Jurus BEI Dongkrak Daya Saing Saham Indonesia Agar Kembali Dilirik MSCI

Salah satu kendala yang membuat saham Indonesia tak kunjung menonjol di indeks global seperti MSCI adalah minimnya saham yang beredar di publik atau free float.

oleh Pipit Ika RamadhaniDiperbarui 20 Mei 2025, 19:25 WIB
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) tak tinggal diam menghadapi tantangan agar saham-saham Indonesia kembali diperhitungkan dalam indeks global seperti MSCI. Sejumlah strategi tengah disiapkan, mulai dari mendorong free float yang lebih besar, menyesuaikan aturan IPO, hingga menargetkan hadirnya lebih banyak emiten raksasa di lantai bursa.

Salah satu kendala yang kerap membuat saham Indonesia tak kunjung menonjol di indeks global seperti MSCI adalah minimnya saham yang beredar di publik atau free float. BEI menilai bahwa keterbatasan ini mengurangi daya tarik saham RI, terutama bagi investor institusional global yang mencari likuiditas tinggi dan stabil.

Meski ukuran emisi dalam IPO bukan satu-satunya faktor sukses, struktur kepemilikan saham yang terbuka dinilai penting untuk memperkuat pasar sekunder. Semakin besar free float, semakin besar pula peluang saham tersebut dilirik indeks global.

“BEI mendorong semakin banyak perusahaan untuk memiliki kecukupan free float yang memadai dan disertai likuiditas yang attractive di pasar sekunder,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, dikutip Selasa (20/5/2025).

 

BEI Siapkan Aturan Baru demi Tarik Investor Global

BEI sempat menghentikan sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit pada Selasa (8/4/2025). (BAY ISMOYO/AFP)

Menghadapi dinamika pasar dan meningkatnya tuntutan kualitas, BEI tengah mengkaji pembaruan aturan pencatatan saham. Fokus utama adalah memperkuat regulasi terkait free float saat dan setelah IPO agar likuiditas saham tercatat makin terjamin.

Pendekatan yang diambil BEI bersifat adaptif namun tetap menjaga kualitas. Evaluasi dilakukan melalui benchmarking terhadap bursa global, konsultasi dengan pelaku pasar, hingga riset internal, demi memastikan bahwa aturan yang dibuat sesuai dengan arah perkembangan pasar modal dunia.

“Konsep perubahan ini akan kami publikasikan dalam waktu dekat untuk mendapatkan masukan dari para pemangku kepentingan, sebelum diajukan kepada otoritas untuk mendapatkan persetujuan,” kata Nyoman.

 

Perluasan Basis Emiten Besar Jadi Jurus BEI

Pialang memeriksa kacamata saat tengah mengecek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (9/9/2021). IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup menguat 42,2 poin atau 0,7 persen ke posisi 6.068,22 dipicu aksi beli oleh investor asing. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

BEI juga memprioritaskan langkah strategis dengan mengajak lebih banyak perusahaan besar untuk melantai di bursa. Tujuannya bukan sekadar menambah jumlah emiten, tetapi juga memperkuat struktur dan skala pasar modal Indonesia agar makin kompetitif di mata dunia.

Melalui kajian yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, BEI berupaya memahami hambatan serta kebutuhan perusahaan besar untuk melakukan IPO. Di sisi lain, mereka aktif memfasilitasi pendampingan dalam bentuk coaching clinic, diskusi satu-satu, hingga forum jejaring untuk mempercepat proses IPO.

“BEI terus mendorong perusahaan dengan skala dan potensi pertumbuhan yang tinggi untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang,” jelas Nyoman.

 

Target IPO Lighthouse: Amunisi Baru Gaet MSCI

Pekerja melintas di layar IHSG di BEI, Jakarta, Rabu (4/3/2020). IHSG kembali ditutup Melesat ke 5.650, IHSG menutup perdagangan menguat signifikan dalam dua hari ini setelah diterpa badai corona di hari pertama pengumuman positifnya wabah corona di Indonesia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Untuk mempertegas komitmen, BEI menetapkan target lighthouse IPO, yaitu IPO dengan kapitalisasi pasar di atas Rp3 triliun dan free float minimal 15%.

Strategi ini ditujukan untuk menghadirkan emiten berkualitas tinggi yang bisa langsung menarik perhatian investor global maupun indeks seperti MSCI. Tiga perusahaan telah mencatatkan diri dalam kategori ini pada 2025: RATU, CBDK, dan YUPI. BEI menargetkan dua IPO lighthouse tambahan agar totalnya menjadi lima hingga akhir tahun.

Pada saat yang sama, bursa juga terus mengkaji ulang syarat keuangan dan free float minimum agar makin sesuai dengan kebutuhan pasar. “Kami menetapkan target pada 2025 sebanyak lima IPO lighthouse dan saat ini telah tercatat tiga yakni RATU, CBDK dan YUPI,” ujar Nyoman.

 

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya