inggris 2024/2025 melawan Bournemouth di Stadion Etihad, Manchester, Inggris, pada 20 Mei 2025. (Paul ELLIS/AFP)

Di malam ketika 'The Boss' Bruce Springsteen tampil di arena sebelah, 'The King' Kevin De Bruyne mengucapkan selamat tinggal. Wajahnya menghiasi stadion—di poster, di syal, di kaus, bahkan di program pertandingan, lengkap dengan mahkota dari trofi Premier League di kepalanya. Tak ada tiket yang lebih berharga malam itu.

City telah mempersiapkan segalanya. Mereka memberi nama jalan di akademi atas nama De Bruyne dan meresmikan mozaik khusus untuknya. Di Northern Quarter, mural raksasa dirinya berdiri megah—simbol seni dari seorang playmaker yang memahat sejarah dengan umpan-umpan magis.

Tiupan lagu 'Seven Nation Army' mengiringi nyanyian "Ohh Kevin De Bruyne" dari para suporter. Setiap sentuhan kakinya disambut antisipasi, berharap satu gol atau satu assist terakhir. Namun, momen emas itu justru meleset—bola yang tinggal disentuh justru membentur mistar. De Bruyne memegangi kepalanya, begitu juga Rodri dan para fans. Akhir yang tak sempurna, tapi tetap mengharukan.


Pidato yang Menyentuh dan Patung Abadi De Bruyne

Kevin De Bruyne juga berperan penting membawa Manchester City meraih treble di musim 2022/2023. (Paul ELLIS/AFP)

Setelah peluit akhir, montase sepuluh tahun kejayaan ditayangkan. Dari Aguero, Kompany, Sterling, hingga Zabaleta, semua menyampaikan salam perpisahan. Di tengah lapangan, Kevin berdiri bersama keluarganya, lalu diberi mikrofon. Dia mencoba berbicara, tapi emosinya menguasai.

"Saya sangat emosional," ucap De Bruyne, dikutip dari BBC Sport. "Memiliki patung berarti saya akan selalu menjadi bagian dari klub ini. Saya akan kembali dan melihat diri saya berdiri di sana. Saya akan selalu ada di sini."

Lanjut Baca:

"Manchester adalah rumah. Di sinilah anak-anak saya lahir." lanjutnya. "Saya datang ke sini bersama istri saya untuk tinggal lama, tapi tak menyangka bisa sampai sepuluh tahun. Kami telah menangkan segalanya, kami membuat klub ini lebih besar, dan sekarang waktunya mereka meneruskan." Di sisi lapangan, Guardiola tak kuasa menahan air mata. Fans pun tak henti bernyanyi: “We want you to stay, Kevin De Bruyne, we want you to stay.” Namun sang raja telah memutuskan, menyelesaikan putaran perpisahan sebelum berjalan ke terowongan untuk terakhir kalinya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya